Harga Pangan Fluktuatif: Daging-Telur Naik, Cabai Merosot Tajam
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per minggu ketiga Juli 2026, pasar tradisional di DKI Jakarta dan sejumlah kota besar mengalami dinamika harga yang kontras pada sejumlah komoditas pangan....
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per minggu ketiga Juli 2026, pasar tradisional di DKI Jakarta dan sejumlah kota besar mengalami dinamika harga yang kontras pada sejumlah komoditas pangan. Daging ayam ras dan telur ayam ras mencatat kenaikan signifikan, sementara berbagai jenis cabai, terutama cabai rawit, justru mengalami penurunan harga yang dalam. Beras pun turut menunjukkan tren meningkat walau dalam intensitas yang lebih landai. Fenomena ini memicu perbincangan tentang fundamental pasokan, distribusi, dan dampaknya terhadap inflasi serta daya beli masyarakat.
Kenaikan Harga Daging dan Telur Ayam: Akar Masalah dan Dampak Ganda
Kenaikan harga daging ayam ras dan telur ayam ras dalam sebulan terakhir cukup mencolok. Data panel BPS menunjukkan bahwa daging ayam ras di tingkat konsumen kini rata-rata menyentuh Rp41.200 per kilogram, naik 8,7 persen year-on-year (yoy) dan sekitar 5,3 persen month-to-month (mtm). Sementara itu, telur ayam ras melonjak ke posisi Rp32.800 per kilogram, atau naik 11,2 persen yoy. Di satu sisi, kenaikan ini memberi angin segar bagi peternak yang sebelumnya sempat terhimpit akibat biaya produksi yang tinggi di awal tahun. Pendapatan peternak mandiri dan plasma di sentra-sentra produksi seperti Blitar dan Jawa Barat mulai pulih, yang berpotensi mendorong reinvestasi di sektor perunggasan.
Di sisi lain, lonjakan harga ini membebani konsumen rumah tangga, terutama kelompok berpendapatan rendah yang mengalokasikan porsi besar pengeluarannya untuk pangan berprotein hewani. Tekanan inflasi volatile food pun ikut terkerek. Pro: membaiknya harga di tingkat produsen bisa menjadi katalis bagi percepatan pemulihan peternakan rakyat pasca-gelombang penyakit unggas awal 2026. Kontra: jika kenaikan berlanjut hingga Agustus saat tahun ajaran baru dimulai, biaya hidup masyarakat perkotaan akan semakin berat dan berpotensi menekan konsumsi non-pangan.
Penurunan Harga Cabai: Panen Raya yang Membawa Risiko Tersendiri
Kondisi sebaliknya terjadi pada keluarga cabai-cabaian. Cabai rawit merah, yang sebelumnya sempat menyentuh Rp90.000 per kg pada kuartal pertama, kini anjlok ke kisaran Rp28.500 per kilogram, turun hingga 42 persen sejak puncak harga Maret 2026. Cabai merah keriting dan cabai merah besar juga mengalami penurunan serupa, masing-masing di level Rp24.000 dan Rp22.700 per kg. Faktor dominan adalah panen raya yang terjadi serentak di sentra produksi seperti Brebes, Temanggung, dan Magelang, ditambah cuaca kering yang memperpendek masa tanam.
Masyarakat dan pengusaha kuliner menyambut gembira penurunan ini karena komponen biaya masak mengecil. Namun, dari kacamata petani, harga yang jatuh di bawah titik impas (break-even point sekitar Rp30.000 per kg) memicu ancaman kerugian. Di satu sisi, penurunan harga membantu pengendalian inflasi dan menstabilkan daya beli. Di sisi lain, petani cabai menghadapi risiko capital loss, yang dapat berujung pada pengurangan luas tanam musim berikutnya—sebuah pola klasik siklus harga cabai yang sudah bertahun-tahun belum terpecahkan.
“Fenomena ini ibarat pedang bermata dua. Dalam jangka pendek, konsumen diuntungkan; tetapi jika petani beralih komoditas karena rugi, kita akan kembali menghadapi kelangkaan dan lonjakan harga dalam tiga bulan ke depan,” ujar Kepala Pusat Penelitian Ekonomi Pertanian IPB yang kami hubungi secara terpisah.
Beras dan Proyeksi Inflasi Komoditas Pangan
Sementara itu, beras—sebagai komoditas pangan pokok dengan bobot tertinggi dalam keranjang inflasi—mencatat kenaikan moderat namun perlu dicermati. Harga beras medium di tingkat grosir dan eceran bergerak naik tipis 0,9 persen mtm ke posisi Rp13.600 per kilogram. Kenaikan ini lebih dipicu oleh faktor musiman pasca-panen dan persiapan memasuki musim paceklik di sejumlah wilayah. Stok Bulog dinyatakan masih memadai, namun sinyal dari sentimen pasar menunjukkan potensi spekulasi distributor jika pemerintah tidak segera menggelontorkan operasi pasar terbuka.
Dengan struktur pergerakan harga yang asimetris antara sumber protein hewani, sayuran, dan karbohidrat, proyeksi inflasi pangan pada Juli 2026 diperkirakan tetap terkendali di kisaran 0,15–0,20 persen mtm, atau secara tahunan sekitar 3,8–4,1 persen. Fundamental pasokan cukup baik, tetapi distribusi dan ekspektasi pelaku pasar menjadi kunci. Bank Indonesia dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) diharapkan memperkuat koordinasi untuk memitigasi risiko volatilitas yang bisa muncul dari dua arah berbeda: potensi kenaikan harga unggas yang belum tuntas serta ancaman gejolak harga cabai di masa depan akibat reaksi petani terhadap harga rendah saat ini.
Comments (0)