Jejak Rachmat Gobel, Pendiri Panasonic Gobel

Dunia industri dan politik Tanah Air tengah berduka. Kabar duka datang dari Rumah Sakit Brawijaya, Tebet, Jakarta Selatan, pada dini hari tadi. Rachmat Gobel, tokoh yang namanya lekat dengan raksasa e...

Jul 12, 2026 - 05:35
0 0

Dunia industri dan politik Tanah Air tengah berduka. Kabar duka datang dari Rumah Sakit Brawijaya, Tebet, Jakarta Selatan, pada dini hari tadi. Rachmat Gobel, tokoh yang namanya lekat dengan raksasa elektronik Panasonic Gobel, mengembuskan napas terakhirnya di usia 63 tahun. Tepat pada pukul 03.20 WIB, sosok yang mewarisi dan membesarkan konglomerasi berbasis teknologi itu berpulang, meninggalkan jejak panjang yang merentang dari pabrik trafo kecil hingga panggung kabinet pemerintahan.

Akhir Hayat Sang Maestro Industri Elektronik

Kepergian Rachmat Gobel terjadi setelah ia menjalani perawatan intensif. Pihak keluarga dan kerabat dekat langsung berdatangan ke rumah sakit begitu mendengar kabar ini. Suasana duka menyelimuti Tebet dan segera menyebar ke berbagai kalangan, dari rekan bisnis, politisi, hingga para pekerja yang selama ini merasakan langsung sentuhan tangannya. Kehilangan ini bukan sekadar duka personal, melainkan duka bagi lanskap industri nasional yang kehilangan salah satu ikon transformatifnya.

Rachmat bukanlah pendiri generasi pertama dari imperium Gobel. Namun, dialah yang membawa perusahaan warisan ayahnya, Thayeb Mohammad Gobel, melompat dari sekadar perakit radio transistor menjadi pemain utama dalam rantai pasok elektronik global. Di bawah arahannya, Gobel Group tidak hanya memproduksi perangkat elektronik konsumen, tetapi juga mengembangkan komponen otomotif, logistik, dan sektor pangan—semuanya berlandaskan kemitraan strategis dengan korporasi multinasional.

Dari Trafo Kecil Menuju Kemitraan Global

Kisah keluarga Gobel bermula pada 1954, ketika Thayeb mendirikan PT Gobel di sebuah garasi sederhana di Jakarta. Mereka memproduksi trafo dan radio dengan merek Tjawang. Rachmat lahir pada 3 September 1962, tumbuh bersamaan dengan denyut pabrik sang ayah. Setelah menimba ilmu di Jepang—negeri yang kelak menjadi mitra terbesarnya—Rachmat kembali dan mulai mengambil alih kendali operasional. Ia paham betul bahwa untuk bertahan, perusahaan lokal harus berani berkolaborasi dengan pemain global.

Kemitraan dengan Matsushita Electric Industrial Co., Ltd. (kini Panasonic Corporation) yang dirintis ayahnya, ia teruskan dan perluas. Pada 1990-an, saat perusahaan keluarga bertransformasi menjadi PT Panasonic Gobel Indonesia, Rachmat berada di garis depan. Ia tidak hanya memperkuat lini produksi televisi dan audio, tetapi juga mendorong alih teknologi dan pengembangan sumber daya manusia. Keyakinannya bahwa Indonesia harus menjadi basis produksi, bukan sekadar pasar, menjadi kompas bisnisnya. Di bawah kepemimpinannya, pabrik-pabrik Panasonic Gobel menyerap ribuan tenaga kerja dan menjadikan produk berlabel "Made in Indonesia" menembus pasar ekspor.

Kiprah di Kancah Politik dan Pemerintahan

Pada 2014, Rachmat Gobel mengejutkan banyak pihak ketika ia ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Perdagangan dalam Kabinet Kerja. Langkah seorang konglomerat masuk kabinet memicu beragam spekulasi, namun Rachmat menjawabnya dengan kebijakan yang tegas namun terukur. Ia dikenal sebagai menteri yang getol mendorong hilirisasi dan proteksi industri dalam negeri. Salah satu kebijakan kontroversialnya adalah pembatasan impor barang tertentu dan pengaturan tata niaga demi melindungi produsen lokal.

Di sisi lain, masa jabatannya tidak berlangsung lama. Pada perombakan kabinet 2015, ia digantikan. Meski singkat, periode itu menegaskan visinya: bahwa kekuatan ekonomi nasional harus dibangun di atas fondasi industri yang kokoh, bukan semata-mata konsumsi. Setelah tak lagi di kabinet, Rachmat kembali ke dunia parlemen sebagai anggota DPR RI. Di Senayan, ia terus menyuarakan kepentingan sektor riil dan memperjuangkan regulasi yang ramah bagi investasi dan inovasi.

Warisan dan Duka yang Ditinggalkan

Kepergian Rachmat Gobel menyisakan pertanyaan tentang masa depan Gobel Group, namun warisannya sudah terpatri jauh melampaui urusan saham dan aset. Ia mewariskan pola pikir bahwa kolaborasi global bukan berarti menyerahkan kedaulatan ekonomi. Perusahaannya adalah bukti hidup bahwa perusahaan lokal bisa berdiri sejajar dengan raksasa multinasional tanpa kehilangan identitas.

Selain itu, dedikasinya terhadap pendidikan vokasi dan pelatihan tenaga kerja menjadi bagian dari legacy yang jarang tersorot. Gobel mendirikan berbagai pusat pelatihan teknik yang bekerja sama dengan institusi Jepang, menghasilkan teknisi andal yang kini tersebar di berbagai sektor industri. Rekam jejak ini menggambarkan seorang figur yang tidak hanya memburu profit, tetapi juga membangun kapasitas manusia Indonesia.

Kepergian di usia 63 tahun ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, dan segenap pihak yang pernah berinteraksi dengannya. Hingga berita ini diturunkan, rencana pemakaman masih dikoordinasikan. Namun yang pasti, nama Rachmat Gobel akan selalu dikenang sebagai pilar utama yang mengawinkan ketangguhan industri lokal dengan standar teknologi global. Selamat jalan, Pak Rachmat, warismu akan terus menyala.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User