Oct 09, 2026
Bisnis

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan di Tengah Ketegangan Yaman

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia dan kurs referensi Bank Indonesia per penutupan sesi terakhir, pasar keuangan domestik menampilkan dinamika yang terbelah: Indeks Harga Saham Gabungan...

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan di Tengah Ketegangan Yaman

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia dan kurs referensi Bank Indonesia per penutupan sesi terakhir, pasar keuangan domestik menampilkan dinamika yang terbelah: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup di zona hijau, sementara nilai tukar rupiah justru kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Fenomena ini muncul bersamaan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya aksi militer yang melibatkan Yaman dan kelompok Houthi di perairan Laut Merah. Bagi pembaca awam, IHSG adalah indeks yang mengukur rata-rata pergerakan harga saham perusahaan tercatat, sedangkan pelemahan rupiah berarti dibutuhkan lebih banyak rupiah untuk membeli satu dolar AS.

Fundamental Domestik Masih Menopang Indeks

Di satu sisi, penguatan IHSG mencerminkan bahwa sentimen pasar terhadap aset berisiko domestik masih relatif terjaga. Beberapa faktor fundamental menjadi penopang, antara lain ekspektasi pertumbuhan laba emiten pada sektor perbankan dan komoditas, serta posisi likuiditas perbankan yang memadai. Indeks bergerak naik dengan dukungan kapitalisasi pasar pada saham-saham berkapitalisasi besar atau big cap. Secara year-on-year, beberapa sektor seperti energi dan barang baku masih mencatatkan kinerja positif seiring tren harga komoditas global yang bertahan di level tinggi.

Kenaikan indeks juga tidak lepas dari strategi portofolio investor institusi domestik yang melakukan akumulasi pada level valuasi tertentu. Rasio harga terhadap laba atau price-to-earnings ratio sebagian emiten dinilai masih berada dalam kisaran wajar, sehingga muncul persepsi bahwa koreksi sebelumnya menciptakan peluang masuk. Dalam konteks ini, penguatan IHSG lebih banyak digerakkan oleh faktor internal dan ekspektasi kinerja korporasi ketimbang sentimen global semata.

Rupiah Tertekan Tekanan Eksternal

Di sisi lain, rupiah justru mengalami penurunan nilainya terhadap dolar AS. Pelemahan ini tidak dapat dilepaskan dari faktor eksternal. Eskalasi ketegangan di Laut Merah dan aksi militer yang melibatkan Yaman serta kelompok Houthi telah memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan rantai pasok global, terutama jalur pelayaran yang menghubungkan Asia dan Eropa. Ketidakpastian geopolitik mendorong investor global beralih ke aset safe haven, khususnya dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat, sehingga capital outflow dari pasar negara berkembang termasuk Indonesia cenderung meningkat.

Tekanan terhadap rupiah juga diperkuat oleh ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat. Jika Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan pada level tinggi lebih lama dari perkiraan, imbal hasil obligasi AS tetap menarik, sehingga selisih suku bunga atau yield spread antara surat berharga Indonesia dan AS menyempit. Kondisi ini menekan nilai tukar dan membuat bank sentral perlu menjaga stabilitas melalui intervensi di pasar valuta asing serta instrumen Surat Berharga Negara.

Respons Kebijakan dan Proyeksi Jangka Pendek

Bank Indonesia menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar melalui triple intervention, yakni intervensi di pasar spot, pasar domestic non-deliverable forward, dan pembelian SBN di pasar sekunder. Strategi ini bertujuan memastikan likuiditas valas tetap memadai dan meredam volatilitas. Dari sisi fiskal, pemerintah terus mengoptimalkan penerimaan negara guna menjaga kredibilitas APBN di mata investor global.

“Tekanan terhadap rupiah saat ini lebih bersifat eksternal dan sementara. Yang perlu dicermati adalah seberapa cepat ketegangan geopolitik mereda, karena itu akan menentukan arah capital flow ke depan,” ujar seorang ekonom pasar modal, menggambarkan pandangan yang beredar di kalangan analis.

Ke depan, terdapat dua skenario yang perlu dicermati. Skenario optimistis, apabila ketegangan di Timur Tengah mereda dan data inflasi AS melandai, rupiah berpotensi kembali menguat dan IHSG melanjutkan tren positif. Skenario pesimistis, apabila konflik berkepanjangan dan harga minyak melonjak, maka tekanan inflasi impor dapat menekan daya beli serta memperlebar defisit transaksi berjalan. Dalam skenario ini, volatilitas pasar keuangan domestik berpotensi meningkat.

Secara keseluruhan, divergensi antara penguatan IHSG dan pelemahan rupiah mencerminkan tarik-menarik antara fundamental domestik yang masih solid dan sentimen global yang sedang tidak bersahabat. Investor perlu mencermati data inflasi, neraca perdagangan, dan cadangan devisa sebagai indikator kunci dalam menilai arah pasar selanjutnya, tanpa terjebak pada reaksi jangka pendek semata.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User