Aug 28, 2026
Bisnis

Harga Telur di Bawah Level Ideal, Kementerian Perdagangan Soroti Risiko Keberlanjutan Usaha Peternak

Berdasarkan pemantauan Kementerian Perdagangan per pekan terakhir, harga telur ayam di pasar domestik tercatat bertahan di kisaran Rp26 ribu per kilogram. Angka tersebut berada di bawah level ideal ya...

Harga Telur di Bawah Level Ideal, Kementerian Perdagangan Soroti Risiko Keberlanjutan Usaha Peternak

Berdasarkan pemantauan Kementerian Perdagangan per pekan terakhir, harga telur ayam di pasar domestik tercatat bertahan di kisaran Rp26 ribu per kilogram. Angka tersebut berada di bawah level ideal yang diyakini mampu menopang kelangsungan usaha peternak, yakni sekitar Rp30 ribu per kilogram. Selisih yang mencapai Rp4 ribu per kilogram ini, jika dilihat secara year-on-year, mencerminkan tekanan harga yang cukup dalam pada komoditas protein hewani tersebut.

Tekanan Harga dan Dampaknya terhadap Fundamental Usaha

Di satu sisi, harga telur yang rendah memang menguntungkan daya beli konsumen rumah tangga. Telur kerap menjadi pilihan utama masyarakat sebagai sumber protein yang relatif terjangkau, sehingga penurunan harga berpotensi menjaga stabilitas inflasi pangan. Namun di sisi lain, kondisi ini menekan margin usaha peternak secara signifikan. Ketika harga jual berada di bawah biaya pokok produksi, likuiditas usaha kecil dan menengah di sektor perunggasan dapat mengalami penurunan, bahkan berisiko mengalami kerugian dalam jangka pendek.

Kementerian Perdagangan menilai harga telur perlu kembali ke level ideal agar keberlanjutan usaha peternak tetap terjaga. Jika kondisi ini berlanjut, dikhawatirkan sejumlah peternak tidak mampu bertahan menghadapi tekanan biaya pakan yang masih tinggi.

Biaya Pakan dan Struktur Produksi sebagai Variabel Kunci

Komponen terbesar dalam struktur biaya produksi telur adalah pakan ternak, yang porsinya dapat mencapai 60 hingga 70 persen dari total biaya. Fluktuasi harga jagung dan bungkil kedelai di pasar global turut menentukan besaran biaya tersebut. Ketika harga pakan mengalami kenaikan sementara harga jual telur justru terkoreksi, rasio antara biaya dan pendapatan menjadi tidak seimbang. Kondisi inilah yang menjadi akar persoalan struktural yang dihadapi para peternak, bukan sekadar gejolak harga jangka pendek.

Sentimen Pasar dan Proyeksi ke Depan

Dari sisi sentimen pasar, koreksi harga telur kerap dipicu oleh melimpahnya pasokan domestik yang tidak diimbangi permintaan yang setara. Pada periode tertentu, lonjakan produksi dapat menekan harga secara berlebihan. Proyeksi ke depan, normalisasi harga menuju level ideal membutuhkan keseimbangan antara manajemen pasokan dan stimulus permintaan. Pemerintah diharapkan mampu menjaga stabilitas melalui intervensi pasar yang tepat sasaran tanpa mengorbankan daya beli konsumen.

Secara keseluruhan, persoalan harga telur ini merupakan cerminan dinamika antara kepentingan produsen dan konsumen. Di satu sisi, harga ideal diperlukan untuk menjaga fundamental usaha dan mencegah capital outflow dari sektor peternakan menuju sektor lain yang lebih menguntungkan. Di sisi lain, kenaikan harga yang terlalu tajam berpotensi menggerus daya beli masyarakat. Keseimbangan kebijakan menjadi kunci agar kedua kepentingan dapat berjalan beriringan dalam jangka panjang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User