Sep 09, 2026
Nasional

JAKARTA — Pemerintah Resmi Naikkan Harga BBM Subsidi Pertalite dan Solar

Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu siang itu diwarnai pemandangan antrean kendaraan yang memular hingga ke badan jalan raya. Deretan sepeda motor dan mobil p

JAKARTA — Pemerintah Resmi Naikkan Harga BBM Subsidi Pertalite dan Solar

Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu siang itu diwarnai pemandangan antrean kendaraan yang memular hingga ke badan jalan raya. Deretan sepeda motor dan mobil pribadi berjejer pelan menyusuri pelataran Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Aroma bensin yang menyeruak di udara beradu rapat dengan kecemasan warga yang berpacu dengan waktu. Langkah drastis yang selama beberapa pekan dispekulasikan publik akhirnya tiba: pemerintah secara resmi mengumumkan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.

Denyut Panik di Ujung Nosel SPBU

Kenaikan harga ini bukan sekadar penyesuaian angka di papan petunjuk SPBU, melainkan pukulan telak bagi daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah. Di kawasan Kuningan dan berbagai sudut ibu kota lainnya, raut wajah lesu menyelimuti para pengendara yang rela mengantre berjam-jam demi mengisi tangki kendaraan mereka sebelum tarif baru berlaku secara efektif di mesin dispenser.

"Kami ini rakyat kecil yang mengandalkan motor untuk mengais rezeki sehari-hari. Kalau Pertalite naik jadi Rp 10.000 per liter, pengeluaran harian kami jelas membengkak drastis. Sementara tarif narik penumpang belum tentu bisa langsung disesuaikan," ujar Rahmat (42), seorang pengemudi ojek online yang ditemui saat mengantre di SPBU Kuningan.

Kekecewaan serupa bergema dari kalangan buruh dan pekerja komuter yang menggantungkan mobilitas harian mereka pada BBM subsidi untuk melintasi batas kota menuju pusat bisnis. Kenaikan harga yang dinilai mendadak ini menyisakan celah kepasrahan di tengah impitan ekonomi warga yang belum sepenuhnya pulih pascapandemi.

Beban APBN dan Angka Penyesuaian Baru

Dari kacamata kebijakan publik, investigasi mendalam menunjukkan bahwa langkah pahit ini diambil pemerintah menyusul tekanan berat pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Lonjakan harga minyak mentah dunia serta pembengkakan alokasi subsidi energi yang melonjak hingga menembus angka Rp 502 triliun menjadi alasan utama di balik penarikan rem darurat oleh pembuat kebijakan.

Pemerintah berargumen bahwa lebih dari 70 persen subsidi BBM selama ini justru dinikmati oleh kelompok masyarakat berkemampuan ekonomi menengah ke atas yang memiliki kendaraan pribadi. Oleh karena itu, pengalihan subsidi dianggap sebagai opsi yang tidak terhindarkan demi menjaga kesinambungan fiskal negara.

Berikut adalah rincian penyesuaian harga BBM yang berlaku secara nasional:

  • Pertalite (RON 90): Naik dari Rp 7.650 per liter menjadi Rp 10.000 per liter.
  • Solar Subsidi: Naik dari Rp 5.150 per liter menjadi Rp 6.800 per liter.
  • Pertamax (RON 92): Naik dari Rp 12.500 per liter menjadi Rp 14.500 per liter.

Bayangan Gelombang Inflasi dan Dampak Logistik

Keputusan menaikkan harga Pertalite dan Solar diyakini bakal memicu efek domino yang merembet cepat ke berbagai sektor vital. Solar, yang menjadi urat nadi angkutan logistik dan distribusi pasokan pangan, berpotensi mendongkrak harga kebutuhan pokok di pasar-pasar tradisional dalam waktu singkat.

"Setiap kenaikan harga BBM subsidi selalu diikuti dengan kenaikan tarif angkutan umum dan barang pokok. Pemerintah harus memperketat pengawasan distribusi bantuan sosial agar shock absorber ekonomi yang disiapkan benar-benar tepat sasaran dan tidak menguap di tengah jalan," tegas salah satu pengamat ekonomi energi nasional.

Di tengah ancaman laju inflasi yang diproyeksikan melonjak, pemerintah menjanjikan skema pengalihan anggaran subsidi dalam bentuk Bantuan Langsung Tunai (BLT) BBM dan bantuan subsidi upah bagi pekerja berpenghasilan rendah. Namun, pertanyaan besar yang kini menggantung di benak publik adalah seberapa tangguh bantalan sosial tersebut mampu menahan benturan guncangan ekonomi yang melanda lapisan akar rumput.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User