Jakarta — Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, SpPD-KAI, Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan pasca-pandemi, Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, SpPD-KAI, seorang pakar alergi imunologi klinis ter

Jul 10, 2026 - 21:32
0 0
Jakarta — Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, SpPD-KAI, Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan pasca-pandemi, Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, SpPD-KAI, seorang pakar alergi imunologi klinis terkemuka, menyampaikan pandangan komprehensifnya mengenai vaksin influenza. Dalam sebuah kesempatan diskusi kesehatan, ia menekankan bahwa influenza bukanlah sekadar "flu biasa" yang bisa diabaikan. Virus influenza memiliki tingkat mutasi yang tinggi, sehingga vaksinasi tahunan menjadi krusial, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan individu dengan komorbid. "Vaksin influenza adalah bentuk perlindungan paling efektif yang kita miliki saat ini untuk mencegah keparahan dan komplikasi akibat infeksi virus influenza," tegas Prof. Iris, menyoroti bahwa cakupan vaksinasi di Indonesia masih sangat rendah, yakni di bawah 5 persen dari total populasi. Angka ini kontras dengan kebutuhan riil di lapangan, di mana risiko wabah influenza musiman selalu ada dan dapat membebani sistem kesehatan.

Analisis: Memahami Influenza Lebih dari Sekadar Flu Musiman

Banyak masyarakat menganggap remeh influenza karena gejalanya yang kerap mirip dengan common cold (pilek biasa). Namun, Prof. Iris menjelaskan bahwa influenza dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, peradangan otot jantung (miokarditis), hingga kematian, terutama pada populasi berisiko tinggi. Data global menunjukkan bahwa setiap tahunnya, influenza menyebabkan sekitar 3 hingga 5 juta kasus penyakit parah dan 290.000 hingga 650.000 kematian terkait pernapasan. Di Indonesia, angka pasti morbiditas dan mortalitas akibat influenza sulit dilacak karena keterbatasan sistem surveilans, namun studi-studi lokal menunjukkan bahwa serangan influenza pada lansia meningkatkan risiko rawat inap hingga tiga kali lipat. "Banyak yang tidak sadar bahwa influenza itu 'silent killer' bagi kelompok dengan imunitas rendah," ujar seorang epidemiolog dari Universitas Indonesia menanggapi pernyataan Prof. Iris. Oleh karena itu, pendekatan preventif melalui vaksinasi menjadi strategi kesehatan masyarakat yang jauh lebih hemat biaya dibandingkan dengan biaya pengobatan komplikasi yang ditimbulkan.

Efektivitas Vaksin: Antara Harapan dan Dinamika Mutasi Virus

Vaksin influenza bekerja dengan merangsang tubuh memproduksi antibodi terhadap strain virus yang diprediksi akan dominan pada musim flu mendatang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melakukan pemantauan global sepanjang tahun untuk memperbarui komposisi vaksin. Prof. Iris mengakui bahwa efektivitas vaksin sangat bergantung pada kesesuaian (match) antara strain vaksin dan virus yang beredar di masyarakat. Pada tahun-tahun dengan kesesuaian yang baik, efektivitas vaksin dapat mencapai 60-70 persen, namun pada tahun dengan drift antigenik yang signifikan, efektivitas bisa turun menjadi 20-30 persen. Meski begitu, bukti ilmiah tetap menunjukkan bahwa mereka yang divaksinasi dan tetap terinfeksi, umumnya mengalami gejala yang jauh lebih ringan dan durasi sakit yang lebih pendek. "Vaksin influenza bukan semata tentang mencegah infeksi, tetapi juga mencegah kematian," tegas Prof. Iris. Hal ini menjadi argumen kuat bahwa vaksinasi tetap layak direkomendasikan meskipun efektivitasnya bervariasi setiap tahun, terutama sebagai langkah mengurangi beban rumah sakit selama musim puncak penyakit menular.

Perbandingan Teknologi: Vaksin Trivalen vs Kuadrivalen

Salah satu aspek teknis yang sering membingungkan publik adalah pilihan antara vaksin influenza trivalen dan kuadrivalen. Prof. Iris memberikan klarifikasi bahwa kedua jenis vaksin ini aman dan direkomendasikan, namun memiliki cakupan perlindungan yang berbeda terhadap strain virus influenza tipe B yang memiliki dua garis keturunan (lineage). Berikut perbandingan detailnya:

Aspek Vaksin Trivalen Vaksin Kuadrivalen
Cakupan Strain 3 strain: 2 tipe A (H1N1, H3N2) + 1 tipe B 4 strain: 2 tipe A (H1N1, H3N2) + 2 tipe B (Victoria dan Yamagata)
Risiko Mismatch Lebih tinggi jika strain B yang dominan berbeda Lebih rendah karena mencakup semua lineage B
Harga Lebih terjangkau Sektiar 20-30% lebih mahal
Ketersediaan di Indonesia Melimpah di fasilitas kesehatan primer Mulai tersedia luas, terutama di layanan kesehatan swasta
Rekomendasi Masih efektif dan direkomendasikan Preferred (diutamakan) jika tersedia, terutama untuk anak-anak

Prof. Iris menekankan bahwa yang terpenting adalah masyarakat mendapatkan vaksinasi, apapun jenisnya, ketimbang tidak sama sekali. "Jangan tunda vaksinasi hanya karena menunggu jenis tertentu. Yang ada dan tersedia, itulah yang terbaik," pesannya. Ini merupakan poin penting di negara-negara berkembang di mana akses dan logistik vaksin seringkali menjadi hambatan utama.

