Sep 14, 2026
Hukum

JAKARTA — Studi Ungkap Mobil Listrik Lebih Rentan Memicu Mabuk Perjalanan

Di tengah gelombang transisi global menuju kendaraan ramah lingkungan, sebuah fenomena medis yang tidak terduga mulai menyita perhatian para pengamat otomo

JAKARTA — Studi Ungkap Mobil Listrik Lebih Rentan Memicu Mabuk Perjalanan

Di tengah gelombang transisi global menuju kendaraan ramah lingkungan, sebuah fenomena medis yang tidak terduga mulai menyita perhatian para pengamat otomotif dan pakar kesehatan. Banyak penumpang kendaraan listrik (EV) mengeluhkan gejala mual, pusing, hingga disorientasi yang jauh lebih intens dibandingkan saat mereka menumpang mobil bermesin pembakaran internal (ICE). Fenomena kinetosis atau mabuk perjalanan ini bukan sekadar sensasi subjektif, melainkan dampak nyata dari perubahan mekanis, kinetik, dan akustik yang radikal dalam arsitektur kendaraan modern. Beritadua.com melakukan penelusuran mendalam terkait bagaimana teknologi canggih yang dirancang untuk efisiensi energi ini justru memicu benturan sensorik pada tubuh manusia.

Mobil Listrik Bisa Bikin Mabuk Perjalanan? Ini Penyebabnya

Mekanisme Tersembunyi di Balik Mual Saat Naik Mobil Listrik

Penyelidikan neurologis menunjukkan bahwa pemicu utama gangguan ini terletak pada sistem penggerak dan pengereman kendaraan listrik. Berbeda dengan mobil konvensional yang memiliki jeda perpindahan gigi serta akselerasi bertahap, mobil listrik menyalurkan torsi secara 100 persen instan sejak pijakan pertama pada pedal gas. Perubahan percepatan mendadak ini menghasilkan gaya gravitasi (g-force) konstan yang mengocok cairan di dalam telinga tengah, yang merupakan organ penyeimbang utama manusia.

Masalah semakin memburuk akibat fitur pengereman regeneratif (regenerative braking). Ketika pengemudi melepas pedal gas, mobil listrik secara otomatis melakukan perlambatan drastis untuk menyerap kembali energi kinetik ke dalam baterai daya. Efek berkendara satu pedal (one-pedal driving) ini menciptakan gerakan maju-mundur secara mendadak yang sering kali tidak diantisipasi oleh sistem saraf penumpang.

"Ketika tubuh merasakan lonjakan akselerasi dan perlambatan yang cepat namun telinga tidak mendengar suara mesin yang selaras, terjadi ketidakcocokan sinyal neuro-sensorik. Otak menafsirkan ketidakcocokan ini sebagai gangguan beracun pada sistem tubuh, sehingga memicu refleks alami berupa rasa mual dan pusing," ujar Dr. Hendra Wijaya, seorang spesialis neuro-otologi yang meneliti dampak kinetosis kendaraan modern.

Selain faktor dinamika berkendara, keheningan kabin mobil listrik juga menjadi pedang bermata dua. Hilangnya getaran khas dan raungan mesin pembakaran justru menghilangkan petunjuk auditori yang biasanya digunakan otak untuk memperkirakan kecepatan. Situasi ini diperparah oleh desain interior modern yang didominasi oleh layar sentuh infotainment berukuran hingga 15 inci. Ketika mata penumpang terpaku pada layar digital sementara tubuh mengalami gerakan kinetik yang dinamis, konflik persepsi visual dan sistem vestibular semakin tidak terhindarkan.

Perbandingan Komponen Pemicu Mabuk Perjalanan

Berikut adalah perbandingan faktor mekanis dan lingkungan kabin yang membedakan tingkat risiko mabuk perjalanan antara mobil konvensional dan mobil listrik:

Faktor Kinetik & Sensorik Mobil Konvensional (ICE) Mobil Listrik (EV)
Akselerasi Torsi Bertahap (memiliki jeda transmisi) Instan dan sangat responsif
Karakter Pengereman Halus bergantung pada pedal rem Agresif akibat pengereman regeneratif
Akustik Kabin Suara mesin memberi sinyal gerak Sangat hening, membingungkan sensorik
Fokus Visual Interior Dasbor analog standar Didominasi layar monitor besar

Langkah Mitigasi Bagi Pengemudi dan Penumpang

Untuk menekan angka kejadian mabuk perjalanan tanpa mengorbankan kenyamanan berkendara, para ahli otomotif merekomendasikan sejumlah penyesuaian operasional yang dapat diterapkan secara langsung oleh pengguna kendaraan listrik:

  1. Menyesuaikan Tingkat Regenerative Braking: Pengemudi disarankan menurunkan pengaturan pengereman regeneratif ke tingkat paling rendah atau mode 'Low' saat membawa penumpang, guna menciptakan efek perlambatan yang lebih halus mirip mobil konvensional.
  2. Pengendalian Pedal yang Lebih Presisi: Pengemudi perlu melatih kontrol kaki agar tidak melepas atau menekan pedal akselerator secara mengejutkan, meminimalkan efek guncangan g-force secara berulang.
  3. Membatasi Penggunaan Layar Infotainment: Penumpang yang rentan mual dianjurkan untuk tidak menatap layar monitor besar atau telepon genggam saat mobil berjalan, dan sebaiknya mengarahkan pandangan lurus ke arah jalan raya.
  4. Menjaga Sirkulasi Udara Kabin: Memastikan suhu kabin tetap sejuk serta membuka sedikit sirkulasi udara luar dapat membantu meredakan ketegangan sistem saraf sensorik.

Pada akhirnya, kendati teknologi mobil listrik menawarkan efisiensi energi yang tinggi, tantangan ergonomi neuro-sensorik ini mendesak para produsen otomotif global untuk terus menyempurnakan sistem suspensi aktif berbasis kecerdasan buatan (AI suspension) dan perangkat lunak akselerasi agar lebih bersahabat dengan biologis manusia di masa depan.

Transisi ke kendaraan listrik menyisakan persoalan ergonomi kesehatan. Penyelidikan menunjukkan akselerasi torsi instan, fitur *regenerative braking*, dan keheningan kabin menjadi pemicu utama disorientasi sensorik otak. Simak analisis teknis dan langkah mitigasinya di Beritadua.com!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User