Istana Yogyakarta Diserbu, Harta Keraton dan Singgasana Lenyap

Peristiwa memilukan menerpa jantung Kesultanan Yogyakarta. Pada hari yang kelam itu, kediaman resmi Sultan Hamengkubuwana II luluh lantak oleh aksi penjarahan massal. Bukan sekadar pusaka atau emas pe...

Jul 27, 2026 - 23:15
0 0
Istana Yogyakarta Diserbu, Harta Keraton dan Singgasana Lenyap

Peristiwa memilukan menerpa jantung Kesultanan Yogyakarta. Pada hari yang kelam itu, kediaman resmi Sultan Hamengkubuwana II luluh lantak oleh aksi penjarahan massal. Bukan sekadar pusaka atau emas permata yang lenyap, melainkan warisan intelektual Kesultanan berupa koleksi perpustakaan dan arsip-arsip kuno yang selama berabad-abad tersimpan rapi di dalam keraton. Kekacauan ini menandai salah satu episode tergelap dalam sejarah Kesultanan, mengubah tatanan politik dan militer yang telah berdiri kokoh.

Kronologi Perampokan dan Penghancuran Simbol Kuasa

Serbuan tersebut berlangsung secara brutal dan sistematis. Pasukan yang terdiri dari serdadu Eropa bersenjata lengkap serta ribuan prajurit pribumi dari kekuatan pendudukan berhasil menembus pertahanan istana. Tembok baluwarti yang selama itu dianggap sakral dan tak tertembus, jebol di bawah gempuran meriam. Begitu gerbang utama runtuh, gelombang manusia menyerbu masuk ke dalam kedhaton, area paling privat dan suci bagi Sultan. Situasi langsung berubah menjadi kacau balau. Di tengah gemuruh tembakan dan teriakan, segala benda berharga tampak diangkut paksa. Peti-peti berisi uang logam dan gulden yang tersimpan dalam ruang perbendaharaan keraton dijarah tanpa sisa. Sumber-sumber menyebutkan bahwa jumlah uang tunai yang raib mencapai nilai yang fantastis untuk ukuran masa itu. Tak hanya uang, seluruh perabotan emas, mahkota, keris bertatah berlian, hingga lampu-lampu kristal pemberian raja-raja Eropa ikut menjadi barang rampasan perang yang kemudian diangkut ke Batavia.

Nasib Arsip dan Perpustakaan yang Dibungkam

Namun, kerugian paling monumental bukan terletak pada emas dan permata. Bagian yang paling pilu adalah penodaan terhadap Widyabudaya, perpustakaan keraton yang menyimpan manuskrip-manuskrip kuno berusia ratusan tahun. Naskah-naskah yang ditulis tangan di atas kertas eropa dan daluang itu memuat rekaman silsilah raja-raja Mataram, risalah hukum Islam kuno, catatan perjanjian politik dengan VOC, hingga kitab-kitab ramalan. Pasukan penyerbu tidak memahami nilai filosofis dari benda-benda tersebut. Banyak di antaranya disobek, dibakar untuk penerangan, atau dibiarkan terinjak-injak di lantai. Sebagian besar yang selamat justru dirampas sebagai trofi intelektual, diangkut ke negeri seberang dan kini terserak di museum-museum Eropa. Hilangnya arsip ini menciptakan lubang hitam dalam historiografi Jawa. Rekaman administratif pemerintahan, surat-surat diplomatik, dan kontrak politik lenyap begitu saja, membuat narasi sejarah dari perspektif istana kehilangan suaranya.

Lengsernya Hamengkubuwana II dan Awal Era Kolonial Baru

Di tengah kobaran api yang melahap bangunan kayu keraton, nasib penguasa tertinggi juga mencapai titik nadirnya. Sultan Hamengkubuwana II, yang dikenal sebagai Sultan Sepuh dengan karakter keras dan anti-kolonial, akhirnya ditawan oleh pasukan invasi. Kepemimpinannya yang selama itu menjadi simbol perlawanan terhadap dominasi asing dipatahkan secara paksa. Upacara pelengseran berlangsung tanpa protokoler kehormatan kerajaan. Dari singgasananya, ia langsung digelandang menuju kapal yang telah bersandar di Semarang. Tujuan pembuangannya adalah Pulau Penang, sebuah pos dagang jauh yang berada di bawah kendali Inggris. Di sanalah Sang Sultan harus menjalani hari-harinya sebagai tahanan politik, terisolasi dari bumi Mataram yang dicintainya.

Peristiwa ini bukan sekadar aksi perampokan biasa, melainkan sebuah operasi geopolitik terukur. Penurunan paksa tersebut bertujuan untuk menginstal kekuasaan yang lebih lunak terhadap kepentingan asing. Kekosongan singgasana segera diisi oleh putra mahkota yang dianggap lebih kooperatif. Pemerintahan boneka dibentuk di bawah bayonet tentara kolonial. Perjanjian baru pun dipaksakan, yang secara efektif memangkas kedaulatan Yogyakarta dan menjadikannya sekadar vassal administratif dari penguasa asing. Wilayah mancanegara yang sebelumnya menjadi daerah subur penyumbang upeti dipreteli dan diberikan kepada faksi-faksi yang dianggap berjasa dalam operasi militer ini. Struktur feodal Jawa yang selama ini terpusat pada figur Sultan sebagai paksi dunia, poros kosmologis, runtuh dalam semalam. Secara simbolik, perampokan arsip dan penjarahan pusaka adalah upaya sistematis untuk menghapus ingatan kolektif tentang keagungan dan kedaulatan Kesultanan Yogyakarta, sekaligus menulis ulang narasi kekuasaan dengan tinta militerisme dan eksploitasi ekonomi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User