IPO RANS Dihadiri Jajaran Konglomerat: Haji Isam, Axton, Boy Thohir, Anin Bakrie
Rabu pagi di Bursa Efek Indonesia (BEI) terasa istimewa dengan pencatatan perdana saham PT RANS Entertainment Tbk. (RANS). Tak hanya dihadiri pendiri perusahaan, pasangan selebritas Raffi Ahmad dan Na...
Rabu pagi di Bursa Efek Indonesia (BEI) terasa istimewa dengan pencatatan perdana saham PT RANS Entertainment Tbk. (RANS). Tak hanya dihadiri pendiri perusahaan, pasangan selebritas Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, deretan nama besar dunia usaha Tanah Air juga tampak berbaur menyambut debut emiten baru berkode saham RANS itu. Haji Isam (pemilik Jhonlin Group), Axton Salim (Indofood), Garibaldi ‘Boy’ Thohir (Adaro Energy), hingga Anindya Bakrie (Bakrie Group) hadir langsung di lantai bursa, memberikan sinyal kuat dukungan dari jejaring elite bisnis nasional.
Siapa Saja yang Hadir dan Apa Artinya?
Kehadiran mereka bukan sekadar seremoni. Haji Isam, yang dikenal sebagai pengusaha tambang dan infrastruktur dari Kalimantan, jarang tampil di acara publik serupa. Sementara Axton Salim merupakan representasi generasi penerus Grup Salim, salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia. Boy Thohir, selain memimpin Adaro, juga aktif di berbagai investasi teknologi dan energi baru terbarukan melalui PT Trinugraha Thohir. Adapun Anindya Bakrie, yang sebelumnya juga hadir di sejumlah IPO, menunjukkan minat berkelanjutan terhadap perusahaan berbasis hiburan dan konten digital. Keempatnya mewakili peta kekuatan ekonomi dari sektor sumber daya alam, pangan, energi, hingga investasi lintas industri, yang kini menyorot potensi bisnis berbasis selebriti dan ekonomi kreator.
Menurut pengamat pasar modal, kehadiran figur-figur tersebut mencerminkan legitimasi baru bagi emiten yang mengandalkan intangible asset seperti ketenaran dan basis penggemar. “Ini bukan sekadar IPO artis. Ada pengakuan dari pemilik modal besar bahwa model bisnis RANS memiliki skala dan potensi untuk tumbuh, terutama di segmen konten digital dan lisensi produk,” ujar seorang analis yang enggan disebutkan namanya.
Perjalanan Menuju Lantai Bursa
RANS Entertainment didirikan pada 2015, awalnya hanya rumah produksi konten YouTube keluarga Raffi-Nagita. Kini, perusahaan telah bertransformasi menjadi holding dengan beberapa lini bisnis, termasuk manajemen artis, event organizer, pemegang lisensi berbagai merek seperti RANS Nusantara Hebat, dan bahkan klub sepak bola RANS Nusantara FC yang bermain di Liga 2. Prospektus IPO mencatat, pendapatan perusahaan ditopang oleh tiga segmen utama: konten digital (55%), manajemen artis dan iklan (30%), serta penjualan barang dan lisensi (15%). Pertumbuhan laba bersih pada 2024 sebesar 120% year-on-year, meskipun basisnya masih rendah dibandingkan emiten mapan.
Dalam proses bookbuilding, permintaan dari investor institusi mencapai kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 2,5 kali, sementara pooling investor ritel mencatatkan 1,8 kali, menunjukkan antusiasme tinggi. Pencapaian ini tak lepas dari strategi roadshow yang masif dengan memanfaatkan popularitas pendirinya.
RANS dan Fundamental Bisnis: Antara Valuasi dan Momentum
RANS menawarkan 1,23 miliar saham baru atau setara 20% dari modal ditempatkan melalui IPO dengan harga penawaran Rp 320 per saham, sehingga mengantongi dana segar sekitar Rp393,6 miliar. Dana tersebut, menurut prospektus, akan digunakan untuk modal kerja, pengembangan studio produksi, akuisisi perusahaan konten digital, serta ekspansi lini bisnis lisensi. Pada harga tersebut, kapitalisasi pasar RANS di level Rp1,96 triliun, menjadikannya salah satu emiten media dan hiburan dengan valuasi signifikan di BEI, meski pendapatannya pada 2024 tercatat baru sekitar Rp310 miliar dengan laba bersih Rp42 miliar. Rasio harga terhadap laba (PER) di kisaran 46 kali—relatif tinggi untuk sektor tradisional, namun dipandang wajar oleh sebagian investor mengingat pertumbuhan pendapatan yang mencapai 85% secara tahunan.
