Sep 11, 2026
Hukum

[JAKARTA] — IHSG Melemah ke Level 6.552 Akibat Lonjakan Minyak Dunia

Tekanan jual yang melanda lantai bursa domestik kian tak terbendung pada pembukaan perdagangan akhir pekan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung ter

[JAKARTA] — IHSG Melemah ke Level 6.552 Akibat Lonjakan Minyak Dunia

Tekanan jual yang melanda lantai bursa domestik kian tak terbendung pada pembukaan perdagangan akhir pekan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung terperosok ke zona merah di level 6.552 pada Jumat pagi, mencatatkan penurunan sebesar 36,21 poin atau 0,55 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level 6.589. Pelemahan ini memperpanjang tren koreksi tajam yang dipicu oleh kombinasi arus modal keluar investor asing dan lonjakan harga komoditas energi global.

Investigasi pergerakan pasar modal mengindikasikan bahwa sentimen negatif global, khususnya lonjakan harga minyak mentah dunia yang menembus level psikologis baru, memicu kepanikan investor. Pasar mengkhawatirkan dampak eskalasi energi terhadap lonjakan inflasi serta potensi pengetatan kebijakan moneter oleh bank-bank sentral dunia.

Kronologi Aksi Jual Masif Modal Asing

Pelemahan tajam IHSG pada penutupan pekan ini merupakan kelanjutan dari sentimen negatif yang terakumulasi sejak sesi perdagangan sebelumnya. Berikut rekam jejak dinamika pasar dalam 24 jam terakhir:

  1. Kamis Sore: IHSG ditutup anjlok 1,33 persen ke level 6.589. Pada saat yang sama, investor asing membukukan aksi jual bersih (net foreign sell) masif senilai Rp747,51 miliar di seluruh pasar reguler.
  2. Sektor Perbankan dan Energi Tertekan: Gelombang pelepasan aset terkonsentrasi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar (big cap), antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Indosat Tbk (ISAT), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), serta PT Indika Energy Tbk (INDY).
  3. Jumat Pagi: Tekanan berlanjut tanpa jeda sejak bel pembukaan, memaksa indeks langsung melemah 36,21 poin ke level 6.552 di tengah kehati-hatian pelaku pasar domestik.

Eskalasi Harga Minyak dan Tekanan Makroekonomi

Faktor eksternal menjadi pemicu utama di balik gelombang keluar modal asing ini. Di pasar komoditas internasional, harga minyak mentah jenis Brent meroket melampaui level 108 dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bertengger kokoh di angka 102,48 dolar AS per barel.

Lonjakan harga komoditas energi di atas 100 dolar AS per barel tersebut memicu kekhawatiran ganda: melebarnya defisit neraca perdagangan migas nasional serta beban subsidi energi yang membengkak pada anggaran negara. Di sisi lain, pelaku pasar juga memantau ketat data penjualan ritel domestik untuk mengukur daya tahan konsumsi masyarakat di tengah ancaman inflasi impor.

Skenario Uji Level Support Kritis

Melihat volatilitas yang terus meningkat, analis pasar modal memperingatkan bahwa IHSG saat ini berada dalam fase rawan koreksi lebih dalam jika level penahan teknikal gagal dipertahankan.

"IHSG hari ini akan menguji level 6.525. Jika tembus level tersebut, IHSG berpeluang menguji level support selanjutnya di kisaran 6.400 hingga 6.460," tulis Tim Analis Phintraco Sekuritas dalam kajian risetnya.

Para pelaku pasar kini disarankan untuk mencermati batas toleransi risiko dan mewaspadai aksi jual lanjutan, sembari memantau perkembangan data inflasi dan arah pergerakan harga minyak mentah dunia hingga penutupan perdagangan pekan ini.

IHSG turun 0,55% pada pembukaan Jumat ke level 6.552 menyusul net sell asing sebesar Rp747,51 miliar pada hari sebelumnya. Lonjakan harga minyak Brent ke atas $108/barel meningkatkan kekhawatiran inflasi global. Analis mengingatkan level support kritis berada di rentang 6.525 hingga 6.400. Baca selengkapnya di Beritadua.com

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User