Kontroversi dan Penerimaan Publik: Mengapa Angka Vaksinasi Rendah?

Rendahnya cakupan vaksinasi influenza di Indonesia, yang masih di bawah 5 persen, merupakan fenomena multidimensi. Prof. Iris mengidentifikasi tiga hambatan utama: pertama, kurangnya persepsi risiko di kalangan masyarakat awam; kedua, misinformasi yang menyebar di media sosial, termasuk klaim keliru bahwa vaksin dapat menyebabkan influenza; ketiga, faktor biaya karena vaksin influenza belum masuk dalam program imunisasi dasar pemerintah. Sebagai perbandingan, negara-negara seperti Korea Selatan dan Jepang memiliki cakupan vaksinasi influenza pada lansia di atas 80 persen karena kebijakan subsidi penuh dari pemerintah. Di sisi lain, beberapa kalangan justru skeptis terhadap pendekatan vaksinasi massal ini, mengutip bahwa kekebalan alami yang terbentuk dari paparan komunitas juga memiliki peran penting dalam membentuk imunitas populasi jangka panjang.

Menyikapi hal ini, Prof. Iris berpendapat bahwa pendekatan berbasis bukti dan komunikasi risiko yang efektif dari para profesional medis sangat diperlukan untuk meluruskan miskonsepsi dan meningkatkan kepercayaan publik. Ia juga mendorong agar organisasi profesi seperti PAPDI (Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia) terus menyuarakan pentingnya vaksinasi influenza sebagai standar perawatan kesehatan preventif yang esensial, bukan sebagai komoditas sekunder.

Pro: Vaksinasi influenza adalah intervensi preventif dengan bukti ilmiah kuat yang mampu mencegah keparahan penyakit, mengurangi beban rawat inap, dan menyelamatkan nyawa kelompok rentan. Kompatibilitasnya dengan kebijakan kesehatan pasca-pandemi menjadikannya senjata vital dalam memperkuat ketahanan sistem kesehatan nasional terhadap ancaman penyakit menular musiman. Kontra: Vaksinasi influenza memiliki efektivitas yang bervariasi setiap tahun akibat mutasi virus yang cepat, memerlukan biaya tahunan karena sifatnya yang tidak permanen, serta menghadapi hambatan struktural berupa beban biaya mandiri dan skeptisisme publik yang tinggi. Tanpa perubahan kebijakan menjadi program nasional bersubsidi, cakupan akan tetap rendah dan manfaat populasinya tidak akan optimal. [SOCIAL_TWEET]: Angka vaksinasi flu di Indonesia masih di bawah 5% — sangat rendah! Prof. Iris Rengganis ingatkan: influenza adalah "silent killer" bagi lansia & pemilik komorbid. Satu kali suntik setahun bisa selamatkan nyawa. Jangan tunggu sakit parah dulu! #VaksinInfluenza #CegahLebihBaik #SehatIndonesia [SOCIAL_FB]: "Flu biasa saja, ngapain divaksin?" — Kalimat ini sering kita dengar. Tapi tahukah Anda, influenza membunuh hampir setengah juta orang di dunia setiap tahunnya? Prof. Iris Rengganis membeberkan fakta mengejutkan soal vaksin influenza dan mengapa kita semua perlu peduli. Baca selengkapnya! [SOCIAL_TG]: 💉😷 Vaksin Influenza: Perlukah Setahun Sekali? Prof. Iris Rengganis, pakar alergi imunologi klinis, bicara blak-blakan. Cakupan vaksinasi flu di RI ternyata di bawah 5%! Kenapa? Dan apa bedanya vaksin trivalen vs kuadrivalen? Yuk, simak penjelasan lengkapnya. [SOCIAL_THREADS]: Kebanyakan dari kita masih pikir influenza itu “flu biasa” yang bisa sembuh sendiri. Padahal kenyataannya, virus ini bisa jadi silent killer buat orang tua kita atau teman dengan diabetes. Prof. Iris kasih insight jujur soal vaksinasi influenza yang bikin mikir ulang soal abai kita selama ini... [TAGS]: vaksin influenza, Iris Rengganis, alergi imunologi klinis, imunisasi dewasa, kesehatan preventif

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User