Berdasarkan data Dinas Pertanian Kota Semarang dan Kementerian Pertanian per Oktober 2026, penerapan teknologi Internet of Things (IoT) di sentra pertanian perkotaan mulai menunjukkan dampak terukur terhadap produktivitas sayuran. Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah Demplot (DMP) Tambangan, yang mengintegrasikan sensor digital ke dalam operasional harian budidaya hortikultura. Langkah ini menandai pergeseran bertahap dari pertanian konvensional menuju pertanian presisi berbasis data.
IoT sendiri merupakan istilah untuk perangkat sensor yang terhubung ke internet, sehingga kondisi lahan dapat dipantau secara real-time tanpa harus berada di lokasi. Bagi pembaca awam, bayangkan sistem yang otomatis mengukur kelembapan tanah, suhu udara, dan intensitas cahaya, lalu mengirimkan data tersebut ke ponsel petugas.
Perawatan Lebih Efisien, Produksi Naik
Di satu sisi, digitalisasi di DMP Tambangan memberikan efisiensi nyata. Berdasarkan catatan pengelola, jadwal penyiraman dan pemupukan yang sebelumnya bergantung pada perkiraan manual kini mengacu pada pembacaan sensor. Hasilnya, penggunaan air dan nutrisi tanaman mengalami penurunan konsumsi hingga sekitar 20–30 persen dibandingkan pola konvensional. Waktu kerja petugas untuk pengecekan lahan juga terpangkas, karena anomali kondisi tanah langsung terdeteksi melalui notifikasi.
Dari sisi produksi, tren positif terlihat dari kenaikan hasil panen sayuran seperti selada, kangkung, dan bayam. Produktivitas per meter persegi dilaporkan mengalami kenaikan year-on-year, dengan kualitas daun yang lebih seragam karena pasokan air dan hara terjaga pada rentang optimal. Pendekatan ini menjawab tantangan klasik pertanian perkotaan: lahan sempit, air terbatas, dan tenaga kerja yang makin mahal.
"Teknologi bukan pengganti petani, tetapi alat bantu agar keputusan budidaya berbasis data, bukan sekadar intuisi," ujar seorang penyuluh pertanian yang mendampingi program digitalisasi tersebut.
Pro: Presisi Data dan Efisiensi Biaya
Perspektif optimistis menilai IoT membuka jalan bagi pertanian berkelanjutan. Dengan sensor, petani dapat menekan pemborosan pupuk, yang berarti biaya produksi turun dan jejak lingkungan membaik. Data historis yang terkumpul juga memungkinkan proyeksi panen lebih akurat, sehingga distribusi ke pasar bisa direncanakan. Bagi perbankan dan lembaga pembiayaan, catatan digital semacam ini berpotensi meningkatkan kelayakan kredit karena arus produksi lebih terukur.
Selain itu, model DMP Tambangan dapat direplikasi ke kawasan lain di Semarang dengan investasi awal yang relatif moderat. Sensor dasar dan gateway internet kini dijual dengan harga yang terus menurun seiring skala produksi global, sehingga valuasi biaya per unit lahan menjadi lebih masuk akal.
Kontra: Biaya Awal dan Kesiapan SDM
Di sisi lain, sejumlah ekonom dan pengamat pertanian mengingatkan bahwa adopsi IoT tidak bebas hambatan. Hambatan utama adalah biaya investasi awal untuk perangkat, instalasi jaringan, dan pemeliharaan sensor. Untuk petani kecil dengan likuiditas terbatas, pengeluaran ini bisa menjadi beban, terutama bila hasil panen belum pasti. Risiko lain adalah kesenjangan literasi digital: tanpa pelatihan berkelanjutan, perangkat canggih hanya menjadi barang mahal yang tidak terpakai.
Faktor eksternal juga perlu diperhitungkan. Koneksi internet yang tidak stabil di beberapa titik dapat mengganggu aliran data, sementara fluktuasi harga sayuran di pasar induk membuat peningkatan produksi belum tentu diikuti kenaikan pendapatan. Sentimen pasar terhadap komoditas hortikultura sangat dipengaruhi pasokan musiman, sehingga fundamental usaha tani tetap menghadapi ketidakpastian.
Proyeksi dan Fundamental Jangka Panjang
Mengacu pada arah kebijakan nasional, digitalisasi pertanian diperkirakan terus tumbuh. Jika pola di DMP Tambangan mampu menunjukkan rasio manfaat-biaya yang konsisten selama dua hingga tiga siklus tanam, kemungkinan program serupa akan diperluas. Namun, keberhasilan jangka panjang bergantung pada tiga hal: pendanaan terjangkau, pelatihan sumber daya manusia, dan ekosistem pasar yang menyerap hasil panen dengan harga wajar.
Secara keseluruhan, penerapan IoT di Semarang mencerminkan tren global menuju pertanian presisi. Di satu sisi, teknologi ini menawarkan efisiensi dan peningkatan produksi yang terukur. Di sisi lain, tanpa dukungan pembiayaan dan kesiapan petani, manfaatnya berisiko tidak merata. Keseimbangan antara inovasi dan inklusi inilah yang akan menentukan apakah digitalisasi pertanian menjadi lompatan besar atau sekadar proyek percontohan.
Comments (0)