Oct 12, 2026
Bisnis

Hormuz Kembali Terbuka, Kenapa Harga BBM Tetap Mahal?

Berdasarkan data energi internasional per kuartal terbaru, pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz belum serta-merta menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) di pasar global maupun domestik. S...

Hormuz Kembali Terbuka, Kenapa Harga BBM Tetap Mahal?

Berdasarkan data energi internasional per kuartal terbaru, pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz belum serta-merta menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) di pasar global maupun domestik. Selat yang selama ini menjadi urat nadi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia itu memang kembali dilalui tanker, namun biaya logistik yang membengkak menjadi penghambat utama. Data menunjukkan komponen biaya pengiriman minyak dari kawasan Teluk Persia meroket dari hanya US$2 per barel menjadi sekitar US$33 per barel—kenaikan lebih dari 15 kali lipat dibanding periode normal tahun lalu.

Kenaikan biaya angkut ini terjadi karena premi risiko asuransi pelayaran (war risk premium) masih sangat tinggi. Perusahaan pelayaran dan asuransi menilai jalur tersebut belum sepenuhnya aman, sehingga mereka membebankan biaya ekstra kepada setiap kargo minyak yang melintas. Akibatnya, meskipun secara fisik pasokan minyak bisa mengalir, harga yang harus dibayar konsumen akhir tetap mahal.

Mengapa Biaya Logistik Melonjak?

Di satu sisi, lonjakan biaya logistik adalah konsekuensi wajar dari ketidakpastian geopolitik yang belum sepenuhnya mereda. Pasar minyak sangat sensitif terhadap sentimen keamanan. Ketika risiko serangan atau penyanderaan tanker masih dianggap tinggi, pelaku pasar meminta kompensasi berupa premi risiko yang besar. Ini adalah mekanisme fundamental dalam ekonomi pelayaran: semakin tinggi persepsi risiko, semakin mahal biaya pengiriman.

Selain itu, keterbatasan kapal tanker yang bersedia melintas juga memperketat likuiditas armada. Sejumlah operator memilih mengalihkan rute melalui jalur alternatif yang lebih panjang, seperti mengelilingi Tanjung Harapan di Afrika. Rute ini menambah waktu tempuh hingga 10–14 hari dan meningkatkan konsumsi bahan bakar kapal, yang pada akhirnya turut mendorong biaya pengiriman per barel.

Di sisi lain, ada argumen bahwa tingginya harga BBM saat ini tidak semata-mata disebabkan oleh biaya logistik. Faktor struktural seperti kapasitas kilang yang terbatas, kebijakan subsidi energi di berbagai negara, serta volatilitas nilai tukar turut berperan. Beberapa analis menilai bahwa bahkan jika Selat Hormuz sepenuhnya normal, harga BBM tidak akan langsung turun karena ada jeda waktu (lag) antara perbaikan pasokan dan penyesuaian harga di tingkat ritel.

Pro: pembukaan jalur ini tetap positif karena mencegah krisis pasokan yang lebih parah. Tanpa pembukaan, harga minyak bisa menembus US$150 per barel. Kontra: manfaatnya tidak dirasakan konsumen karena biaya logistik yang masih tiga digit persen di atas normal.

Dampak ke Indonesia dan Proyeksi ke Depan

Bagi Indonesia, kenaikan biaya logistik global ini berdampak langsung pada harga minyak mentah impor. Meskipun Indonesia memiliki produksi dalam negeri, sekitar 60 persen kebutuhan minyak mentah masih dipenuhi melalui impor. Setiap kenaikan US$10 per barel pada harga minyak mentah global berpotensi menambah beban subsidi energi dan defisit neraca perdagangan.

Berdasarkan proyeksi sejumlah lembaga keuangan internasional, premi risiko pelayaran diperkirakan baru akan turun signifikan dalam 6–9 bulan ke depan, tergantung pada perkembangan stabilitas kawasan. Jika kondisi membaik, biaya pengiriman bisa turun ke kisaran US$10–15 per barel, yang akan memberikan ruang penurunan harga BBM secara bertahap.

"Pasar minyak tidak hanya bereaksi terhadap pasokan fisik, tetapi juga terhadap persepsi risiko. Selama premi asuransi masih tinggi, harga BBM akan sulit turun meski jalur pelayaran sudah terbuka," ujar seorang ekonom energi internasional.

Dengan demikian, pembukaan Selat Hormuz adalah langkah awal yang penting, namun bukan solusi instan. Dibutuhkan perbaikan sentimen pasar, penurunan premi risiko, dan normalisasi likuiditas armada tanker agar harga BBM kembali ke level fundamentalnya. Tanpa itu, konsumen harus bersiap menghadapi harga energi yang tetap tinggi dalam beberapa bulan mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User