Di satu sisi, optimisme datang dari tren positif ekonomi kreator. Data Asosiasi Ekonomi Kreatif Indonesia menunjukkan nilai industri konten digital Indonesia tumbuh 22% pada 2025, didorong oleh peningkatan konsumsi video pendek, live commerce, dan program berbasis intellectual property (IP). RANS, dengan lebih dari 50 juta pengikut di seluruh platform dan puluhan merek lisensi, memiliki keunggulan distribusi yang sulit ditiru. Di sisi lain, skeptisisme tetap ada. Model bisnis yang sangat bergantung pada figur sentral Raffi-Nagita dianggap sebagai risiko konsentrasi. Jika popularitas pasangan ini meredup atau terjadi skandal, dampaknya bisa langsung ke pendapatan. Belum lagi tekanan dari perubahan algoritma platform digital yang bisa memangkas jangkauan konten.
Jejaring Elite: Lebih dari Sekadar Investasi
Menarik mencermati pola kehadiran para konglomerat. Haji Isam, yang memiliki Grup Jhonlin dengan bisnis batubara, perkebunan, dan jalan tol, belakangan melebarkan sayap ke sektor ritel dan hiburan di Kalimantan. Kehadirannya di IPO RANS bisa jadi terkait rencana kolaborasi distribusi produk-produk RANS di jaringan bisnisnya. Sementara Axton Salim dengan Indofood-nya memiliki kepentingan di ranah pemasaran dan branding produk konsumen yang masif; RANS bisa menjadi kanal promosi strategis. Boy Thohir, melalui investasinya di berbagai perusahaan rintisan, melihat RANS sebagai aset konten yang bisa disinergikan dengan platform digital. Adapun Anindya Bakrie, lewat VKTR dan berbagai usahanya di teknologi dan media, membayangkan integrasi konten RANS dengan ekosistem kendaraan listrik dan gaya hidup modern yang sedang dibangunnya. Semua ini menunjukkan bahwa investasi di RANS bukan semata-mata portofolio keuangan, tetapi juga potensi sinergi bisnis yang lebih luas.
Pergerakan Saham dan Respons Pasar
Pada debutnya, saham RANS langsung menyentuh batas auto rejection atas (ARA) 35% ke level Rp 432, mencerminkan permintaan investor ritel yang tinggi terhadap saham dengan narasi selebritas. Volume perdagangan mencapai 2,4 miliar saham, terbesar ketiga di antara IPO tahun ini, menunjukkan likuiditas yang memadai. Meski demikian, beberapa analis mengingatkan agar investor tidak terjebak euforia sesaat. “Kinerja jangka panjang akan sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan mendiversifikasi pendapatan di luar konten YouTube dan endorsement, serta membangun aset IP yang berkelanjutan,” kata seorang fund manager dari salah satu manajer investasi lokal.
Apapun itu, pencatatan RANS menjadi tonggak baru bagi industri hiburan Tanah Air, membuktikan bahwa kreasi konten bisa menjadi bisnis serius yang dilirik pemodal kakap. Dengan dukungan jejaring konglomerasi yang hadir pagi itu, RANS setidaknya memiliki modal sosial yang kuat untuk melangkah ke fase berikutnya. Ke depan, investor akan mencermati beberapa katalis: laporan keuangan kuartal pertama pasca-IPO, pengumuman akuisisi atau kemitraan strategis, serta kemungkinan ekspansi ke pasar luar negeri. RANS juga diharapkan mampu menunjukkan tata kelola yang transparan sebagaimana standar emiten publik, mengingat tantangan perusahaan berbasis figur publik dalam memisahkan urusan pribadi dan korporasi. Jadi, apakah RANS akan menjadi cerita sukses berikutnya di bursa? Semua tergantung pada eksekusi dan kemampuan perusahaan menjaga momentum pertumbuhan di tengah persaingan ketat ekonomi digital.
Baca juga:
Comments (0)