Iran Kukuh Tutup Selat Hormuz, Ekonomi Global Hadapi Ujian Baru

Berdasarkan data Bank Indonesia per awal Juni 2025, nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp16.200 per dolar Amerika Serikat, sementara cadangan devisa tercatat sekitar US$150 miliar atau setara lebi...

Aug 10, 2026 - 07:47
0 0
Iran Kukuh Tutup Selat Hormuz, Ekonomi Global Hadapi Ujian Baru

Berdasarkan data Bank Indonesia per awal Juni 2025, nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp16.200 per dolar Amerika Serikat, sementara cadangan devisa tercatat sekitar US$150 miliar atau setara lebih dari enam bulan impor. Stabilitas tersebut kini menghadapi ujian baru setelah Iran menegaskan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz hingga Amerika Serikat memenuhi sejumlah syarat, termasuk menghentikan segala bentuk ancaman terhadap Teheran. Pernyataan itu disampaikan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, dan langsung memicu reaksi negatif di pasar energi global.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Sekitar 20 persen dari total perdagangan minyak global, atau setara 17 hingga 20 juta barel per hari, melintasi selat sempit yang memisahkan Iran dan Oman tersebut. Gangguan pada jalur ini berpotensi mengerek harga minyak mentah dunia secara signifikan dan memicu guncangan rantai pasok lintas negara.

Harga Minyak Dunia Berpotensi Mengalami Kenaikan

Harga minyak mentah Brent sempat menyentuh level US$78 per barel pascapernyataan Teheran, mengalami kenaikan sekitar 4 persen dalam sepekan. Secara year-on-year, harga saat ini sebenarnya masih jauh di bawah puncak 2022 yang menembus US$120 per barel, namun tren kenaikan jangka pendek mulai terbentuk akibat memburuknya sentimen pasar.

Di satu sisi, kenaikan harga minyak menguntungkan negara eksportir energi. Negara-negara Teluk yang memiliki jalur alternatif, seperti Arab Saudi dengan pipa Timur-Barat berkapasitas 5 juta barel per hari, masih dapat mempertahankan sebagian ekspornya. Di sisi lain, negara importir minyak, termasuk Indonesia, menghadapi risiko pembengkakan biaya impor energi yang dapat menekan neraca perdagangan dan memperlebar defisit transaksi berjalan.

"Setiap kenaikan harga minyak sebesar US$10 per barel secara historis berkorelasi dengan pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia sekitar 0,2 hingga 0,3 persen dari produk domestik bruto," demikian kesimpulan sejumlah kajian ekonom yang dirilis pekan ini.

Transmisi Risiko ke Ekonomi Domestik

Bagi Indonesia, risiko merambat melalui tiga kanal utama: inflasi, nilai tukar, dan fiskal. Data Badan Pusat Statistik per Mei 2025 menunjukkan inflasi year-on-year berada di level 2,8 persen, masih dalam kisaran sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen. Namun, kenaikan harga bahan bakar dapat mendorong inflasi administered prices, yakni harga-harga yang diatur pemerintah, serta inflasi pangan melalui kenaikan biaya logistik dan distribusi.

Dari sisi nilai tukar, ketegangan geopolitik lazimnya memicu capital outflow, yaitu arus modal asing keluar dari pasar negara berkembang menuju aset aman seperti dolar AS dan emas. Indeks dolar AS (DXY) tercatat menguat ke level 99, sementara imbal hasil Surat Berharga Negara tenor 10 tahun bergerak di kisaran 6,9 persen. Jika likuiditas global mengetat, rupiah berpotensi melemah lebih jauh dan menambah beban impor energi.

Di sisi fiskal, pemerintah menanggung beban subsidi energi yang sangat sensitif terhadap harga minyak. Asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN 2025 dipatok sekitar US$82 per barel. Bila realisasi harga melampaui asumsi tersebut secara berkelanjutan, ruang fiskal untuk belanja produktif akan menyempit.

Dua Sisi bagi Pasar Keuangan Indonesia

Di satu sisi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghadapi tekanan jual dari investor asing yang mengurangi porsi portofolio di aset berisiko. Sektor transportasi, manufaktur, dan barang konsumsi menjadi yang paling rentan karena kenaikan biaya input. Valuasi saham-saham di sektor tersebut berpotensi terkoreksi bila ketegangan berkepanjangan.

Di sisi lain, sektor energi dan komoditas justru diuntungkan. Emiten minyak, gas, dan batu bara berpeluang membukukan kinerja lebih baik seiring harga komoditas yang mengalami kenaikan. Rasio keuntungan sektor energi terhadap indeks secara historis meningkat pada periode ketegangan di Timur Tengah, sebagaimana terjadi pada 2019 dan 2022.

Proyeksi dan Skenario ke Depan

Sejumlah analis memproyeksikan tiga skenario. Skenario ringan: negosiasi Iran dan AS menemukan titik temu dalam satu hingga dua bulan, sehingga harga minyak kembali ke kisaran US$70 per barel. Skenario moderat: ketegangan bertahan hingga akhir 2025, Brent bertahan di US$80 hingga US$90 per barel, dan Bank Indonesia menahan BI Rate di level 5,75 persen lebih lama demi menjaga stabilitas rupiah. Skenario berat: eskalasi militer memicu lonjakan harga di atas US$100 per barel, yang dapat memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global dari 3,2 persen menjadi di bawah 3 persen.

Fundamental ekonomi Indonesia dinilai relatif tangguh dengan rasio utang terhadap PDB sekitar 39 persen dan cadangan devisa yang memadai. Meski demikian, pelaku pasar perlu mencermati perkembangan diplomasi di Teluk Persia, karena arah sentimen pasar dalam beberapa pekan ke depan akan sangat ditentukan oleh respons Washington terhadap syarat yang diajukan Teheran.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User