India Incar Mete dan Pinang RI, BRICS Buka Peluang Pasar

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Desember 2024, nilai perdagangan bilateral Indonesia dan India dalam tiga tahun terakhir bergerak pada kisaran US$24 miliar hingga US$29 miliar, dengan...

Aug 11, 2026 - 07:14
0 0
India Incar Mete dan Pinang RI, BRICS Buka Peluang Pasar

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Desember 2024, nilai perdagangan bilateral Indonesia dan India dalam tiga tahun terakhir bergerak pada kisaran US$24 miliar hingga US$29 miliar, dengan Indonesia konsisten membukukan surplus dagang berkat dominasi ekspor batu bara termal dan minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO). Setelah sempat menyentuh sekitar US$28,8 miliar pada 2022, perdagangan kedua negara mengalami penurunan menjadi mendekati US$24 miliar pada 2023, atau terkontraksi belasan persen secara year-on-year (perbandingan kinerja terhadap periode yang sama tahun sebelumnya). Di tengah tren perlambatan tersebut, muncul kabar baru: India meminta Indonesia memperbesar pasokan produk agrikultur, terutama kacang mete dan pinang.

Permintaan itu disampaikan pemerintah India dalam pertemuan bilateral dengan jajaran Kementerian Perindustrian. Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menilai permintaan tersebut sebagai sinyal positif, sekaligus menegaskan bahwa keanggotaan Indonesia di BRICS membuka akses ke pasar yang jauh lebih luas bagi produk dalam negeri.

Pemerintah menyambut baik permintaan India untuk menambah volume ekspor produk agro dari Indonesia. Kehadiran kita di BRICS merupakan pasar potensial yang harus dimanfaatkan secara maksimal oleh pelaku industri nasional, ujar Faisol.

Mengapa India Membidik Mete dan Pinang?

Dari sisi fundamental, India adalah importir sekaligus pengolah kacang mete mentah terbesar di dunia, dengan kebutuhan impor mendekati satu juta ton per tahun untuk menopang industri pengolahan di wilayah Kerala, Karnataka, dan Tamil Nadu. Sementara itu, produksi mete nasional Indonesia diperkirakan berkisar 140 ribu hingga 160 ribu ton per tahun, dan sebagian besar masih diekspor dalam bentuk mentah. Untuk pinang, India merupakan pasar utama karena buah dari tanaman Areca catechu itu menjadi bahan baku produk konsumsi yang sangat populer di anak benua tersebut. Sentimen pasar terhadap komoditas ini tercermin dari harga pinang kering di tingkat petani Sumatra yang pada 2024 sempat menembus kisaran Rp50.000 per kilogram, mengalami kenaikan dua hingga tiga kali lipat dibandingkan dua tahun sebelumnya.

Di Satu Sisi: Peluang Diversifikasi Ekspor

Di satu sisi, permintaan India membuka ruang diversifikasi portofolio ekspor Indonesia yang selama ini bertumpu pada batu bara dan CPO — dua komoditas yang menyumbang lebih dari 60 persen total ekspor ke India. Produk agro bernilai tambah lebih tinggi berpotensi memperbaiki rasio perdagangan (perbandingan nilai ekspor terhadap impor) sekaligus mengangkat pendapatan petani di sentra produksi seperti Sulawesi, Nusa Tenggara, Riau, Jambi, dan Aceh. Dengan penduduk lebih dari 1,4 miliar jiwa — terbanyak di dunia sejak 2023 mengalahkan China — serta proyeksi pertumbuhan ekonomi sekitar 6,5 persen menurut Dana Moneter Internasional (IMF), India menawarkan pasar dengan likuiditas permintaan yang dalam, yakni kemampuan pasar menyerap pasokan dalam volume besar tanpa menekan harga secara signifikan. Keanggotaan penuh Indonesia di BRICS per Januari 2025 memperkuat posisi tawar tersebut, mengingat blok ini merepresentasikan lebih dari 40 persen populasi dunia dan sekitar seperempat produk domestik bruto (PDB) global.

Di Sisi Lain: Tantangan Tarif, Standar, dan Hilirisasi

Di sisi lain, peluang itu tidak datang tanpa ongkos. India dikenal protektif terhadap sektor pertaniannya; tarif bea masuk pinang, misalnya, tercatat tinggi dan dalam beberapa periode mendekati 100 persen demi melindungi petani lokal, disertai kebijakan harga impor minimum yang bisa berubah sewaktu-waktu mengikuti tekanan politik domestik. Standar sanitary dan phytosanitary (SPS) — aturan keamanan pangan dan kesehatan tanaman — juga kerap menjadi hambatan non-tarif bagi eksportir pemula. Dari sisi logistik, Indeks Kinerja Logistik (Logistics Performance Index/LPI) Bank Dunia 2023 menempatkan Indonesia pada skor 3,0 atau peringkat 63, tertinggal dari India dengan skor 3,4 di peringkat 38. Artinya, biaya pengiriman dan waktu tempuh masih menjadi pekerjaan rumah. Risiko lain adalah jebakan ekspor mentah: tanpa hilirisasi, nilai tambah terbesar tetap dinikmati industri pengolahan India, bukan pelaku usaha domestik.

Proyeksi: Antara Devisa dan Risiko Ketergantungan

Ke depan, proyeksi nilai tambah dari permintaan India akan sangat bergantung pada kemampuan Indonesia menaikkan kelas produk — dari sekadar biji mete mentah menjadi kacang mete olahan, dan dari pinang kering menjadi produk setengah jadi. Dari sisi makro, perluasan pasar ke BRICS berpotensi memperkuat fundamental neraca perdagangan dan menopang stabilitas rupiah. Namun pelaku pasar juga mewaspadai risiko capital outflow (keluarnya dana asing dari pasar domestik) apabila kebijakan perdagangan tidak diiringi kredibilitas fiskal, mengingat valuasi aset Indonesia relatif sensitif terhadap arus modal global. Pada akhirnya, permintaan India adalah pintu masuk; keberhasilan memanfaatkannya ditentukan oleh kualitas produk, efisiensi logistik, dan konsistensi kebijakan hilirisasi — bukan semata oleh besarnya jumlah penduduk negara tujuan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User