Harga Daging Ayam Ras Naik di 188 Daerah, Ini Penyebabnya
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2026, harga daging ayam ras mengalami kenaikan di 188 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Kenaikan ini menempatkan komoditas protein hewani te...
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2026, harga daging ayam ras mengalami kenaikan di 188 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Kenaikan ini menempatkan komoditas protein hewani tersebut sebagai salah satu penyumbang tekanan pada kelompok pangan bergejolak (volatile food), yakni komponen inflasi yang pergerakannya sangat dipengaruhi faktor musiman, cuaca, dan keseimbangan pasokan-permintaan. Secara historis, komponen volatile food berkontribusi sekitar 0,2 hingga 0,5 poin persentase terhadap inflasi bulanan ketika terjadi guncangan harga pangan.
Dari sisi makroekonomi, tren kenaikan harga ayam ras terjadi di tengah upaya pemerintah menjaga inflasi year-on-year tetap berada dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen yang ditetapkan Bank Indonesia. Pergerakan indeks harga konsumen kelompok pangan yang meluas ke hampir dua ratus daerah menandakan bahwa tekanan tidak bersifat lokal, melainkan mencerminkan ketidakseimbangan fundamental antara permintaan dan penawaran di tingkat nasional.
Permintaan Menguat, Pasokan Terbatas
BPS mengidentifikasi dua pemicu utama kenaikan harga. Pertama, permintaan masyarakat terhadap daging ayam ras yang tinggi. Komoditas ini merupakan sumber protein hewani paling terjangkau dibandingkan daging sapi maupun ikan tertentu, sehingga ketika daya beli pulih, konsumsi ayam ras cenderung meningkat lebih dulu. Kedua, pasokan yang terbatas dari sisi produksi.
Keterbatasan pasokan tidak lepas dari struktur biaya industri perunggasan. Sekitar 60 hingga 70 persen biaya produksi peternakan berasal dari pakan, yang komposisinya didominasi jagung dan bungkil kedelai. Harga bungkil kedelai sangat bergantung pada impor, sehingga pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat secara langsung menaikkan biaya produksi. Selain itu, ketersediaan anak ayam umur sehari (day-old chick/DOC) yang fluktuatif turut memengaruhi volume ayam siap panen di pasaran.
Di Satu Sisi Beban Konsumen, di Sisi Lain Berkah Peternak
Di satu sisi, kenaikan harga daging ayam ras membebani rumah tangga, terutama kelompok berpenghasilan rendah yang mengalokasikan lebih dari 50 persen pengeluarannya untuk pangan. Kenaikan harga protein hewani berisiko menurunkan kualitas konsumsi gizi masyarakat dan menambah tekanan terhadap daya beli, terlebih jika diikuti komoditas pangan lain.
Di sisi lain, penguatan harga justru menjadi angin segar bagi peternak mandiri. Dalam beberapa periode sebelumnya, harga ayam hidup (live bird) di tingkat peternak kerap berada di bawah biaya produksi, sehingga banyak pelaku usaha kecil merugi dan mengurangi populasi ternaknya. Kenaikan harga saat ini memperbaiki margin dan rasio keuntungan peternak, sekaligus menjadi insentif untuk kembali melakukan pengisian kandang. Dari kacamata fundamental industri, koreksi harga ke level yang wajar justru dibutuhkan agar pasokan jangka menengah tidak menyusut lebih dalam.
Implikasi terhadap Inflasi dan Sentimen Pasar
Bagi pasar keuangan, kenaikan harga pangan yang meluas berpotensi memengaruhi sentimen pasar terhadap arah kebijakan moneter. Jika inflasi volatile food terus meningkat, Bank Indonesia akan lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga acuan, karena stabilitas harga tetap menjadi prioritas. Kondisi ini juga relevan bagi pelaku pasar di sektor perunggasan: emiten poultry berpotensi mencatat perbaikan kinerja dari sisi pendapatan, meski valuasi sahamnya tetap perlu ditimbang terhadap risiko biaya pakan dan kurs. Likuiditas dan arus modal asing pun dapat ikut terpengaruh apabila ekspektasi inflasi berubah.
Pemerintah sendiri memiliki sejumlah instrumen untuk meredam gejolak, mulai dari operasi pasar, fasilitasi distribusi antarwilayah, hingga pengawasan rantai pasok agar tidak terjadi penimbunan. Efektivitas instrumen tersebut akan menentukan seberapa cepat harga kembali stabil tanpa mematikan insentif produksi di tingkat peternak.
Proyeksi ke Depan
Menjelang akhir tahun, permintaan daging ayam ras secara musiman biasanya meningkat seiring momentum hari besar keagamaan dan libur panjang. Tanpa percepatan pasokan, proyeksi harga berpotensi tetap berada di atas rata-rata hingga kuartal pertama 2027. Kunci kestabilan ada pada dua hal: kelancaran distribusi dari daerah sentra produksi dan kecukupan stok pakan dengan harga terjangkau.
Pada akhirnya, kenaikan harga ayam ras di 188 daerah perlu dibaca secara berimbang: sebagai sinyal permintaan yang sehat sekaligus peringatan dini atas kerapuhan sisi pasokan. Kebijakan yang hanya menekan harga tanpa memperkuat produksi justru berisiko memicu gejolak berulang di masa mendatang.
Comments (0)