IHSG Reli di Akhir Pekan, Rupiah Menguat ke Rp 17.800-an

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) dan kurs referensi Jisdor yang dirilis Bank Indonesia per penutupan perdagangan Jumat akhir pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaika...

Aug 07, 2026 - 19:34
0 0
IHSG Reli di Akhir Pekan, Rupiah Menguat ke Rp 17.800-an

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) dan kurs referensi Jisdor yang dirilis Bank Indonesia per penutupan perdagangan Jumat akhir pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan sekitar 0,9 persen dan ditutup di zona hijau, sementara nilai tukar rupiah menguat ke kisaran Rp 17.800 per dolar Amerika Serikat setelah sempat bergerak di atas Rp 17.900 pada awal pekan. Penguatan ganda di pasar saham dan pasar valuta asing ini memperbaiki sentimen pasar yang sepanjang pekan berjalan volatil akibat ketidakpastian arah kebijakan moneter global serta fluktuasi harga komoditas energi.

Aksi Beli Asing Menjadi Motor Reli IHSG

Data perdagangan mencatat investor asing membukukan aksi beli bersih atau net buy, dengan nilai transaksi harian yang menembus di atas Rp 10 triliun. Saham-saham berkapitalisasi besar di sektor perbankan, infrastruktur, dan komoditas menjadi penggerak utama indeks. Dari sisi valuasi, rasio price-to-earnings (PER) — perbandingan harga saham terhadap laba per saham — IHSG berada di kisaran 13 kali, masih di bawah rata-rata lima tahun terakhir, sehingga pasar saham domestik relatif menarik bagi portofolio global yang mencari imbal hasil di pasar negara berkembang.

Di satu sisi, reli ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi domestik, terutama setelah rilis data inflasi yang terkendali dan pertumbuhan ekonomi yang stabil di kisaran 5 persen year-on-year. Di sisi lain, sejumlah manajer investasi menilai kenaikan akhir pekan ini lebih bersifat technical rebound, yakni pantulan harga setelah indeks mengalami penurunan pada beberapa sesi sebelumnya, sehingga keberlanjutannya masih perlu dikonfirmasi oleh arus dana asing yang konsisten.

Rupiah Menguat, tetapi Level Rp 17.000-an Tetap Jadi Perhatian

Di pasar valas, rupiah mengalami penguatan ke level Rp 17.800-an per dolar AS, didukung oleh stabilisasi likuiditas valuta asing domestik serta langkah Bank Indonesia menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan valas. Penguatan ini juga sejalan dengan pelemahan indeks dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama dunia, yang memberikan ruang bagi mata uang Asia untuk berapresiasi.

Di satu sisi, rupiah yang lebih kuat meredakan risiko inflasi impor (imported inflation), yakni kenaikan harga barang-barang yang dibeli dari luar negeri, sekaligus meringankan beban cicilan utang luar negeri korporasi. Di sisi lain, level rupiah yang masih bertahan di atas Rp 17.000 per dolar menunjukkan tren depresiasi year-on-year yang cukup dalam dibandingkan posisi setahun lalu. Bagi eksportir, rupiah yang lemah justru meningkatkan daya saing harga produk di pasar global, sehingga penguatan yang terlalu tajam dapat memangkas margin mereka.

"Penguatan rupiah ke kisaran Rp 17.800 mencerminkan kembalinya kepercayaan investor terhadap fundamental domestik, tetapi volatilitas global masih menjadi risiko utama yang dapat memicu capital outflow sewaktu-waktu," ujar seorang ekonom pasar modal di Jakarta.

Proyeksi: Penguatan Berlanjut atau Reli Sesaat?

Ke depan, arah pasar akan sangat ditentukan oleh dua variabel utama: kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat dan konsistensi arus modal asing ke aset Indonesia. Pro: jika bank sentral AS memberi sinyal pelonggaran moneter, likuiditas global berpotensi kembali mengalir ke pasar negara berkembang dan menopang IHSG serta rupiah secara bersamaan. Kontra: bila data ekonomi AS justru memperkuat argumen suku bunga tinggi untuk lebih lama, risiko capital outflow — keluarnya dana asing dari pasar domestik — dapat menekan kembali kedua indikator tersebut.

Dari sisi domestik, cadangan devisa yang berada di atas 150 miliar dolar AS memberikan bantalan bagi Bank Indonesia untuk meredam gejolak kurs. Namun, defisit neraca transaksi berjalan dan ketegangan geopolitik global tetap menjadi variabel yang harus dicermati pelaku pasar dalam menyusun proyeksi kuartal mendatang.

Secara keseluruhan, reli IHSG dan penguatan rupiah di akhir pekan memberikan napas bagi pasar setelah periode yang bergejolak. Meski demikian, investor tetap perlu memantau rilis data makroekonomi dan dinamika global sebelum mengambil keputusan, mengingat tren penguatan satu sesi belum tentu berubah menjadi tren jangka menengah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User