IHSG Lanjutkan Reli di Tengah RUU Larangan Kapal AS-Israel di Selat Hormuz

Berdasarkan data Bank Indonesia per 23 Juni 2025, rupiah bergerak di kisaran Rp16.350 per dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat sekitar 0,8 persen ke level 6.950 pada ...

Aug 09, 2026 - 11:57
0 0
IHSG Lanjutkan Reli di Tengah RUU Larangan Kapal AS-Israel di Selat Hormuz

Berdasarkan data Bank Indonesia per 23 Juni 2025, rupiah bergerak di kisaran Rp16.350 per dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat sekitar 0,8 persen ke level 6.950 pada perdagangan awal pekan. Penguatan ini terjadi justru ketika ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat, menyusul langkah parlemen Iran yang menyetujui rancangan undang-undang (RUU) untuk menutup Selat Hormuz bagi kapal-kapal Amerika Serikat dan Israel. Kombinasi antara risiko eksternal dan optimisme domestik menciptakan dinamika pasar yang menarik untuk dicermati.

RUU Selat Hormuz dan Implikasinya bagi Pasar Energi Global

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran paling strategis di dunia. Sekitar 20 persen dari total perdagangan minyak global, atau setara 17 hingga 20 juta barel per hari, melintasi selat yang memisahkan Iran dan Oman tersebut. Persetujuan parlemen Iran atas RUU larangan kapal AS dan Israel melintasi selat ini menjadi eskalasi serius, meskipun keputusan akhir tetap berada di tangan Dewan Keamanan Nasional Iran.

Di satu sisi, penutupan Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Harga minyak Brent sempat menyentuh level US$77 per barel, mengalami kenaikan sekitar 10 persen dibanding posisi sebelum konflik Iran-Israel memanas. Di sisi lain, sejumlah analis menilai penutupan penuh sulit terwujud karena akan merugikan Iran sendiri, mengingat sebagian besar ekspor minyaknya ke China juga melalui jalur yang sama.

"Pasar saat ini memperlakukan risiko geopolitik sebagai faktor temporer. Namun jika gangguan pasokan benar-benar terjadi, harga minyak berpotensi menembus US$90 hingga US$100 per barel dalam waktu singkat," ujar seorang analis energi dalam riset pasar terbaru.

Dampak Harga Minyak terhadap Fundamental Ekonomi Domestik

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak bersifat pedang bermata dua. Di satu sisi, Indonesia merupakan eksportir komoditas energi seperti batu bara dan gas, sehingga penerimaan ekspor berpeluang meningkat. Di sisi lain, Indonesia adalah importir neto minyak dengan konsumsi sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik hanya sekitar 600 ribu barel per hari. Defisit neraca migas berisiko melebar jika harga minyak bertahan di level tinggi.

Dari sisi fiskal, asumsi harga minyak dalam APBN 2025 dipatok sekitar US$82 per barel. Jika realisasi melampaui asumsi tersebut secara berkelanjutan, beban subsidi energi akan membengkak dan menekan ruang fiskal. Inflasi juga berpotensi terkerek, padahal data BPS menunjukkan inflasi Mei 2025 masih terkendali di 1,6 persen year-on-year, berada di bawah kisaran target Bank Indonesia sebesar 2,5 ± 1 persen. Kenaikan harga energi yang ditransmisikan ke harga barang impor dikenal sebagai imported inflation, yakni inflasi yang bersumber dari lonjakan harga komoditas global.

Reli IHSG: Fundamental Kuat atau Sekadar Sentimen?

Menariknya, IHSG justru melanjutkan reli di tengah ketidakpastian global. Sepanjang sepekan terakhir, indeks acuan menguat lebih dari 2 persen, ditopang aksi beli investor asing yang mencatatkan net buy sekitar Rp1,2 triliun. Sektor perbankan dan konsumer menjadi motor utama penguatan indeks.

Pro: Valuasi pasar saham Indonesia masih menarik. Rasio price-to-earnings (PER)—perbandingan harga saham terhadap laba per saham—IHSG berada di sekitar 12 kali, di bawah rata-rata lima tahun sekitar 15 kali. Likuiditas domestik juga membaik setelah Bank Indonesia memangkas suku bunga acuan menjadi 5,5 persen pada Mei 2025, yang mendorong pergeseran dana dari instrumen pendapatan tetap ke saham. Fundamental emiten perbankan tetap solid dengan rasio kecukupan modal (CAR) di atas 25 persen berdasarkan data OJK.

Kontra: Reli ini rentan koreksi jika eskalasi Timur Tengah berlanjut. Risiko capital outflow—keluarnya dana asing dari pasar domestik—meningkat ketika investor global beralih ke aset aman seperti emas dan dolar AS. Harga emas dunia tercatat bertahan di level US$3.370 per ons troi, mencerminkan tingginya permintaan aset lindung nilai. Sentimen pasar dapat berbalik cepat apabila gangguan pasokan energi benar-benar terjadi.

Proyeksi: Skenario yang Perlu Dicermati Pelaku Pasar

Ke depan, arah pasar akan sangat ditentukan oleh dua variabel: perkembangan konflik di Timur Tengah dan respons kebijakan moneter global. Jika ketegangan mereda, harga minyak berpotensi kembali ke kisaran US$65–70 per barel dan IHSG berpeluang menguji level psikologis 7.000. Sebaliknya, jika Selat Hormuz benar-benar terganggu, tren penguatan indeks bisa terhenti dalam waktu singkat.

Dalam konteks portofolio, prinsip diversifikasi tetap relevan. Pelaku pasar sebaiknya memantau indikator makro seperti neraca perdagangan dan cadangan devisa yang per Mei 2025 tercatat sekitar US$152 miliar, serta arah kebijakan The Fed yang memengaruhi arus modal ke pasar negara berkembang. Analisis berimbang antara peluang dan risiko menjadi kunci menghadapi volatilitas yang diperkirakan masih berlanjut dalam beberapa pekan ke depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User