Harga Daging dan Telur Ayam Naik, Cabai Rawit Turun Drastis

Pasar tradisional dan ritel modern kembali menyajikan dinamika harga pangan yang kontras. Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas) per 23 Juli 2026, komoditas sumber protein hewani seperti dag...

Jul 27, 2026 - 22:37
0 0
Harga Daging dan Telur Ayam Naik, Cabai Rawit Turun Drastis

Pasar tradisional dan ritel modern kembali menyajikan dinamika harga pangan yang kontras. Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas) per 23 Juli 2026, komoditas sumber protein hewani seperti daging ayam ras dan telur ayam ras mengalami tren kenaikan yang cukup menggerus daya beli masyarakat. Sebaliknya, harga cabai rawit merah mencatatkan penurunan signifikan, mencerminkan perubahan mendasar pada sisi pasokan dan permintaan. Fenomena ini membawa implikasi berbeda bagi konsumen, peternak, dan petani, sekaligus menjadi sinyal yang patut dicermati oleh pembuat kebijakan.

Lonjakan Harga Protein Hewani: Daging dan Telur Merangkak Naik

Harga daging ayam ras broiler di tingkat pedagang eceran saat ini berkisar antara Rp38.000 hingga Rp42.000 per kilogram, naik sekitar 8–12% secara year-on-year dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, telur ayam ras ukuran besar kini dijual rata-rata Rp29.500 per kilogram, mengalami peningkatan sekitar 6% dalam dua pekan terakhir. Kenaikan ini terutama dipicu oleh lonjakan biaya pakan ternak, khususnya jagung pipil dan bungkil kedelai impor yang terpengaruh fluktuasi harga global pasca ketidakpastian iklim di kawasan Amerika Latin dan konflik geopolitik yang mengganggu rantai logistik.

Di sisi lain, permintaan domestik terhadap kedua komoditas ini masih tinggi seiring dengan pemulihan konsumsi rumah tangga dan aktivitas industri kuliner. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan konsumsi per kapita daging ayam ras meningkat 3,5% secara kuartalan, didorong oleh perbaikan pendapatan masyarakat di kuartal kedua 2026. Tekanan dari sisi pasokan juga terjadi karena beberapa sentra peternakan di Jawa Barat dan Jawa Timur melaporkan penurunan produktivitas akibat serangan penyakit musiman. Akibatnya, stok di gudang pendingin mulai menipis, mendorong harga ke level yang lebih tinggi.

Dr. Hadi Wijaya, Kepala Riset Ekonomi Pangan IPB, mengatakan, “Kenaikan harga daging dan telur ayam saat ini lebih didorong oleh faktor struktural pada biaya produksi, bukan sekadar momentum musiman. Jika harga jagung impor tetap tinggi dan rupiah tertekan, maka peternak tidak punya pilihan selain menyesuaikan harga jual agar tetap sustain.”

Deflasi pada Komoditas Cabai: Cabai Rawit Anjlok

Bertolak belakang, harga cabai rawit merah justru mengalami koreksi dalam. Data panel harga Bapanas mencatat harga cabai rawit merah di tingkat produsen anjlok ke Rp12.000–Rp15.000 per kilogram, turun lebih dari 40% dibandingkan bulan lalu yang sempat menyentuh Rp25.000 per kilogram. Penurunan drastis ini terjadi karena panen raya di sentra produksi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan yang berlangsung serempak. Curah hujan yang moderat sepanjang Juni-Juli mendorong produktivitas tanaman cabai melampaui ekspektasi, menciptakan surplus pasokan di pasar.

Di sisi permintaan, meskipun konsumsi tetap stabil, distribusi yang tidak merata menyebabkan harga di beberapa wilayah justru lebih rendah dari biaya produksi. Petani cabai di Brebes dan Magelang mengeluhkan margin yang tergerus karena biaya angkut dan penyusutan pascapanen tidak tertutupi. Dalam situasi seperti ini, pemerintah daerah biasanya akan melakukan operasi pasar guna menyerap kelebihan pasokan, namun langkah tersebut belum terlihat besar-besaran.

