Indosat Gandeng Nokia dan NVIDIA Bangun Infrastruktur AI Zankore
Berdasarkan data Bank Indonesia per Agustus 2026, nilai ekonomi digital Indonesia diproyeksikan menembus 150 miliar dolar AS pada tahun ini, mengalami kenaikan sekitar 14 persen year-on-year. Sementar...
Berdasarkan data Bank Indonesia per Agustus 2026, nilai ekonomi digital Indonesia diproyeksikan menembus 150 miliar dolar AS pada tahun ini, mengalami kenaikan sekitar 14 persen year-on-year. Sementara itu, Badan Pusat Statistik mencatat sektor informasi dan komunikasi tumbuh 7,8 persen pada kuartal II 2026, melampaui pertumbuhan produk domestik bruto nasional yang berada di kisaran 5,1 persen. Di tengah tren ekspansi tersebut, PT Indosat Tbk memperkenalkan Zankore, inisiatif infrastruktur kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang dikembangkan bersama Ooredoo, Nokia, dan NVIDIA untuk memperkuat fondasi ekonomi digital di kawasan Asia-Pasifik.
Zankore dirancang sebagai platform komputasi AI berskala besar yang memadukan jaringan telekomunikasi Indosat, teknologi infrastruktur jaringan dari Nokia, serta kemampuan pemrosesan grafis (GPU) milik NVIDIA. Keterlibatan Ooredoo, induk usaha Indosat yang berbasis di Qatar, memperluas cakupan proyek ini hingga lintas negara. Infrastruktur semacam ini berfungsi sebagai tulang punggung komputasi, yakni fasilitas pemrosesan data berkapasitas tinggi yang dibutuhkan untuk melatih dan menjalankan model AI, mulai dari layanan bahasa hingga analitik industri.
Daya Dorong bagi Ekonomi Digital
Dari sisi makroekonomi, kehadiran infrastruktur AI berpotensi mempercepat transformasi digital yang selama ini menjadi salah satu motor pertumbuhan. Sejumlah riset memperkirakan adopsi AI dapat menambah output ekonomi Asia Tenggara hingga 1 triliun dolar AS pada 2030, dengan Indonesia sebagai kontributor terbesar mengingat populasi digitalnya yang melampaui 200 juta pengguna internet. Bagi pelaku usaha, ketersediaan komputasi AI di dalam negeri menekan biaya operasional karena perusahaan rintisan dan korporasi tidak lagi bergantung penuh pada pusat data luar negeri. Efek penggandanya (multiplier effect) berpotensi mengalir ke sektor keuangan, manufaktur, logistik, hingga layanan publik.
Di Satu Sisi Peluang Besar, di Sisi Lain Risiko Mengintai
Di satu sisi, proyek ini memperkuat fundamental industri telekomunikasi yang selama ini tertekan oleh persaingan harga dan marjin yang menipis. Pendapatan dari layanan komputasi awan (cloud) dan AI menawarkan sumber pertumbuhan baru dengan rasio marjin lebih sehat dibandingkan bisnis konektivitas konvensional. Kolaborasi dengan pemain global juga mempercepat alih teknologi serta meningkatkan daya saing sumber daya manusia lokal. Di sisi lain, investasi infrastruktur AI menuntut belanja modal (capital expenditure) yang tidak kecil, sementara siklus pengembaliannya relatif panjang. Ketergantungan pada pasokan chip global menambah risiko rantai pasok, terutama bila ketegangan geopolitik memicu pembatasan ekspor semikonduktor. Konsumsi listrik pusat data yang besar turut menjadi perhatian, mengingat bauran energi nasional masih didominasi energi fosil.
Sejumlah pengamat industri digital memberikan catatan atas pengembangan proyek semacam ini:
Pembangunan infrastruktur AI adalah langkah strategis. Namun, keberhasilannya akan ditentukan oleh kemampuan menciptakan permintaan domestik yang riil, bukan sekadar menambah kapasitas pasokan.
Implikasi bagi Pasar Modal dan Sentimen Investor
Bagi pasar modal, ekspansi ke bisnis AI berpotensi mengubah valuasi emiten telekomunikasi. Selama ini, saham sektor tersebut diperdagangkan dengan rasio harga terhadap laba (price-to-earnings ratio) yang relatif moderat karena dipandang sebagai bisnis matang. Narasi pertumbuhan berbasis AI dapat memicu re-rating, yakni penyesuaian valuasi ke level lebih tinggi, sebagaimana terjadi pada sejumlah emiten global yang masuk ke bisnis pusat data. Meski demikian, sentimen pasar tetap perlu dicermati. Kenaikan belanja modal dalam jangka pendek dapat menekan arus kas bebas dan berpotensi mengurangi ruang dividen, faktor yang selama ini menjadi daya tarik utama saham telekomunikasi bagi investor berorientasi pendapatan. Dari sisi likuiditas, emiten telekomunikasi besar memiliki bobot memadai dalam indeks harga saham gabungan, sehingga pergerakan harganya turut memengaruhi kinerja portofolio institusional. Risiko capital outflow, yakni keluarnya dana asing dari pasar domestik, juga perlu diantisipasi apabila suku bunga global kembali mengalami kenaikan.
Ke depan, keberhasilan Zankore akan sangat bergantung pada tiga faktor: kecepatan adopsi AI oleh dunia usaha domestik, dukungan regulasi tata kelola data, serta keberlanjutan pasokan energi dan chip. Proyeksi sejumlah lembaga menunjukkan permintaan komputasi AI di Asia-Pasifik tumbuh dua digit per tahun hingga 2030, sehingga kapasitas yang dibangun hari ini berpeluang menjadi aset strategis. Namun, disiplin eksekusi dan pengelolaan risiko pendanaan tetap menjadi kata kunci agar ambisi infrastruktur ini benar-benar berkonversi menjadi kontribusi nyata bagi ekonomi digital nasional.
Comments (0)