Suasana khidmat menyelimuti Auditorium Abdulrachman Saleh, Gedung LPP RRI Jakarta, pada Jumat (11/9/2026). Di tengah prosesi sakral penyulutan obor Tri Prasetya dalam memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Radio Republik Indonesia (RRI), keheningan yang berbeda menyergap seluruh angkasawan dan angkasawati. Peringatan yang seharusnya dipenuhi semangat selebrasi ini seketika berubah menjadi momen perenungan mendalam saat musibah hilangnya lima jurnalis di kawasan perairan Gunung Anak Krakatau mencuat ke permukaan.
Di hadapan ratusan insan pers dan tamu undangan, Ketua Dewan Pengawas LPP RRI, Anwar Mujahid Adhy Trisnanto, memimpin doa bersama untuk keselamatan para awak media, kapten kapal, serta anak buah kapal (ABK) yang hingga kini belum diketahui keberadaannya. Peristiwa hilangnya insan pers saat menjalankan tugas peliputan di wilayah berbahaya ini kembali mengetuk kesadaran publik mengenai besarnya risiko yang membayangi profesi jurnalistik.
Tragedi di Perairan Anak Krakatau dan Taruhan Nyawa Jurnalis
Wilayah perairan sekitar Gunung Anak Krakatau dikenal memiliki dinamika alam yang sangat ekstrem. Gelombang tinggi, cuaca yang sulit diprediksi, serta aktivitas vulkanik yang fluktuatif menjadikannya salah satu medan paling berbahaya bagi pelayaran, terlebih bagi tim peliput yang berupaya menyajikan informasi real-time kepada masyarakat luas.
Dalam sambutannya yang emosional, Anwar Trisnanto menegaskan bahwa dedikasi para jurnalis yang hilang tersebut merupakan cerminan nyata dari integritas profesi yang tidak pernah surut meski dihadang marabahaya di lapangan.
"Saya mengajak angkasawan-angkasawati seluruh Indonesia menundukkan kepala, memohon kepada Allah SWT keselamatan bagi kapten kapal, ABK, dan jurnalis," ujar Anwar dengan nada haru di hadapan peserta upacara.
Risiko Tinggi di Balik Tugas Mulia Pewarta
Investigasi di lapangan sering kali menuntut wartawan untuk berada di garis depan bencana maupun wilayah rawan musibah. Kasus hilangnya lima jurnalis di perairan Selat Sunda ini memperpanjang catatan kelam risiko keselamatan kerja pers. Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya evaluasi atas standar keselamatan operasional (SOP) peliputan di medan ekstrem.
Menurut Anwar, keberanian para jurnalis yang menembus bahaya demi mengabarkan realitas adalah bukti nyata kejujuran profesi. Pekerjaan mengabarkan kebenaran bukan sekadar profesi rutin, melainkan pengabdian publik yang sarat nilai kemanusiaan.
"Mereka menjadi contoh betapa pekerjaan seorang jurnalis penuh tantangan dan risiko, tetapi mulia. Mengejar sumber berita, memotret realitas, dan mewartakan hanya yang benar kepada masyarakat," ucap Anwar menegaskan.
Ia menambahkan bahwa di tengah derasnya arus disinformasi, keberadaan jurnalis yang bersedia turun langsung ke lapangan menjadi kian vital, meskipun nyawa sering kali menjadi taruhannya.
Refleksi HUT ke-81 RRI dan Komitmen Pelayanan Publik
Memasuki usia 81 tahun, LPP RRI tidak hanya dituntut untuk terus bertransformasi di era digital, tetapi juga harus tetap memperkokoh benteng perlindungan dan keselamatan bagi seluruh pekerjanya. Peringatan HUT kali ini ditegaskan sebagai momentum untuk memperkuat peran pers dalam mendukung program prioritas nasional, sekaligus mempererat solidaritas antar-insan media.
| Parameter Berita | Detail Informasi |
|---|---|
| Momentum Acara | Peringatan HUT ke-81 LPP RRI (11 September 2026) |
| Lokasi Kegiatan | Auditorium Abdulrachman Saleh, RRI Jakarta |
| Fokus Peristiwa | Doa bersama untuk 5 jurnalis, kapten, & ABK yang hilang |
| Lokasi Kejadian Hilang | Perairan Gunung Anak Krakatau |
Upaya pencarian dan penyelamatan terhadap lima jurnalis beserta awak kapal tersebut terus dipantau secara intensif. Insan pers di seluruh tanah air berharap ada titik terang dalam proses pencarian tersebut. Tragedi ini mempertegas pesan moral bahwa di balik setiap baris berita dan siaran yang dinikmati publik, ada perjuangan keras dan pengorbanan yang tak terhitung nilainya dari para jurnalis di lapangan.
Comments (0)