Dua Sisi Mata Uang: Keuntungan dan Kerugian

Di satu sisi, kenaikan harga daging dan telur ayam memberikan keuntungan bagi peternak yang mampu mempertahankan produktivitas dan efisiensi. Peternak mandiri skala menengah di Blitar, misalnya, melaporkan margin laba naik sekitar 15% selama bulan Juli ini. Namun, peternak kecil yang masih bergantung pada pakan eceran justru merasakan tekanan lebih besar karena biaya pembelian pakan harian yang ikut terkerek. Sehingga, disparitas di antara pelaku industri peternakan juga melebar.

Sementara itu, bagi konsumen—khususnya rumah tangga berpenghasilan rendah—lonjakan harga protein hewani akan berdampak pada pola konsumsi. Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) memperlihatkan bahwa pengeluaran untuk daging dan telur menyusun hampir 12% dari total belanja makanan bulanan kelompok pengeluaran terendah. Kenaikan harga keduanya berpotensi menekan asupan gizi, terutama pada anak-anak, atau mendorong substitusi ke sumber protein nabati yang lebih murah seperti tahu dan tempe.

Sebaliknya, turunnya harga cabai rawit menjadi berkah bagi konsumen. Komoditas yang kerap menjadi penyebab inflasi volatil ini kini lebih terjangkau, mengurangi tekanan pada indeks harga konsumen (IHK). Ibu rumah tangga dan pelaku usaha kuliner kecil yang mengandalkan sambal sebagai menu pendamping dapat menikmati biaya produksi yang lebih rendah. Namun, di sisi lain, petani cabai menghadapi dilema: harga yang terlalu rendah membuat mereka merugi, bahkan beberapa terpaksa membiarkan cabai busuk di lahan karena biaya panen lebih besar daripada nilai jual.

Yulia Sari, Analis Ekonomi Senior di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM FEB UI), menyatakan, “Fenomena ini menunjukkan betapa rapuhnya rantai nilai hortikultura kita. Surplus produksi tanpa diimbangi dengan sistem penyimpanan dan distribusi yang efisien justru menjadi bumerang bagi petani. Pemerintah perlu segera memperkuat kelembagaan tunda jual dan fasilitas cold storage di sentra produksi agar petani tidak terus menjadi korban siklus harga.”

Proyeksi dan Rekomendasi Kebijakan

Melihat pola historis, harga daging ayam dan telur berpotensi kembali stabil menjelang akhir triwulan ketiga seiring dengan berakhirnya masa puncak konsumsi liburan dan dimulainya panen jagung lokal di beberapa daerah. Namun demikian, proyeksi ini rentan terhadap dua faktor risiko utama: pertama, kelanjutan tekanan pada rupiah yang memengaruhi harga impor pakan; kedua, kemungkinan kemunculan wabah unggas baru. Bank Indonesia (BI) sendiri dalam Rapat Dewan Gubernur terbaru mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% dengan pernyataan bahwa inflasi pangan bergejolak (volatile food) masih dalam kendali, meskipun perlu diwaspadai.

Sementara itu, untuk cabai, siklus panen raya biasanya diikuti oleh penurunan produksi pada masa peralihan musim. Jika pengelolaan pasokan dan distribusi tidak diperbaiki, maka dalam dua hingga tiga bulan ke depan harga cabai rawit bisa kembali melambung. Kementerian Pertanian sudah meluncurkan program kemitraan closed-loop antara petani cabai, industri pengolahan, dan pasar ritel modern guna mengurangi ketergantungan pada pasar spot yang harganya sangat fluktuatif. Program ini diharapkan mampu menstabilkan harga di tingkat petani dalam jangka menengah.

Di sisi konsumen, diversifikasi sumber protein menjadi kunci menghadapi gejolak harga. Ikan lele, bandeng, dan telur itik bisa menjadi alternatif yang lebih stabil secara harga karena input pakannya lebih sederhana. Selain itu, edukasi tentang penyimpanan dan pengolahan pangan lokal dapat membantu mengurangi pemborosan dan memitigasi dampak kenaikan harga mendadak.

Secara keseluruhan, situasi harga pangan pekan ini memberikan pelajaran penting tentang pentingnya ketahanan pangan berbasis produksi lokal yang terintegrasi. Kebijakan yang responsif dan berbasis data, seperti operasi pasar yang tepat sasaran dan insentif penyimpanan, menjadi krusial untuk memastikan bahwa baik produsen maupun konsumen terlindungi di tengah dinamika pasar yang semakin kompleks.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User