Oct 09, 2026
Bisnis

Hashim Bantah Narasi Indonesia Gelap, Soroti Proyeksi Ekonomi

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per akhir 2024, perekonomian Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan year-on-year sebesar 5,03 persen, sementara Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa ...

Hashim Bantah Narasi Indonesia Gelap, Soroti Proyeksi Ekonomi

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per akhir 2024, perekonomian Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan year-on-year sebesar 5,03 persen, sementara Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa bertahan di kisaran 155 miliar dolar AS. Di tengah angka makro tersebut, Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim, Hashim Djojohadikusumo, kembali menepis narasi "Indonesia Gelap" yang sempat viral di media sosial. Pernyataan ini menjadi respons atas kekhawatiran publik terhadap prospek ekonomi nasional yang dinilai memburuk akibat gejolak global.

Dua Sisi Pandangan atas Kondisi Ekonomi Nasional

Di satu sisi, indikator fundamental menunjukkan ketahanan yang cukup solid. Rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat sekitar 39 persen, jauh di bawah ambang batas aman 60 persen. Inflasi inti juga relatif terkendali di level 2,5 persen year-on-year, memberi ruang bagi bank sentral mempertahankan stabilitas suku bunga. Hashim menegaskan bahwa masa depan Indonesia tetap cerah, didorong bonus demografi dan hilirisasi mineral yang mulai berdampak pada struktur ekspor.

"Perekonomian Indonesia tidak mengalami kegelapan, yang terjadi adalah transisi menuju struktur baru yang lebih bernilai tambah," tegas Hashim dalam pernyataannya.

Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa sentimen pasar tidak sepenuhnya sejalan dengan optimisme pemerintah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami penurunan tajam, sementara capital outflow dari pasar obligasi negara mencapai Rp30 triliun selama kuartal III 2024. Likuiditas global yang ketat dan pelemahan kurs rupiah menjadi faktor risiko yang tidak bisa diabaikan. Narasi "Indonesia Gelap" tumbuh dari kekhawatiran mengenai daya beli masyarakat yang tergerus, terutama kelas menengah.

Respons terhadap Istilah Indonesia Gelap

Istilah "Indonesia Gelap" awalnya mencuat sebagai kritik publik terhadap kebijakan ekonomi dan penegakan hukum. Namun, bagi Hashim, frasa tersebut tidak mencerminkan kondisi riil di lapangan dan cenderung berlebihan. Ia merujuk pada proyeksi pertumbuhan ekonomi 2025 yang diperkirakan tetap berada di atas 5 persen, didukung konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari 53 persen PDB.

Meski demikian, tantangan struktural tetap membayangi. Tingkat pengangguran terbuka masih sekitar 4,9 persen, dan defisit anggaran diproyeksikan melebar mendekati 2,8 persen PDB. Sejumlah pengamat menilai optimisme pemerintah perlu dibarengi dengan kebijakan fiskal yang lebih ekspansif untuk menjaga daya beli. Ketegangan antara narasi positif pemerintah dan realitas ekonomi sehari-hari menjadi fokus perdebatan publik.

Proyeksi dan Fundamental Jangka Panjang

Dari kacamata fundamental, Indonesia masih memiliki modal besar untuk menjaga tren pertumbuhan. Hilirisasi nikel dan bauksit telah meningkatkan nilai ekspor olahan secara signifikan, sementara sektor energi terbarukan menawarkan peluang investasi jangka panjang. Hashim menyebut transisi energi sebagai kunci untuk memperkuat portofolio ekonomi nasional di masa depan.

"Valuasi aset Indonesia masih relatif murah dibanding negara peers, sehingga potensi capital inflow tetap terbuka," ujar seorang ekonom pasar modal yang tidak ingin disebutkan namanya.

Namun, pro: optimisme berbasis data makro dan rasio yang sehat. Kontra: kekhawatiran akan perlambatan global, ketidakpastian geopolitik, serta lemahnya penyerapan tenaga kerja. Keduanya menjadi bagian dari dialektika ekonomi yang sehat. Yang terpenting, publik tidak terjebak pada narasi tunggal, baik "Indonesia Gelap" maupun "Indonesia Cerah" tanpa dasar data.

Ke depan, stabilitas ekonomi akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga likuiditas, mengendalikan inflasi, dan mendorong investasi riil. Hashim menutup dengan pesan bahwa optimisme bukan berarti mengabaikan risiko, melainkan mengelolanya dengan data dan kebijakan tepat. Dengan fundamental yang terjaga, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5,1–5,3 persen pada 2025 masih berada dalam jangkauan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User