Hari Mangrove Sedunia: ANTAM Tanam 5.000 Bibit untuk Ekosistem Lestari

Dalam rangka memperingati Hari Mangrove Sedunia yang jatuh pada 26 Juli, PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLH) menggelar aksi lingkungan strategis denga...

Jul 27, 2026 - 22:47
0 0
Hari Mangrove Sedunia: ANTAM Tanam 5.000 Bibit untuk Ekosistem Lestari

Dalam rangka memperingati Hari Mangrove Sedunia yang jatuh pada 26 Juli, PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLH) menggelar aksi lingkungan strategis dengan menanam 5.000 bibit mangrove di salah satu kawasan pesisir Indonesia. Langkah ini bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari komitmen jangka panjang untuk memulihkan ekosistem laut dan mendukung pembangunan berkelanjutan, sejalan dengan target pengurangan emisi karbon nasional.

Acara ini melibatkan unsur pemerintah daerah, kelompok nelayan, serta masyarakat lokal, menciptakan momentum kolaboratif yang memperkuat kesadaran akan peran vital mangrove. Pencanangan ini menjadi bukti bahwa sektor pertambangan mampu berkontribusi positif terhadap lingkungan, di tengah tekanan global agar industri ekstraktif memperhatikan aspek keberlanjutan.

Mengapa Mangrove Menjadi Kunci Ekologi

Mangrove sering disebut sebagai 'penjaga pantai' karena kemampuannya menahan abrasi dan menjadi benteng alami terhadap gelombang tinggi. Namun, kapasitasnya jauh melampaui itu. Satu hektare hutan mangrove diperkirakan mampu menyimpan karbon hingga empat kali lipat lebih banyak dibandingkan hutan hujan tropis biasa. Ini menjadikannya aset penting dalam memerangi perubahan iklim. Sayangnya, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa luas mangrove Indonesia menyusut dari sekitar 4,2 juta hektare pada 1980-an menjadi di bawah 3,2 juta hektare dalam dua dekade terakhir, akibat konversi lahan dan eksploitasi berlebih.

Selain itu, mangrove menyediakan habitat bagi beragam biota laut yang mendukung mata pencarian jutaan nelayan tradisional. Hilangnya mangrove sering berkorelasi langsung dengan penurunan tangkapan ikan, sehingga restorasi seperti yang dilakukan ANTAM memiliki dampak sosio-ekonomi yang nyata. Dengan setiap hektare mangrove yang sehat menghasilkan potensi ikan hingga 1 ton per tahun, investasi ekologis ini secara langsung berdampak pada ketahanan pangan masyarakat pesisir.

Sinergi Multipihak: ANTAM dan KLH Bersatu

Kolaborasi ANTAM dengan KLH menunjukkan model kemitraan publik-swasta yang ideal. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang hadir dalam acara tersebut menegaskan bahwa restorasi mangrove membutuhkan keterlibatan semua pihak. "Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Komitmen seperti yang ditunjukkan oleh ANTAM sangat krusial untuk mencapai target pemulihan 600.000 hektare mangrove pada tahun 2027," ujarnya. Sementara itu, Direktur Utama ANTAM menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang terintegrasi dalam kebijakan operasional.

Aksi penanaman 5.000 bibit ini dilakukan dengan pendekatan berbasis sains: memilih jenis mangrove yang sesuai dengan karakteristik substrat setempat, seperti Rhizophora mucronata dan Avicennia marina, yang memiliki tingkat sintasan tinggi. Teknik penanaman diawasi langsung oleh para ahli dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, memastikan bahwa lebih dari 85 persen bibit diharapkan tumbuh dan membentuk kanopi dalam kurun tiga hingga lima tahun ke depan.

Dampak Berantai bagi Pembangunan Berkelanjutan

Inisiatif ini secara langsung mendukung beberapa pilar Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), SDG 14 (Ekosistem Lautan), dan SDG 15 (Ekosistem Daratan). Dengan menahan laju erosi dan menyerap polutan, 5.000 bibit yang tertanam diharapkan mampu menciptakan zona penyangga hijau seluas kira-kira 2 hektare di masa depan. Ini akan meningkatkan simpanan karbon dan melindungi infrastruktur pesisir dari cuaca ekstrem, yang kian sering terjadi akibat perubahan iklim.

Lebih jauh, kegiatan ini memicu efek domino pada kesadaran masyarakat. Pelatihan perawatan bibit yang diberikan kepada kelompok nelayan lokal menanamkan rasa kepemilikan, sehingga mereka tidak hanya menjadi penerima manfaat tetapi juga penjaga ekosistem. ANTAM berkomitmen untuk melakukan pemantauan periodik terhadap pertumbuhan bibit, didukung teknologi geotagging, guna mengukur capaian restorasi secara transparan dan akurat.

Komitmen Jangka Panjang ANTAM di Sektor Hijau

Penanaman mangrove ini bukanlah program one-off. Merujuk pada laporan keberlanjutan perusahaan, ANTAM telah mengalokasikan dana signifikan untuk rehabilitasi lahan kritis di sekitar wilayah operasionalnya. Sejak lima tahun terakhir, perseroan telah menanam total lebih dari 100.000 bibit berbagai jenis pohon, termasuk mangrove, sebagai upaya menyeimbangkan emisi dari aktivitas tambang. Dalam target terbarunya, ANTAM berencana merehabilitasi 1.000 hektare kawasan pesisir dan sungai hingga tahun 2028.

Dengan aksi ini, ANTAM bukan hanya menjalankan kewajiban regulasi, tetapi juga membangun citra sebagai perusahaan tambang yang ramah lingkungan. Di tengah tekanan pasar global yang semakin mempertimbangkan faktor Environmental, Social, and Governance (ESG), langkah ini menjadi sinyal positif bagi investor. Artinya, kelestarian mangrove setara dengan menjaga fundamental bisnis jangka panjang. Maka, peringatan Hari Mangrove Sedunia tahun ini menjadi titik tolak baru bagi sinergi antara industri dan alam, menuju Indonesia yang lebih hijau dan tangguh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User