Berdasarkan data penyelenggara pameran yang dihimpun Beritadua per 8 Oktober 2026, sebanyak 38 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ambil bagian dalam gelaran pameran di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, pada 7–11 Oktober 2026. Angka ini naik dibandingkan periode sebelumnya yang diikuti 32 pelaku usaha. Peningkatan jumlah peserta tersebut menjadi sinyal bahwa sektor UMKM terus menggeliat di tengah tekanan ekonomi global yang masih berlangsung.
Pencapaian tahun lalu menjadi rujukan penting. Transaksi yang dibukukan pada edisi sebelumnya menembus Rp 4,7 miliar atau sekitar Rp 4.700.000.000. Nilai itu diraih dari 32 peserta, yang berarti rata-rata setiap UMKM mencetak omzet sekitar Rp 146,9 juta selama periode pameran. Dengan tambahan enam peserta pada edisi 2026, penyelenggara memproyeksikan nilai transaksi mengalami kenaikan pada kisaran 15–20 persen year-on-year, bergantung pada sentimen pasar dan tingkat kunjungan harian.
Di Satu Sisi: Momentum Ekspansi dan Likuiditas
Di satu sisi, penambahan peserta dan target transaksi yang lebih tinggi mencerminkan perbaikan fundamental pelaku usaha kecil. Pameran semacam ini berfungsi sebagai jembatan antara UMKM dan pembeli institusional, termasuk peritel besar, hotel, restoran, hingga kafe. Bagi pelaku usaha, masuknya pesanan dalam jumlah besar berdampak langsung pada likuiditas harian dan kemampuan memperluas kapasitas produksi.
Dari perspektif ekonomi makro, UMKM menyumbang porsi dominan terhadap penyerapan tenaga kerja nasional. Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan sektor ini menyerap lebih dari 95 persen total tenaga kerja dan berkontribusi sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto. Ketika puluhan UMKM berhasil membukukan transaksi dalam hitungan hari, efek bergandanya terasa pada rantai pasok di daerah asal, mulai dari petani bahan baku hingga jasa logistik.
"Yang dibutuhkan UMKM bukan hanya pembiayaan, tetapi akses pasar yang berkelanjutan. Pameran menciptakan pertemuan langsung antara produsen dan pembeli, sehingga biaya transaksi menurun dan kepercayaan meningkat," ujar seorang analis pengembangan usaha kecil yang memantau gelaran ini.
Di Sisi Lain: Tantangan Kapasitas dan Konsistensi
Di sisi lain, capaian transaksi di arena pameran tidak selalu berbanding lurus dengan keberlanjutan bisnis setelahnya. Sejumlah pelaku usaha kerap kesulitan memenuhi pesanan berulang karena keterbatasan modal kerja, tenaga kerja terampil, dan standar kualitas yang konsisten. Risiko ini menjadi lebih besar ketika pembeli menuntut pengiriman rutin dengan volume tetap setiap bulan.
"Kontrak besar bisa menjadi bumerang bila kapasitas produksi tidak siap. Banyak UMKM menang di pameran, lalu gagal saat masuk tahap produksi massal," tutur pengamat industri kecil dalam sebuah diskusi terbatas.
Selain itu, biaya sewa stan, akomodasi, dan distribusi membuat sebagian peserta mengeluarkan modal awal yang tidak kecil. Jika realisasi transaksi jauh di bawah proyeksi, rasio biaya terhadap penjualan bisa membengkak dan menekan margin. Karena itu, valuasi keberhasilan sebaiknya tidak diukur semata dari nilai transaksi saat acara, melainkan dari konversi menjadi pesanan jangka panjang.
Proyeksi dan Sentimen Pasar ke Depan
Pro: penyelenggaraan pameran berskala kota besar memberi eksposur merek dan peluang jejaring yang sulit diperoleh melalui kanal digital semata. Kontra: tanpa pendampingan pembiayaan, sertifikasi mutu, dan pendataan pembeli yang rapi, lonjakan transaksi berisiko bersifat sementara. Inilah yang membuat tren partisipasi UMKM perlu dibaca secara dua arah, bukan sebagai indikator tunggal pemulihan sektor riil.
Dari kacamata portofolio kebijakan, pemerintah daerah dan lembaga pembiayaan dapat memanfaatkan momen ini untuk menyalurkan kredit usaha rakyat dengan skema yang menyesuaikan siklus pesanan. Dengan demikian, capital outflow pembayaran ke pemasok tetap terjaga di dalam negeri dan manfaat ekonomi berputar lebih lama. Indeks kepercayaan pelaku usaha pun berpeluang mengalami kenaikan bila realisasi kontrak pasca-pameran tercatat positif.
Ke depan, yang patut dicermati adalah seberapa besar nilai transaksi yang benar-benar terealisasi, bukan hanya yang diteken di atas kertas. Bila 38 peserta mampu menembus angka di atas Rp 5,4 miliar, maka tren pertumbuhan sektor ini akan semakin kokoh. Namun bila capaiannya stagnan, evaluasi menyeluruh terhadap model pendampingan menjadi keharusan.
Comments (0)