IHSG Dibuka Dua Arah, Tertahan di Level Psikologis 6.300
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pembukaan perdagangan pagi ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak dua arah. Indeks sempat menguat pada menit-menit awal sesi pertama, namun h...
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pembukaan perdagangan pagi ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak dua arah. Indeks sempat menguat pada menit-menit awal sesi pertama, namun hanya berselang beberapa menit kemudian berbalik melemah dan tertahan di kisaran level 6.300. Pergerakan yang berfluktuasi ini mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar di tengah tarik-menarik sentimen domestik dan global.
Dari sisi makroekonomi, fundamental Indonesia sebenarnya tengah berada dalam fase pemulihan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia pada kuartal III-2021 tumbuh 3,51 persen year-on-year, melambat dibanding kuartal sebelumnya yang mencapai 7,07 persen, namun tetap berada di zona positif. Sementara itu, inflasi Oktober 2021 tercatat rendah di level 1,66 persen year-on-year, berada di bawah kisaran target Bank Indonesia sebesar 2-4 persen. Bank Indonesia sendiri mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate di level 3,50 persen, level terendah dalam sejarah, demi menjaga momentum pemulihan ekonomi.
Sentimen Global Membayangi Pasar Domestik
Di satu sisi, tekanan terhadap IHSG pagi ini tidak lepas dari perkembangan global. Bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, resmi memulai tapering, yakni pengurangan pembelian aset senilai 15 miliar dolar AS per bulan dari total pembelian sebelumnya 120 miliar dolar AS. Kebijakan ini berpotensi memicu capital outflow, yaitu keluarnya dana asing dari pasar negara berkembang termasuk Indonesia, karena imbal hasil aset di negara maju menjadi relatif lebih menarik.
Selain itu, inflasi AS yang melonjak ke 6,2 persen year-on-year pada Oktober 2021, tertinggi dalam tiga dekade terakhir, menambah kekhawatiran pasar bahwa The Fed akan mempercepat normalisasi kebijakan moneternya. Kekhawatiran tersebut tercermin dari pergerakan nilai tukar rupiah yang berada di kisaran Rp 14.200 per dolar AS.
Fundamental Domestik Masih Memberi Topangan
Di sisi lain, sejumlah indikator domestik masih menjadi penopang bagi indeks. Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus beruntun selama 18 bulan, dengan surplus Oktober 2021 sebesar 5,73 miliar dolar AS, salah satu yang tertinggi dalam sejarah. Cadangan devisa juga berada di level kuat sekitar 145 miliar dolar AS. Kondisi ini menjaga likuiditas pasar serta kepercayaan investor terhadap aset berdenominasi rupiah.
"Level 6.300 merupakan level psikologis yang cukup kuat. Sepanjang fundamental makro domestik terjaga dan arus modal asing tidak keluar secara masif, indeks masih berpeluang kembali menguji level tersebut, meski volatilitas jangka pendek tetap perlu diwaspadai," ujar seorang analis pasar modal di Jakarta.
Pro dan Kontra di Kalangan Pelaku Pasar
Pro: kalangan optimis menilai valuasi pasar saham Indonesia masih menarik. Rasio price to earning (PER), yakni perbandingan harga saham terhadap laba per saham, berada di kisaran 15-16 kali, relatif lebih murah dibanding sejumlah bursa regional. Ditambah tren kenaikan harga komoditas seperti batu bara dan minyak sawit yang mengangkat kinerja sektor tambang serta perkebunan, indeks dinilai masih memiliki ruang penguatan hingga akhir tahun.
Kontra: pihak yang berhati-hati mengingatkan risiko perlambatan ekonomi China serta potensi kenaikan kasus Covid-19 di sejumlah negara yang dapat menekan kinerja korporasi. Sentimen pasar juga dibayangi kekhawatiran capital outflow jika The Fed mempercepat kenaikan suku bunga. Bagi investor dengan portofolio jangka pendek, fase konsolidasi seperti pagi ini kerap dimanfaatkan untuk aksi ambil untung.
Proyeksi Pergerakan Indeks
Secara teknikal, level 6.300 menjadi resistance, atau batas atas, terdekat yang perlu ditembus indeks untuk melanjutkan tren penguatan. Sementara level support, atau batas bawah, berada di kisaran 6.200-6.250. Pergerakan indeks ke depan akan sangat dipengaruhi oleh arus dana asing, rilis data ekonomi domestik, serta perkembangan kebijakan moneter global.
Analisis ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor dengan mempertimbangkan profil risiko masing-masing.
Comments (0)