Oct 10, 2026
Bisnis

Harga Telur Anjlok, Peternak Ayam Demo dan Lempar Telur ke Pemerintah

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan per pekan pertama bulan ini, harga telur ayam ras di tingkat peternak mengalami penurunan tajam hingga menyentuh kisaran Rp18.000–Rp19.000 per kilogram, jauh...

Harga Telur Anjlok, Peternak Ayam Demo dan Lempar Telur ke Pemerintah

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan per pekan pertama bulan ini, harga telur ayam ras di tingkat peternak mengalami penurunan tajam hingga menyentuh kisaran Rp18.000–Rp19.000 per kilogram, jauh di bawah harga pokok produksi yang diproyeksikan berada di level Rp22.000–Rp23.000 per kilogram. Kondisi ini memicu gelombang protes dari kalangan peternak ayam petelur yang merasa pendapatan mereka tergerus, bahkan sebagian di antaranya membuang telur ke jalan sebagai bentuk simbolik kemarahan terhadap kebijakan pemerintah.

Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah organisasi peternak menggelar aksi demonstrasi di depan kantor kementerian, membawa spanduk dan sejumlah telur yang kemudian dilempar sebagai bentuk protes. Mereka menuntut pemerintah segera menstabilkan harga dan menyerap kelebihan produksi yang menumpuk di gudang. Persoalan ini bukan sekadar fluktuasi musiman, melainkan cerminan ketidakseimbangan fundamental antara produksi yang melimpah dan daya serap pasar yang melemah.

Anatomi Anjloknya Harga Telur

Mengutip penjelasan resmi Kementerian Perdagangan, penurunan harga telur tidak lepas dari surplus produksi yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Populasi ayam petelur dilaporkan meningkat signifikan pasca pemulihan sektor peternakan dari dampak pandemi, sementara permintaan domestik justru melemah akibat daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Indeks harga pangan nasional juga menunjukkan tren penurunan pada komoditas protein hewani, termasuk telur.

Di satu sisi, melimpahnya pasokan merupakan kabar baik bagi konsumen karena harga di tingkat eceran relatif lebih terjangkau. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi kelompok pangan bergejolak (volatile food) pada periode yang sama berada di kisaran 2,1 persen year-on-year, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ini memberi ruang bagi rumah tangga untuk mengalihkan belanja ke kebutuhan lain.

Di sisi lain, harga yang jatuh di bawah biaya produksi menciptakan tekanan besar bagi peternak. Rasio pendapatan terhadap biaya pakan, yang umumnya menyumbang 70–75 persen dari total struktur biaya peternakan, semakin tidak sehat. Banyak peternak skala kecil terpaksa menjual aset atau mengurangi populasi ayam untuk menekan kerugian, langkah yang dalam jangka menengah justru berpotensi memicu kelangkaan pasokan dan lonjakan harga di masa depan.

Respons Pemerintah dan Dinamika Pasar

Kementerian Perdagangan menyatakan tengah mengkaji sejumlah opsi stabilisasi, mulai dari operasi pasar, penyerapan oleh badan usaha milik negara, hingga mendorong ekspor ke negara-negara yang permintaan telurnya sedang tinggi. Namun, sejumlah pengamat menilai langkah tersebut belum menyentuh akar masalah, yakni lemahnya tata kelola data populasi dan produksi yang membuat perencanaan pasokan tidak akurat.

"Kalau data populasi dan produksi tidak akurat, intervensi pemerintah akan selalu terlambat. Peternak yang paling dirugikan karena mereka tidak punya daya tahan finansial seperti korporasi besar," ujar seorang ekonom pertanian dari sebuah lembaga riset independen.

Dari kacamata pasar, tekanan jual yang berlebihan juga dipengaruhi sentimen pasar yang lesu menjelang periode permintaan rendah pasca-festival. Sejumlah pedagang besar dilaporkan menahan pembelian karena ekspektasi harga masih akan turun, sehingga likuiditas di tingkat peternak semakin ketat. Capital outflow dari sektor agribisnis juga terbatas, menandakan investor masih menanti kepastian kebijakan sebelum menambah portofolio di sektor ini.

Proyeksi dan Risiko ke Depan

Proyeksi jangka pendek menunjukkan harga telur berpotensi tetap tertekan hingga kuartal berikutnya jika tidak ada intervensi signifikan. Namun, apabila peternak secara masif mengurangi populasi, siklus harga bisa berbalik cepat dan menciptakan lonjakan yang merugikan konsumen. Di sinilah pentingnya kebijakan yang menyeimbangkan kepentingan produsen dan konsumen, termasuk penguatan koperasi peternak dan akses pasar yang lebih adil.

Pada akhirnya, demo dan lemparan telur hari ini adalah alarm bahwa fundamental sektor peternakan rakyat tengah rapuh. Tanpa perbaikan data, tata niaga, dan keberpihakan kebijakan, gejolak serupa berpotensi terulang, dengan biaya sosial dan ekonomi yang lebih besar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User