Aug 28, 2026
Bisnis

Harga Pertamax Naik, Konsumsi Pertalite Mengalami Kenaikan 9,19%

Berdasarkan data BPH Migas per 1 Juli 2025, konsumsi harian Pertalite mengalami kenaikan sebesar 9,19% dalam kurun waktu kurang dari satu bulan. Volume tambahan yang mengalir ke pom bensin itu setara ...

Harga Pertamax Naik, Konsumsi Pertalite Mengalami Kenaikan 9,19%

Berdasarkan data BPH Migas per 1 Juli 2025, konsumsi harian Pertalite mengalami kenaikan sebesar 9,19% dalam kurun waktu kurang dari satu bulan. Volume tambahan yang mengalir ke pom bensin itu setara 6.965 kiloliter per hari, tercatat pada periode 10 Juni hingga 1 Juli. Lonjakan ini terjadi bersamaan dengan naiknya harga Pertamax di jaringan pengisian bahan bakar umum, sehingga sebagian konsumen kembali memilih produk bersubsidi yang harganya lebih terjangkau.

Sebelum harga Pertamax bergerak naik, pembelian Pertalite per hari berada di kisaran 75.800 kiloliter. Setelah pergeseran harga terjadi, angka itu naik menjadi sekitar 82.750 kiloliter per hari. Selisih hampir 7.000 kiloliter per hari bukan angka kecil. Dengan harga jual konsumen Rp10.000 per liter, tambahan volume tersebut berpotensi menambah beban subsidi energi negara secara signifikan bila tren ini bertahan dalam hitungan bulan.

Fenomena Substitusi di Pom Bensin

Apa yang terjadi di lapangan pada dasarnya adalah perilaku klasik dalam ilmu ekonomi yang disebut efek substitusi. Sederhananya, ketika harga satu produk naik, konsumen akan berpindah ke produk lain yang menawarkan fungsi serupa dengan harga lebih murah. Pertalite dan Pertamax memang berbeda dari sisi oktan, yakni ukuran kemampuan bahan bakar menahan ketukan pada mesin, namun bagi sebagian pengendara perbedaan itu dirasa kurang sebanding dengan selisih harga yang makin melebar.

Tren ini juga memperlihatkan bahwa permintaan terhadap BBM bersubsidi cukup sensitif terhadap perubahan harga produk pembanding. Artinya, keputusan konsumen sangat dipengaruhi oleh selisih harga antarproduk, bukan semata kebutuhan teknis kendaraan. Di sejumlah SPBU, antrean kendaraan menuju jalur Pertalite terlihat lebih panjang dibanding jalur nonsubsidi, sebuah sinyal sederhana bahwa sentimen hemat di kalangan konsumen tengah menguat.

Di Satu Sisi Efisien, di Sisi Lain Menambah Beban

Di satu sisi, perpindahan konsumen ke Pertalite dapat dibaca sebagai sinyal positif bagi pemerintah yang tengah menata ulang subsidi energi. Dengan semakin banyak konsumen kembali ke produk bersubsidi, pemerintah memiliki dasar data yang lebih kuat untuk membatasi akses subsidi bagi kelompok yang sebenarnya mampu membeli BBM nonsubsidi. Kebijakan pembatasan itu pada akhirnya bertujuan menekan kebocoran subsidi agar anggaran lebih tepat sasaran.

Di sisi lain, lonjakan konsumsi Pertalite justru berpotensi memperbesar realisasi subsidi melebihi pagu anggaran yang telah ditetapkan. Semakin tinggi volume penjualan Pertalite, semakin besar pula dana negara yang harus dikeluarkan untuk menutup selisih harga di tingkat pengecer. Kondisi ini bisa memaksa pemerintah merevisi alokasi subsidi energi, menggeser pos belanja pembangunan lain, atau menimbang penyesuaian kebijakan harga kembali di kemudian hari.

"Lonjakan konsumsi Pertalite pasca kenaikan harga Pertamax memperlihatkan bahwa pengendara sangat sensitif terhadap selisih harga. Tanpa pengawasan mekanisme distribusi, subsidi yang seharusnya dinikmati kelompok rentan bisa justru mengalir ke kelompok yang lebih mampu," ujar seorang ekonom energi di Jakarta.

Proyeksi dan Tantangan ke Depan

Ke depan, arah konsumsi BBM bersubsidi akan sangat bergantung pada dua faktor fundamental: stabilitas harga migas dunia dan konsistensi kebijakan subsidi pemerintah. Jika harga minyak mentah global mengalami kenaikan berkelanjutan, tekanan terhadap APBN akan semakin besar, baik dari sisi subsidi Pertalite maupun komponen energi lainnya. Sebaliknya, apabila harga dunia mereda, ruang fiskal pemerintah menjadi lebih lega untuk kebijakan perlindungan daya beli.

Rasio pertumbuhan konsumsi Pertalite terhadap Pertamax selama periode transisi ini perlu terus dipantau. Bila tren bertahan pada kisaran sembilan persen atau lebih, pemerintah kemungkinan akan memperkuat mekanisme pengendalian distribusi, termasuk pengetatan alokasi kuota bagi industri dan kalangan nonpenerima manfaat. Bagi masyarakat, pergeseran ini menjadi pengingat bahwa harga energi tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu terhubung dengan kebijakan anggaran negara dan kondisi ekonomi rumah tangga. Proyeksi jangka menengah pun menuntut keseimbangan antara dua tujuan yang sama-sama penting, yaitu menjaga daya beli masyarakat sekaligus menjaga kesehatan fiskal negara.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User