Hui Ka Yan Divonis Bui Seumur Hidup, Harta Taipan Evergrande Luntur

Berdasarkan data Forbes Billionaires List 2017, Hui Ka Yan—pendiri raksasa properti China Evergrande Group—pernah menempati posisi sebagai orang terkaya di Asia dengan kekayaan bersih US$42,5 mili...

Aug 23, 2026 - 08:09
0 0
Hui Ka Yan Divonis Bui Seumur Hidup, Harta Taipan Evergrande Luntur

Berdasarkan data Forbes Billionaires List 2017, Hui Ka Yan—pendiri raksasa properti China Evergrande Group—pernah menempati posisi sebagai orang terkaya di Asia dengan kekayaan bersih US$42,5 miliar, atau setara lebih dari Rp560 triliun pada kurs saat itu. Delapan tahun kemudian, pria 66 tahun itu mengakhiri kariernya di balik jeruji. Pengadilan di China, Kamis (20/8), menjatuhkan vonis bui seumur hidup atas rangkaian kejahatan finansial yang menyeret pengembang properti terbesar China itu ke jurang utang.

Bagi pembaca awam, Evergrande bukan sekadar pengembang properti biasa. Perusahaan yang didirikan Hui Ka Yan di Guangzhou pada 1996 ini pernah memimpin industri berdasarkan nilai penjualan, dengan proyek yang tersebar di lebih dari 200 kota. Namun di balik gemerlapnya, fundamental perusahaan sesungguhnya sudah rapuh sejak lama.

Dari Puncak Kekayaan ke Titik Nadir

Tren kekayaan Hui Ka Yan mengalami penurunan drastis seiring runtuhnya Evergrande. Jika pada 2017 Forbes menaksir hartanya di US$42,5 miliar, per 2023 nilai itu menyusut lebih dari 97 persen menjadi kisaran US$1 miliar. Penurunan ini sejalan dengan anjloknya harga saham Evergrande di Bursa Hong Kong, dari puncaknya di atas HK$30 per lembar menjadi di bawah HK$0,2 sebelum perdagangan dihentikan.

Krisis dimulai ketika Evergrande mengalami default—gagal membayar kewajibannya—pada Desember 2021. Total utang perusahaan tercatat mencapai 2,39 triliun yuan atau sekitar US$330 miliar, angka yang lebih besar dari produk domestik regional banyak negara. Pada Januari 2024, pengadilan Hong Kong bahkan mengeluarkan perintah likuidasi terhadap induk perusahaan.

Penyidik menemukan bahwa unit pengembangnya, Hengda Real Estate, menggelembungkan pendapatan sebesar 564 miliar yuan atau sekitar US$78 miliar sepanjang 2019-2020. Praktik ini dikenal sebagai rekayasa laporan keuangan, yakni menampilkan angka penjualan fiktif agar perusahaan tampak sehat dan mudah menghimpun dana. Atas pelanggaran itu, Evergrande didenda 4,175 miliar yuan, sementara Hui Ka Yan dijatuhi denda pribadi 47 juta yuan.

Di Satu Sisi, Di Sisi Lain

Di satu sisi, vonis berat ini dinilai sebagai wujud penegakan hukum yang tegas. Pemerintah China tengah membersihkan sektor propertinya dari praktik korporasi yang terlalu bergantung pada utang (highly leveraged). Vonis bui seumur hidup diyakini menjadi efek jera bagi para eksekutif agar tidak mengorbankan pembeli rumah dan kreditur. Dalam jangka panjang, sentimen pasar berpotensi membaik karena aturan main menjadi lebih jelas.

Di sisi lain, sejumlah pengamat khawatir vonis ini justru memperburuk kepercayaan investor asing. Sektor properti menyumbang sekitar 25-29 persen produk domestik bruto (PDB) China bila dihitung dari seluruh rantai industri terkait. Sektor yang sudah lesu ditambah ketidakpastian hukum berpotensi memicu capital outflow, yaitu perputaran modal keluar dari pasar berkembang menuju aset yang dianggap lebih aman seperti obligasi pemerintah Amerika Serikat.

"Kasus Evergrande menegaskan bahwa valuasi korporasi raksasa bisa runtuh dalam hitungan tahun apabila fundamentalnya dibangun di atas utang berlebihan dan laporan keuangan yang direkayasa," ujar seorang pengamat ekonomi Asia dalam kajiannya mengenai krisis properti China.

Dampak ke Kantong Rumah Tangga China

Yang paling terdampak dari runtuhnya Evergrande bukan hanya investor institusi, melainkan jutaan rumah tangga. Berbagai survei lembaga riset menunjukkan sekitar 60-70 persen kekayaan rumah tangga China tersimpan dalam bentuk properti. Ribuan pembeli rumah telah membayar uang muka untuk unit yang hingga kini belum selesai dibangun, sehingga persoalan likuiditas pengembang berkembang menjadi isu sosial, bukan sekadar isu korporasi.

Proyeksi pemulihan sektor properti China sendiri masih terbelah. Sebagian ekonom memperkirakan tren kontraksi akan mereda pada 2025-2026 seiring paket stimulus pemerintah, termasuk pelonggaran ketentuan kredit dan program percepatan penyelesaian proyek tertunda. Sebagian lainnya berpandangan bahwa demografi yang menua serta kelebihan pasokan hunian akan membuat sektor ini sulit kembali ke masa jayanya.

Pelajaran bagi Pasar Global

Bagi investor ritel Indonesia, kisah ini menyisakan pelajaran penting: selalu periksa rasio utang terhadap ekuitas serta kualitas laba sebuah perusahaan sebelum menilai valuasinya. Angka pertumbuhan penjualan yang terlalu indah di tengah tekanan industri patut dicermati lebih dalam. Sejarah mencatat, korporasi sebesar apa pun tetap rentan bila tata kelolanya gagal.

Hui Ka Yan kini menjalani vonis bui seumur hidup. Kekayaan yang pernah menjadikannya taipan terkaya Asia tinggal sejarah, dan kasusnya tercatat sebagai salah satu episode terbesar dalam sejarah krisis properti global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User