5 Jurus Usaha dari Dirut BRI untuk Pebisnis Pemula
Memulai usaha dari nol kerap dianggap sebagai langkah penuh risiko. Namun, pada gelaran Jogja Financial Festival, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi, membagikan sejuml...
Memulai usaha dari nol kerap dianggap sebagai langkah penuh risiko. Namun, pada gelaran Jogja Financial Festival, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi, membagikan sejumlah prinsip yang bisa menjadi fondasi kokoh bagi para perintis bisnis. Dalam sesi yang penuh antusiasme, ia menekankan bahwa kunci keberhasilan bukan semata pada besaran modal, melainkan pada strategi tepat sasaran yang disiplin dijalankan.
Hery memaparkan bahwa banyak wirausaha sukses justru bermula dari lini usaha yang tampak sederhana. “Yang membedakan adalah pola pikir, pengelolaan, dan keberanian memanfaatkan alat bantu yang ada,” ujarnya, merujuk pada masifnya penetrasi digital di Indonesia yang kini menjangkau lebih dari 79% populasi. Panduan praktis ini ditujukan bagi siapa pun yang ingin melangkah tanpa terbebani kompleksitas bisnis besar.
Memilih Titik Masuk dengan Risiko Terukur
Langkah pertama yang disarankan adalah memulai dari sektor dengan entry barrier rendah. Sektor seperti kuliner rumahan, kerajinan tangan, atau jasa berbasis keterampilan tidak memerlukan investasi aset tetap yang besar. Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan bahwa lebih dari 64% usaha mikro memulai operasinya dengan modal di bawah Rp10 juta. Angka ini membuktikan bahwa hambatan modal tidak perlu menjadi momok. Fokus utamanya adalah merebut ceruk pasar spesifik yang belum tergarap maksimal, alih-alih bersaing di segmen massal yang sudah sesak.
Hery juga mendorong para pemula untuk tidak mengabaikan peluang usaha berbasis hobi atau keahlian personal. “Kreativitas bisa menjadi diferensiasi yang sulit ditiru pesaing besar,” tambahnya. Ia mencontohkan bisnis katering sehat yang kini tumbuh seiring kesadaran gaya hidup. Kuncinya adalah riset pasar sederhana: mengamati kebutuhan lingkungan sekitar dan menyesuaikan penawaran dengan daya beli lokal.
Disiplin Keuangan sebagai Jantung Bisnis
Aspek yang kerap menjadi titik lemah pengusaha pemula adalah manajemen keuangan. Hery menggarisbawahi pentingnya memisahkan rekening pribadi dan rekening bisnis sejak hari pertama. Praktik ini memudahkan pencatatan arus kas, penghitungan margin laba, dan yang tak kalah penting, menyiapkan laporan keuangan jika kelak ingin mengakses pendanaan perbankan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa literasi keuangan di kalangan pelaku UMKM baru mencapai 38,7%, sehingga edukasi pengelolaan kas menjadi krusial.
Selain pemisahan akun, ia menekankan perlunya membiasakan diri menyisihkan pendapatan untuk tiga pos: operasional, tabungan cadangan, dan pengembangan usaha. Rasio yang disarankan adalah 50-30-20; setengah untuk kelangsungan bisnis, 30% disimpan sebagai dana darurat menghadapi fluktuasi pasar, dan 20% dialokasikan untuk peningkatan kapasitas—misalnya pelatihan atau pembelian alat produksi tambahan. “Tanpa disiplin ini, usaha mudah tergerus biaya tak terduga,” tegasnya.
Teknologi, Bukan Lagi Sekadar Opsional
Digitalisasi menjadi vektor pengungkit yang tidak bisa ditawar. Hery menyoroti bagaimana platform pembayaran QRIS, media sosial, dan aplikasi pencatatan keuangan kini bisa diakses gratis. Dengan penetrasi ponsel pintar yang melampaui 345 juta unit di Tanah Air, pelaku usaha mikro dapat menjangkau pelanggan di luar radius geografis mereka. Pemanfaatan WhatsApp Business, Instagram Shopping, atau bergabung di ekosistem e-commerce mampu menaikkan omzet hingga 40% berdasarkan survei internal BRI terhadap 15.000 UMKM binaan.
Ia juga mendorong pemanfaatan teknologi untuk efisiensi internal. Aplikasi seperti pencatat stok digital membantu menghindari penumpukan inventaris yang mengikat modal kerja. Teknologi sederhana semacam point of sale (POS) berbasis ponsel juga membuat transaksi lebih transparan. “Jangan biarkan bisnis Anda berjalan manual, sementara pelanggan bergerak sangat cepat secara digital,” pesannya.
Sinergi Jejaring dan Pembelajaran Berkelanjutan
Di luar tiga pilar utama di atas, Hery menyisipkan resep penting lainnya: membangun jejaring dan terus belajar. Bergabung dengan komunitas wirausaha atau inkubator bisnis membuka peluang kolaborasi dan mentoring. Data Global Entrepreneurship Monitor 2025 menunjukkan bahwa pebisnis yang memiliki mentor tumbuh 20% lebih cepat dalam tiga tahun pertama dibandingkan yang berjalan sendiri. BRI sendiri menyediakan program pendampingan melalui Rumah BUMN dan BRI Incubator yang bisa dimanfaatkan perintis.
Terakhir, ia mengingatkan bahwa adaptasi adalah keniscayaan. Pasar, regulasi, dan preferensi konsumen berubah cepat. Oleh karena itu, wirausahawan pemula harus rajin mengevaluasi model bisnisnya, terbuka terhadap kritik pelanggan, dan sigap melakukan pivot ketika diperlukan. “Jatuh bangun itu biasa, tapi yang paling mahal adalah tidak belajar dari kesalahan,” pungkasnya. Dengan kelima jurus yang saling mengunci ini, Hery optimistis gelombang wirausaha muda mampu memperkuat struktur ekonomi nasional dari akar rumput.
Baca juga:
Comments (0)