Aug 24, 2026
Bisnis

Hantu Pocong dan Cermin Kecemasan Ekonomi Masyarakat Akar Rumput

Kemunculan kisah-kisah penampakan hantu pocong di berbagai pelosok tanah air kembali mencuat. Lebih dari sekadar cerita mistis yang membangkitkan bulu kuduk, narasi ini hadir bersamaan dengan gelomban...

Hantu Pocong dan Cermin Kecemasan Ekonomi Masyarakat Akar Rumput

Kemunculan kisah-kisah penampakan hantu pocong di berbagai pelosok tanah air kembali mencuat. Lebih dari sekadar cerita mistis yang membangkitkan bulu kuduk, narasi ini hadir bersamaan dengan gelombang tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat bawah dalam beberapa bulan terakhir. Pola yang terbentuk bukanlah kebetulan semata, melainkan cermin dari kegelisahan kolektif yang mencari bentuk ekspresi lain di tengah keterbatasan.

Para sosiolog telah lama mencatat bahwa lonjakan cerita supernatural di masyarakat sering kali berbanding lurus dengan tingkat tekanan ekonomi. Ketika daya beli menurun, lapangan kerja menyusut, dan ketidakpastian melanda, masyarakat cenderung mengalihkan kecemasan yang tak tersalurkan ke dalam narasi-narasi di luar nalar. Pocong, dengan representasi visualnya yang kuat dan akrab dalam budaya populer, menjadi kanvas bagi proyeksi rasa takut yang sejatinya bersumber dari dapur dan dompet.

Anatomi Ketakutan di Tengah Kontraksi Ekonomi

Fenomena ini tidak terlepas dari kondisi makroekonomi terkini. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga, yang selama ini menjadi motor utama pertumbuhan, menunjukkan perlambatan dengan pertumbuhan di kisaran 4,9 persen year-on-year pada kuartal terakhir, lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, inflasi pangan bergejolak yang menyentuh angka 6,8 persen menggerus daya beli masyarakat berpenghasilan rendah secara signifikan.

Di sisi lain, sektor informal yang menyerap hampir 60 persen tenaga kerja nasional turut merasakan dampaknya. Penurunan omzet pedagang kaki lima, buruh harian lepas, dan pekerja sektor jasa informal menciptakan lapisan kecemasan yang tak selalu terekam dalam statistik resmi. Keresahan inilah yang kemudian termanifestasi dalam bentuk rumor dan cerita-cerita mistis yang menyebar dari mulut ke mulut, diperkuat oleh algoritma media sosial yang memprioritaskan konten sensasional.

Psikologi Kolektif dan Mitos sebagai Katup Pengaman

Secara psikologis, hantu pocong berfungsi sebagai representasi dari hal-hal yang terikat namun ingin lepas—sebuah metafora yang kuat bagi kondisi masyarakat yang merasa terikat oleh tekanan ekonomi namun tak memiliki jalan keluar yang jelas. Kain kafan putih yang membungkus sosok pocong melambangkan keterikatan pada kondisi material, sementara loncatannya yang khas menggambarkan keinginan untuk bergerak maju meskipun terhambat.

Antropolog dari Universitas Indonesia mencatat bahwa narasi pocong secara historis mengalami eskalasi pada periode-periode krisis. Tahun 1998, saat krisis moneter melanda dan inflasi menembus 77 persen, cerita-cerita tentang pocong dan hantu lokal lainnya merebak luas. Pola serupa terjadi pada krisis 2008, meskipun dengan intensitas yang lebih rendah seiring meningkatnya literasi digital. Lalu pandemi 2020-2021, ketika pembatasan sosial dan pemutusan hubungan kerja massal menciptakan kembali lahan subur bagi narasi supernatural.

Yang menarik, persebaran cerita pocong saat ini tidak lagi bergantung pada transmisi tradisional dari mulut ke mulut. Platform digital justru mempercepat amplifikasi. Dalam hitungan jam, sebuah unggahan tentang penampakan bisa mencapai ribuan interaksi, menciptakan apa yang oleh peneliti komunikasi disebut sebagai shared hallucination atau halusinasi bersama yang diperkuat oleh efek ruang gema digital.

Dampak Ekonomi dari Sensasi Mistis

Paradoksnya, ramainya cerita hantu justru menciptakan efek ekonomi yang terukur. Di satu sisi, konten-konten mistis mendorong trafik dan pendapatan iklan bagi kreator digital. Di sisi lain, ketakutan yang menyebar dapat mengubah perilaku ekonomi riil. Masyarakat yang dibayangi ketakutan cenderung lebih konservatif dalam pengeluaran, mengurangi mobilitas malam hari yang berdampak pada sektor usaha kuliner dan transportasi, serta mengalihkan anggaran terbatas ke hal-hal yang dianggap protektif.

Fenomena ini juga membuka ceruk pasar baru. Jasa konsultasi spiritual, penjualan jimat dan benda bertuah, hingga paket ritual tolak bala mengalami peningkatan permintaan yang tidak bisa diabaikan. Dalam skala tertentu, ekonomi berbasis kepercayaan ini menciptakan siklusnya sendiri yang turut menggerakkan uang di level akar rumput, meskipun tidak tercatat dalam perhitungan produk domestik bruto formal.

Namun yang perlu dicermati adalah bagaimana kecemasan ini dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab. Praktik penipuan berkedok kemampuan supranatural, pengobatan alternatif tanpa dasar ilmiah, hingga eksploitasi ketakutan untuk kepentingan politik kerap kali ikut menumpang dalam gelombang histeria massal semacam ini.

Membaca Sinyal dari Lapisan Bawah

Kemunculan pocong dalam narasi publik bukanlah sekadar cerita hantu yang bisa diabaikan begitu saja. Ia adalah sinyal dari lapisan masyarakat yang mengalami tekanan namun tidak memiliki saluran aspirasi yang memadai. Bagi pengambil kebijakan, fenomena ini seharusnya dibaca sebagai indikator sosial yang melengkapi data-data ekonomi formal.

Ketika masyarakat lebih banyak membicarakan hantu ketimbang kesejahteraan, ada baiknya kita menengok kembali fundamental sosial-ekonomi yang menopang kehidupan mereka. Bukan untuk membenarkan takhayul, melainkan untuk memahami bahwa di balik setiap legenda urban, tersimpan realitas material yang menanti untuk diurai dan diselesaikan. Hantu pocong, pada akhirnya, hanyalah pembawa pesan. Dan pesan itu berbicara tentang perut yang lapar, masa depan yang gelap, dan harapan yang terpasung dalam kain kafan ketidakpastian.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User