Setiap tahun, ribuan kilogram daun kopi di Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, hanya berakhir di tempat sampah. Namun, berkat inovasi dari program Gema Desa yang diinisiasi Himpunan Mahasiswa Logistik Universitas Brawijaya (Himalogista UB), limbah hijau itu kini disulap menjadi produk teh daun kopi bernama "Sedesa" yang bernilai ekonomi tinggi.
Menggali Potensi Tersembunyi
Desa Toyomarto sejak lama dikenal sebagai salah satu sentra perkebunan kopi di Jawa Timur. Luas lahan mencapai ratusan hektare dengan komoditas utama kopi robusta. Akan tetapi, fokus petani biasanya hanya pada biji kopi, sementara daun kopi yang melimpah sering terabaikan. Program Gema Desa mencoba menjawab tantangan ini dengan pendekatan ekonomi sirkular, yaitu memanfaatkan seluruh bagian tanaman untuk menciptakan nilai tambah sekaligus mengurangi limbah.
Proses produksi teh daun kopi diawali dengan pemilihan daun segar berkualitas. Daun lalu dicuci bersih, melalui tahap pelayuan, oksidasi enzimatik ringan, penggulungan, dan pengeringan. Hasilnya adalah teh dengan warna seduhan keemasan, rasa yang mirip teh hijau namun dengan sentuhan aroma khas kopi. Produk ini memiliki kadar antioksidan tinggi dan rendah kafein, menjadikannya alternatif sehat bagi penikmat minuman hangat.
Strategi Pemberdayaan dan Pendampingan
Himalogista UB tidak sekadar memberikan pelatihan produksi. Mereka merancang kurikulum pelatihan terpadu selama enam bulan yang mencakup aspek good manufacturing practices (GMP), manajemen usaha, hingga pemasaran digital. Sebanyak 30 warga, mayoritas ibu rumah tangga dan pemuda desa, mengikuti pelatihan dengan antusias.
Warga diajari cara mengemas produk secara higienis dengan merek "Sedesa" yang terdaftar. Kemasan didesain sederhana namun elegan, memanfaatkan bahan ramah lingkungan. Selain itu, pelatihan literasi digital membuat produk teh daun kopi Toyomarto kini bisa dipasarkan melalui marketplace dan media sosial, menjangkau konsumen di luar Malang bahkan hingga Jakarta dan Surabaya.
Dampak terhadap Perekonomian Lokal
Sejak program berjalan, terlihat perubahan signifikan pada pendapatan warga. Data internal menunjukkan rata-rata pendapatan peserta naik hingga 35 persen dalam empat bulan pertama. Satu sachet teh daun kopi dibanderol Rp 8.000 hingga Rp 12.000, dengan margin keuntungan bersih sekitar 40 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding menjual daun kopi mentah yang hanya dihargai Rp 500 per kilogram.
Mekanisme bagi hasil juga diterapkan. Dari setiap penjualan, 10 persen disisihkan untuk kas desa guna mendanai program sosial dan infrastruktur. Pola ini membangun kemandirian ekonomi sekaligus memperkuat gotong royong di tingkat komunitas. Menariknya, keberhasilan ini menarik minat desa tetangga untuk mereplikasi model serupa.
Dari Desa untuk Pasar Nasional
Produk "Sedesa" kini sudah memiliki izin edar dari dinas kesehatan dan sedang mengurus sertifikasi halal. Ke depannya, Himalogista UB bersama perangkat desa berencana mengembangkan varian rasa seperti teh daun kopi dengan tambahan jahe, kayu manis, atau lemon. Riset lebih lanjut juga dijajaki untuk meneliti potensi ekstrak daun kopi sebagai bahan baku kosmetik dan farmasi.
Universitas Brawijaya melalui program pengabdian masyarakat memberikan pendampingan berkelanjutan, termasuk audit kualitas dan perluasan jaringan distribusi. Pihak kampus optimistis, desa Toyomarto dapat menjadi model nasional bagi desa-desa penghasil kopi di seluruh Indonesia.
Optimisme Warga dan Prospek Masa Depan
Salah satu peserta, Sumarni (45), mengaku sangat terbantu. "Dulu saya hanya menjadi ibu rumah tangga tanpa penghasilan tetap. Sekarang, setiap bulan saya bisa menyumbang Rp 1,5 juta untuk keluarga. Apalagi kerjanya fleksibel, bisa dilakukan di sela mengurus anak," ujarnya. Kepala Desa Toyomarto juga menyambut baik inisiatif ini dan berjanji mengalokasikan dana desa untuk membangun rumah produksi bersama.
Keberhasilan program Gema Desa di Toyomarto membuktikan bahwa inovasi berbasis sumber daya lokal mampu menciptakan ekosistem bisnis mandiri. Dengan dukungan akademisi, pemerintah desa, dan warga, potensi teh daun kopi diyakini akan terus bertumbuh dan memperluas dampak ekonominya di masa depan. Inilah cerita tentang bagaimana sehelai daun yang pernah diabaikan, kini menjadi tiang kokoh perekonomian desa.
Comments (0)