Oct 10, 2026
Bisnis

Gubernur Jawa Barat Tinjau Langsung Aktivitas Vulkanik Anak Krakatau via Laut

Berdasarkan data Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral per awal 2024, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih berstatus Level II atau Waspada dengan aktivitas erupsi yang fluktuat...

Gubernur Jawa Barat Tinjau Langsung Aktivitas Vulkanik Anak Krakatau via Laut

Berdasarkan data Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral per awal 2024, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih berstatus Level II atau Waspada dengan aktivitas erupsi yang fluktuatif. Tingginya dinamika vulkanik ini mendorong Gubernur Jawa Barat untuk melakukan peninjauan langsung ke kawasan tersebut dengan menggunakan kapal laut, sebuah langkah yang mencuri perhatian publik karena dilakukan di tengah potensi risiko keselamatan.

Latar Belakang Kunjungan dan Data Aktivitas Vulkanik

Berdasarkan catatan Badan Geologi, sepanjang 2023 hingga awal 2024, Anak Krakatau tercatat mengalami ratusan kali gempa vulkanik dangkal dan dalam, dengan kolom abu erupsi yang bervariasi antara 500 hingga 3.000 meter di atas puncak. Indeks aktivitas ini menunjukkan tren peningkatan dibanding periode 2020-2021 yang relatif lebih tenang. Gubernur menempuh rute laut dari Pelabuhan Cigading, Banten, atau wilayah pesisir barat Jawa Barat, menyeberangi perairan Selat Sunda yang memiliki arus cukup kuat.

Peninjauan lapangan semacam ini bukan hal baru dalam tradisi pemerintahan daerah, namun biasanya dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Kehadiran kepala daerah di zona berisiko menimbulkan pertanyaan soal protokol keselamatan dan urgensi kunjungan.

Dua Perspektif: Respons Cepat versus Risiko Keselamatan

Di satu sisi, kunjungan langsung dapat mempercepat pengambilan kebijakan mitigasi. Data lapangan yang dilihat langsung oleh kepala daerah berpotensi meningkatkan alokasi anggaran untuk pos pemantauan, jalur evakuasi, dan sosialisasi kepada warga pesisir Anyer, Carita, serta Lampung Selatan. Dari sisi tata kelola, kehadiran pejabat tinggi dapat menjadi sinyal kesiapsiagaan pemerintah kepada sekitar 55.000 jiwa yang tinggal dalam radius 10 kilometer dari kawasan rawan bencana.

Di sisi lain, aktivitas vulkanik yang masih fluktuatif membuat zona tersebut rentan terhadap erupsi mendadak, lontaran material piroklastik, dan gelombang tsunami akibat longsoran flank, seperti yang terjadi pada Desember 2018 dengan lebih dari 400 korban jiwa. Protokol Badan Geologi merekomendasikan radius aman 5 kilometer dari kawah, sehingga kapal yang mendekat berisiko terpapar material vulkanik dan gas beracun. Kunjungan ini juga dinilai dapat mengalihkan perhatian dari pendekatan berbasis data ilmiah yang seharusnya menjadi rujukan utama.

"Pemantauan vulkanik harus mengedepankan instrumen teknologi seperti seismograf, GPS, dan drone, bukan pendekatan visual yang mengandung risiko," ujar seorang pengamat kebencanaan dari perguruan tinggi di Bandung, tanpa menyebut nama lembaganya.

Implikasi Ekonomi dan Sektor Pariwisata Selat Sunda

Dari kacamata ekonomi, kawasan Selat Sunda menyumbang kontribusi signifikan terhadap sektor pariwisata Provinsi Banten dan Lampung. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan kunjungan wisatawan ke kawasan Anyer dan Carita mencapai sekitar 2,1 juta orang pada 2023, dengan nilai transaksi ekonomi diperkirakan menembus Rp1,2 triliun. Aktivitas vulkanik yang meningkat berpotensi menekan okupansi hotel hingga 20-30 persen, sejalan dengan pola yang terjadi pasca-tsunami 2018 ketika tingkat hunian anjlok dalam jangka pendek.

Namun, di sisi lain, fenomena letusan justru kerap menciptakan sentimen pasar tersendiri bagi wisata minat khusus. Tren "dark tourism" atau wisata vulkanik menunjukkan kenaikan minat, dengan kunjungan ke kawasan gunung berapi di Indonesia meningkat sekitar 15 persen year-on-year dalam lima tahun terakhir. Ini menciptakan dilema antara aspek keselamatan dan potensi pendapatan daerah.

Dari perspektif fundamental, status waspada tidak serta-merta menghentikan aktivitas ekonomi, tetapi menuntut penyesuaian proyeksi risiko. Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa setiap kunjungan pejabat tidak mengorbankan aspek likuiditas anggaran kebencanaan maupun keselamatan publik. Portofolio kebijakan mitigasi harus tetap berbasis data, bukan sekadar sentimen politik di atas kapal.

Ke depan, tantangan utama adalah menjaga keseimbangan antara respons cepat pemerintah, keselamatan warga, dan keberlanjutan ekonomi pesisir. Tanpa koordinasi lintas lembaga yang solid, kunjungan simbolik berpotensi menjadi bumerang bagi kredibilitas tata kelola kebencanaan nasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User