Oct 12, 2026
Bisnis

KRI Sriwijaya dan Jejak Garibaldi: Antara Sejarah dan Kedaulatan Maritim

Berdasarkan data Kementerian Pertahanan dan laporan sejumlah kantor berita internasional per Februari 2024, kapal induk pertama yang dimiliki Indonesia resmi berlayar menuju perairan Nusantara. Kapal ...

KRI Sriwijaya dan Jejak Garibaldi: Antara Sejarah dan Kedaulatan Maritim

Berdasarkan data Kementerian Pertahanan dan laporan sejumlah kantor berita internasional per Februari 2024, kapal induk pertama yang dimiliki Indonesia resmi berlayar menuju perairan Nusantara. Kapal yang sebelumnya menyandang nama Giuseppe Garibaldi itu kini berganti identitas menjadi KRI Sriwijaya, menandai babak baru dalam portofolio alutsista nasional. Perpindahan nama ini bukan sekadar seremonial, melainkan simbol transisi dari warisan sejarah Eropa ke narasi kedaulatan maritim Indonesia.

Untuk memahami implikasinya, penting menelusuri sosok di balik nama lama kapal tersebut. Giuseppe Garibaldi adalah tokoh kunci penyatuan Italia pada abad ke-19, yang dikenal sebagai salah satu arsitek Risorgimento atau kebangkitan nasional Italia. Namanya diabadikan pada kapal induk ringan yang mulai beroperasi pada 1985 dan telah bertugas selama hampir empat dekade dalam berbagai misi internasional. Kini, nama itu dilepas dan digantikan dengan Sriwijaya, merujuk pada kerajaan maritim besar yang pernah menguasai jalur perdagangan Selat Malaka dan sekitarnya pada abad ke-7 hingga ke-13.

Mengapa Nama Sriwijaya Dipilih?

Pemilihan nama Sriwijaya mencerminkan upaya membangun identitas pertahanan yang berakar pada sejarah nusantara. Sriwijaya dikenal sebagai kekuatan maritim yang mengandalkan armada dagang dan angkatan laut untuk menjaga hegemoninya atas jalur pelayaran strategis. Dalam konteks kekinian, penamaan kapal induk dengan nama kerajaan maritim dapat dibaca sebagai pernyataan bahwa Indonesia ingin memproyeksikan kekuatan laut yang setara dengan warisan historisnya.

Di satu sisi, langkah ini memperkuat sentimen kebanggaan nasional dan memberi legitimasi kultural pada program modernisasi alutsista. Di sisi lain, pengamat pertahanan mengingatkan bahwa penggantian nama tidak otomatis meningkatkan kapasitas operasional. Kapal induk memerlukan ekosistem pendukung, mulai dari pesawat tempur, helikopter anti-kapal selam, hingga sistem komando dan kendali yang terintegrasi.

"Kapal induk bukan sekadar lambang, tetapi pusat gravitasi dari seluruh grup tempur. Tanpa dukungan logistik dan doktrin yang matang, efek militernya terbatas," ujar seorang analis pertahanan maritim dalam sebuah diskusi akademik di Jakarta.

Dampak pada Fundamental Pertahanan dan Likuiditas Anggaran

Dari perspektif fiskal, kehadiran kapal induk berpotensi mengubah rasio belanja pertahanan terhadap Produk Domestik Bruto. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, anggaran pertahanan Indonesia berada di kisaran 0,7% hingga 0,9% PDB dalam lima tahun terakhir, jauh di bawah rata-rata kawasan yang mencapai 1,5% hingga 2%. Jika operasional kapal induk ini berjalan penuh, tekanan pada anggaran pemeliharaan dan pelatihan diperkirakan meningkat signifikan.

Pro: kapal induk memperbesar jangkauan operasi TNI AL, memperkuat diplomasi pertahanan, dan membuka peluang kerja sama industri dengan negara mitra. Kontra: biaya siklus hidup kapal induk bisa mencapai dua hingga tiga kali harga pembelian awal, sehingga berisiko menggeser alokasi untuk matra lain. Sejumlah ekonom menyarankan agar pemerintah menyiapkan kerangka pembiayaan jangka panjang, termasuk skema kerja sama industri pertahanan dan alih teknologi.

Tren Pengadaan Alutsista dan Proyeksi ke Depan

Langkah ini juga harus dibaca dalam tren global. Berdasarkan data lembaga riset perdamaian internasional, belanja militer dunia pada 2023 mencapai rekor tertinggi, dipicu ketegangan geopolitik di Indo-Pasifik dan Eropa. Kapal induk menjadi salah satu instrumen utama dalam proyeksi kekuatan laut, terutama bagi negara dengan garis pantai panjang seperti Indonesia yang memiliki lebih dari 17.000 pulau.

Namun, valuasi strategis kapal induk sangat bergantung pada doktrin. Jika ditempatkan sebagai pusat komando operasi gabungan, nilainya bisa sangat besar. Sebaliknya, tanpa dukungan armada pendamping dan pengawasan udara yang memadai, kapal ini rentan menjadi sasaran. Di sisi lain, kehadirannya dapat menjadi katalis bagi industri pertahanan domestik, terutama dalam pemeliharaan, perbaikan, dan rekayasa ulang komponen.

"Indonesia perlu menghitung tidak hanya harga beli, tapi total biaya kepemilikan selama 30 tahun. Itu angka yang jarang masuk ke ruang publik," kata seorang ekonom pertahanan dari sebuah universitas negeri.

Dengan likuiditas fiskal yang terbatas dan kebutuhan pembangunan lain yang besar, keputusan ini menuntut transparansi. Publik berhak mengetahui struktur pembiayaan, skema offset, dan proyeksi belanja operasional tahunan. Tanpa itu, kapal induk berisiko dilihat sebagai proyek prestise ketimbang investasi pertahanan yang terukur.

Ke depan, keberhasilan KRI Sriwijaya tidak diukur dari namanya, melainkan dari kesiapan operasi, keselamatan awak, dan kontribusinya terhadap stabilitas kawasan. Fundamental pertahanan Indonesia memang sedang diuji, dan kapal induk ini akan menjadi cermin apakah ambisi maritim kita berjalan seiring dengan kapasitas nyata.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User