Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital serta proyeksi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional per 2024, gelombang investasi pusat data kecerdasan buatan di Indonesia berpotensi menambah kapasitas komputasi nasional hingga lebih dari 1.000 megawatt dalam lima tahun ke depan. Angka itu setara dengan lonjakan kebutuhan listrik sebuah kota menengah. Namun di balik narasi ekonomi digital yang gemilang, muncul pertanyaan fundamental yang jarang dibahas dalam forum investasi: dari mana pasokan air yang cukup untuk mendinginkan mesin-mesin tersebut, dan seberapa siap infrastruktur Indonesia menanggungnya?
Pusat data AI memang bukan gudang server biasa. Kepadatan rak yang menampung unit pemroses grafis berperforma tinggi menghasilkan panas jauh lebih besar daripada server konvensional. Sistem pendingin cair (liquid cooling) maupun pendingin udara presisi membutuhkan air dalam volume signifikan, baik langsung sebagai media pendingin maupun tidak langsung melalui menara pendingin dan pembangkit listrik yang memasok energinya.
Berapa Banyak Air yang Sebenarnya Dibutuhkan?
Merujuk studi industri yang lazim dijadikan acuan, sebuah pusat data berskala menengah dengan kapasitas 100 megawatt dapat mengonsumsi air hingga juta liter per hari pada musim panas, tergantung teknologi pendingin yang dipakai. Konsumsi itu setara dengan kebutuhan air harian ratusan ribu rumah tangga. Jika proyeksi tambahan kapasitas 1.000 megawatt terealisasi, kebutuhan air kumulatif bisa menyentuh angka puluhan juta liter per hari.
Di satu sisi, Indonesia memiliki cadangan air permukaan yang melimpah. Data Kementerian Lingkungan Hidup mencatat potensi sumber daya air nasional mencapai sekitar 2,78 triliun meter kubik per tahun. Secara makro, angka itu terlihat sangat longgar. Beberapa kawasan industri seperti Batam, Bekasi, dan Karawang juga sudah memiliki jaringan penyediaan air bersih yang mapan, sehingga operator pusat data bisa menandatangani perjanjian pasokan jangka panjang tanpa harus membangun infrastruktur dari nol.
Di sisi lain, ketersediaan agregat nasional tidak otomatis berarti ketersediaan lokal. Persoalan utama terletak pada distribusi dan kualitas. Sejumlah wilayah yang menjadi target pembangunan pusat data justru menghadapi tekanan air tanah, intrusi air laut, dan penurunan muka tanah. Di kawasan pesisir utara Jawa, pengambilan air tanah berlebihan telah membuat permukaan tanah turun hingga beberapa sentimeter per tahun. Menambah beban konsumsi air pada akuifer yang sudah tertekan berisiko mempercepat degradasi lingkungan.
Tekanan pada Likuiditas Air dan Sentimen Pasar
Dalam bahasa analis, ada persoalan likuiditas sumber daya. Indeks tekanan air daerah, yang mengukur rasio pengambilan air terhadap ketersediaan terbarukan, untuk beberapa kabupaten di Jawa sudah mendekati atau melampaui ambang kritis 100 persen. Artinya, praktis seluruh air terbarukan di wilayah itu telah terpakai. Kehadiran pusat data baru akan bersaing langsung dengan kebutuhan irigasi, air baku rumah tangga, dan industri lain.
"Pusat data AI bukan hanya soal energi. Setiap megawatt komputasi membawa jejak air yang nyata. Tanpa tata kelola akuifer yang ketat, kita berisiko menukar pertumbuhan digital dengan krisis air lokal," ujar seorang peneliti kebijakan sumber daya air dari sebuah lembaga riset independen.
Dari kacamata ekonomi, ada dua perspektif yang perlu ditimbang. Pro: kehadiran pusat data AI mendorong transfer teknologi pendingin efisien, membuka peluang daur ulang air, dan menciptakan permintaan bagi utilitas air yang selama ini kekurangan investasi. Operator global umumnya menerapkan target efisiensi air yang terukur, misalnya melalui indikator water usage effectiveness, sehingga standar industri bisa ikut terangkat.
Kontra: tanpa kerangka regulasi yang mengikat, klaim efisiensi itu sulit diverifikasi. Selain itu, valuasi proyek pusat data cenderung dihitung dari sisi pendapatan komputasi, bukan dari biaya eksternalitas lingkungan. Biaya pemulihan akuifer yang tertekan tidak pernah masuk ke dalam model keuangan proyek. Inilah yang oleh sebagian ekonom disebut sebagai kegagalan pasar dalam menginternalisasi kelangkaan air.
Proyeksi dan Langkah Mitigasi yang Dibutuhkan
Proyeksi jangka menengah menunjukkan tren yang perlu diwaspadai. Jika pertumbuhan kapasitas pusat data berjalan sesuai skenario dasar, kebutuhan air sektor ini bisa naik dari porsi yang kini tergolong kecil menjadi lebih dari 5 persen dari total konsumsi air industri pada 2030. Porsi tersebut mungkin terdengar moderat, tetapi terkonsentrasi di wilayah dengan neraca air yang sudah tipis.
Beberapa langkah mitigasi yang secara teknis tersedia antara lain penerapan pendingin berbasis cairan tertutup dengan sirkulasi berulang, pemanfaatan air daur ulang, serta audit konsumsi air yang dipublikasikan secara berkala. Pemerintah juga dapat mensyaratkan kajian daya dukung air sebagai bagian dari proses perizinan, sebagaimana telah diterapkan di beberapa yurisdiksi lain.
Yang tidak boleh dilewatkan adalah aspek kesetaraan. Jika pasokan air dialokasikan berdasarkan kemampuan bayar, rumah tangga berpendapatan rendah berpotensi tersingkir dari akses air bersih. Karena itu, kebijakan tarif dan prioritas alokasi perlu dirancang sejak awal, bukan setelah krisis muncul.
Kesimpulannya, kesiapan infrastruktur air Indonesia untuk menopang pusat data AI belum bisa dinilai semata dari neraca nasional yang tampak berlimpah. Fundamental sumber daya memang kuat secara agregat, tetapi sentimen pasar investasi yang agresif dapat mendahului kesiapan tata kelola lokal. Tanpa kerangka regulasi yang mengikat, angka pertumbuhan pusat data bisa terlihat impresif di atas kertas, sekaligus menyisakan biaya lingkungan yang jauh lebih sulit dihitung di kemudian hari.
Comments (0)