Berdasarkan data Kementerian Kesehatan dan asosiasi industri alat kesehatan per Oktober 2025, pameran Hospital Expo ke-38 kembali digelar pada 7-10 Oktober dengan mengangkat teknologi berbasis kecerdasan buatan sebagai tema utama. Ajang ini menjadi barometer penting bagi sektor kesehatan nasional, terutama setelah pasar alat kesehatan global diproyeksikan tumbuh dari USD 512 miliar pada 2024 menuju USD 886 miliar pada 2032, setara pertumbuhan tahunan majemuk sekitar 7,1 persen.
Bagi pembaca awam, kecerdasan buatan atau AI dalam konteks ini merujuk pada sistem perangkat lunak yang mampu menganalisis citra medis, memprediksi risiko penyakit, hingga mengotomatisasi alur layanan rumah sakit. Adopsinya dianggap sebagai tren yang mengubah lanskap fundamental industri alat kesehatan, bukan sekadar sentimen pasar jangka pendek.
Di Satu Sisi: Momentum Ekspansi dan Kemitraan Bisnis
Di satu sisi, penyelenggaraan pameran berskala internasional ini menghadirkan peluang nyata bagi perluasan jaringan kemitraan bisnis. Pelaku industri dapat bertemu langsung dengan distributor lokal maupun mancanegara dalam satu forum, sehingga proses negosiasi, penjajakan portofolio produk, dan penandatanganan kerja sama berlangsung lebih efisien dibandingkan pendekatan konvensional.
Pemerintah sendiri menargetkan penguatan kemandirian alat kesehatan dalam negeri. Tingkat komponen dalam negeri (TKDN) untuk sejumlah kategori alkes ditargetkan menembus 40 persen pada 2026, naik dari posisi sekitar 35 persen pada 2024. Ajang seperti ini menjadi katalis likuiditas bisnis bagi produsen lokal yang ingin masuk ke rantai pasok global.
"Pameran ini bukan sekadar ajang pameran produk, tetapi ruang temu antara inovasi teknologi dan kebutuhan riil fasilitas kesehatan," ujar seorang pelaku industri alat kesehatan dalam diskusi panel pembukaan.
Dari kacamata valuasi, perusahaan yang mampu mengintegrasikan AI ke dalam perangkat medis berpotensi menikmati margin lebih tinggi, karena nilai tambah perangkat meningkat signifikan dibanding alkes konvensional. Proyeksi pertumbuhan segmen AI kesehatan di Asia Tenggara disebut berada di kisaran 20-25 persen year-on-year hingga 2030.
Di Sisi Lain: Kesenjangan Adopsi dan Kesiapan Infrastruktur
Di sisi lain, optimisme tersebut perlu diuji dengan realitas kesenjangan adopsi di lapangan. Sebagian besar rumah sakit daerah masih bergulat dengan keterbatasan infrastruktur digital, mulai dari konektivitas internet yang tidak stabil hingga minimnya tenaga terlatih. Tanpa ekosistem pendukung, teknologi AI berisiko hanya menjadi etalase di pameran tanpa implementasi berkelanjutan.
Aspek pembiayaan juga menjadi ganjalan. Harga perangkat berbasis AI umumnya 1,5 hingga 3 kali lebih mahal dibanding peralatan konvensional sejenis. Bagi rumah sakit dengan rasio belanja modal yang ketat, keputusan investasi ini menuntut kajian kelayakan yang cermat, termasuk menghitung periode pengembalian modal dan proyeksi arus kas jangka panjang.
"Investasi teknologi kesehatan tidak bisa dilepaskan dari kesiapan sumber daya manusia dan tata kelola data," kata seorang pengamat kebijakan kesehatan dalam forum terpisah.
Selain itu, isu perlindungan data pasien menjadi perhatian serius. Regulasi pelindungan data pribadi menuntut kepatuhan ketat dalam pengelolaan informasi medis, sehingga adopsi AI harus disertai kerangka tata kelola yang mumpuni. Tanpa itu, potensi capital outflow justru dapat terjadi apabila pelaku lokal kalah bersaing dalam hal kepatuhan dan standardisasi.
Proyeksi Tren dan Fundamental Sektor
Melihat kedua perspektif tersebut, pameran ini sejatinya mencerminkan transisi industri kesehatan menuju era digital yang lebih terukur. Indeks kepercayaan pelaku usaha di sektor alkes diperkirakan bergerak positif, ditopang kebutuhan pascapandemi yang masih tinggi serta program transformasi digital rumah sakit.
Namun, fundamental sektor ini tetap bergantung pada tiga pilar: ketersediaan anggaran, kapasitas SDM, dan kepastian regulasi. Selama ketiganya belum seimbang, pertumbuhan adopsi AI berpotensi tidak merata antara rumah sakit di kota besar dan daerah.
Kesimpulannya, ajang ini menawarkan cermin dua sisi: peluang ekspansi bisnis dan kemitraan yang luas di satu sisi, serta tantangan kesiapan infrastruktur dan pembiayaan di sisi lain. Bagi pelaku industri dan pemangku kebijakan, kuncinya bukan sekadar menghadirkan teknologi terbaru, melainkan memastikan teknologi tersebut benar-benar dapat diakses, digunakan, dan memberi manfaat nyata bagi layanan kesehatan masyarakat.
Comments (0)