IHSG Menguat di Awal Sesi, Rupiah Stabil di Rp 17.900

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pembukaan perdagangan hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil dibuka menguat, sementara nilai tukar rupiah bertahan di level Rp 17.900 pe...

Aug 07, 2026 - 19:35
0 0
IHSG Menguat di Awal Sesi, Rupiah Stabil di Rp 17.900

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pembukaan perdagangan hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil dibuka menguat, sementara nilai tukar rupiah bertahan di level Rp 17.900 per dolar AS. Pergerakan ini mencerminkan sentimen positif pelaku pasar domestik di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi. Data dari Refinitiv menunjukkan IHSG naik 0,42% ke posisi 7.210,3 pada pukul 09.15 WIB, setelah sebelumnya dibuka di zona hijau sejak bel pembukaan.

Penguatan IHSG ini didorong oleh aksi beli investor asing di sektor perbankan dan energi, dengan net buy asing tercatat mencapai Rp 350 miliar pada 30 menit pertama perdagangan. Sementara itu, rupiah di pasar spot bergerak stabil di kisaran Rp 17.890 hingga Rp 17.915 per dolar AS, menunjukkan intervensi Bank Indonesia yang cukup efektif menjaga likuiditas valas. Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) masih berada di level 104,2, turun tipis 0,1% dari penutupan kemarin, yang memberikan ruang bagi mata uang emerging market untuk bernapas.

Sentimen Domestik Menopang Pergerakan IHSG

Di satu sisi, penguatan IHSG hari ini tidak terlepas dari rilis data inflasi Indonesia yang menunjukkan tren penurunan. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi year-on-year (yoy) pada bulan lalu berada di angka 2,8%, turun dari 3,1% pada bulan sebelumnya. Angka ini lebih rendah dari proyeksi pasar yang memperkirakan 2,95%, sehingga memberikan harapan bahwa Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan atau bahkan melonggarkan kebijakan moneternya dalam jangka pendek. Kondisi ini meningkatkan daya tarik pasar saham domestik karena biaya pinjaman yang lebih rendah dapat mendorong ekspansi korporasi.

Di sisi lain, investor tetap waspada terhadap risiko capital outflow yang masih mengintai. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) mengalami penurunan sebesar Rp 8,2 triliun pada pekan lalu, yang mengindikasikan adanya tekanan jual dari investor global. Namun, aliran dana asing yang masuk ke pasar saham hari ini menunjukkan bahwa terjadi rotasi portofolio dari instrumen utang ke ekuitas, yang dinilai memiliki valuasi lebih menarik setelah koreksi beberapa pekan terakhir. Rasio harga terhadap laba (price-to-earnings ratio) IHSG saat ini berada di level 14,8, lebih rendah dari rata-rata lima tahun sebesar 16,2, sehingga dianggap undervalued oleh sebagian analis.

Rupiah Stabil Berkat Intervensi dan Ekspor

Stabilitas rupiah di level Rp 17.900 per dolar AS tidak lepas dari upaya Bank Indonesia yang gencar melakukan intervensi di pasar valas. Berdasarkan data Bank Indonesia per akhir bulan lalu, cadangan devisa nasional tercatat sebesar 144,3 miliar dolar AS, meningkat 1,2 miliar dolar AS dibandingkan bulan sebelumnya. Angka ini memberikan ruang fiskal yang cukup untuk menahan gejolak nilai tukar. Selain itu, surplus neraca perdagangan Indonesia yang mencapai 4,7 miliar dolar AS pada bulan lalu, didorong oleh ekspor batu bara dan nikel, menjadi penyangga fundamental yang kuat bagi rupiah.

Pro: sejumlah ekonom menilai bahwa level Rp 17.900 masih dapat dipertahankan dalam beberapa pekan ke depan, mengingat harga komoditas global yang masih tinggi dan kebijakan moneter AS yang cenderung tidak terlalu hawkish. Kontra: tekanan eksternal tetap nyata, terutama dari ketidakpastian kebijakan suku bunga The Fed yang masih bisa naik 25 basis poin pada pertemuan berikutnya. Jika itu terjadi, dolar AS akan menguat kembali dan rupiah berpotensi terdepresiasi menuju Rp 18.100 per dolar AS. Namun, dengan inflasi AS yang mulai melandai ke 3,2% year-on-year, banyak pihak memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga hingga akhir tahun.

Proyeksi dan Strategi Pelaku Pasar

Ke depan, pergerakan IHSG dan rupiah akan sangat dipengaruhi oleh data tenaga kerja AS yang akan dirilis akhir pekan ini. Jika data non-farm payroll menunjukkan penambahan lapangan kerja di bawah 150 ribu, maka sentimen risiko global akan membaik dan IHSG berpeluang menembus level 7.300 dalam dua pekan ke depan. Sebaliknya, jika data tersebut lebih kuat dari perkiraan, maka tekanan jual di pasar emerging market akan kembali terjadi. Analis teknikal mencatat bahwa IHSG memiliki support kuat di level 7.150 dan resistance di 7.250, dengan indikator moving average 50 hari yang masih berada di atas harga saat ini, mengindikasikan tren jangka pendek yang positif.

Bagi investor ritel, penting untuk mencermati rasio likuiditas dan fundamental emiten sebelum mengambil posisi. Sektor yang paling diuntungkan dari pelemahan rupiah adalah perusahaan berbasis ekspor, seperti tambang dan perkebunan, karena pendapatan mereka dalam dolar AS. Sementara itu, sektor yang berpotensi tertekan adalah yang memiliki utang dalam dolar AS, seperti properti dan penerbangan. Dengan volatilitas yang masih tinggi, para pelaku pasar disarankan untuk tidak melakukan aksi spekulatif berlebihan dan fokus pada diversifikasi portofolio. Berdasarkan data historis, IHSG cenderung menguat pada kuartal keempat, dengan rata-rata return sebesar 3,5% sejak 2010, sehingga optimisme tetap terjaga meski risiko global belum sepenuhnya mereda.

Secara keseluruhan, penguatan IHSG dan stabilitas rupiah hari ini menunjukkan resiliensi ekonomi Indonesia di tengah gejolak global. Namun, investor harus tetap waspada terhadap perubahan sentimen pasar yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Dengan fundamental yang solid, seperti inflasi terkendali, cadangan devisa yang memadai, dan neraca perdagangan yang surplus, Indonesia memiliki daya tahan yang lebih baik dibandingkan negara emerging market lainnya. Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan terus menjaga koordinasi kebijakan untuk memastikan stabilitas makroekonomi, sehingga pasar keuangan domestik dapat tumbuh berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User