Grup KUB Bank Jatim Pacu Kredit dan Digitalisasi Lewat Tiga Program

Berdasarkan data Bank Indonesia per Februari 2025, pertumbuhan kredit perbankan nasional tercatat sebesar 10,4% year-on-year (yoy), didorong oleh permintaan segmen korporasi dan konsumsi. Di tengah tr...

Aug 07, 2026 - 07:15
0 0
Grup KUB Bank Jatim Pacu Kredit dan Digitalisasi Lewat Tiga Program

Berdasarkan data Bank Indonesia per Februari 2025, pertumbuhan kredit perbankan nasional tercatat sebesar 10,4% year-on-year (yoy), didorong oleh permintaan segmen korporasi dan konsumsi. Di tengah tren tersebut, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) bersama kelompok usaha bank (KUB) yang menaunginya, yaitu Bank Jatim Syariah dan Bank Mantap, meluncurkan tiga program andalan untuk mengakselerasi penyaluran kredit sekaligus memperkuat layanan digital. Langkah ini menjadi respons atas meningkatnya kompetisi di industri perbankan regional, di mana bank pembangunan daerah (BPD) dituntut untuk berinovasi tanpa meninggalkan prinsip kehati-hatian.

Tiga Program Andalan: Sinergi Kredit dan Digitalisasi

Direktur Utama Bank Jatim, Busrul Iman, dalam paparan publik yang digelar di Surabaya pada Rabu (12/3/2025), mengungkapkan bahwa tiga program utama tersebut mencakup pembiayaan terintegrasi untuk sektor produktif, digitalisasi layanan perbankan melalui super-app, serta optimalisasi ekosistem KUB dalam penyaluran kredit usaha rakyat (KUR). Program pertama menyasar pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan skema pembiayaan berbasis rantai pasok (supply chain financing) yang melibatkan pemasok dan distributor di Jawa Timur. Program kedua adalah pengembangan aplikasi JConnect yang kini memiliki fitur pembukaan rekening secara digital, pengajuan kredit online, dan integrasi dengan layanan pembayaran QRIS. Sementara itu, program ketiga memanfaatkan jaringan KUB untuk memperluas jangkauan KUR, dengan target penyaluran hingga Rp8,5 triliun pada akhir tahun 2025, naik 15% dibandingkan realisasi tahun 2024 yang mencapai Rp7,4 triliun.

Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Januari 2025, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) BPD secara nasional berada di level 2,8%, sedikit lebih tinggi dibandingkan bank umum yang sebesar 2,4%. Oleh karena itu, Bank Jatim menegaskan bahwa setiap program kredit baru akan disertai dengan penguatan manajemen risiko, termasuk penggunaan skor kredit digital (digital scoring) yang memanfaatkan data alternatif seperti riwayat transaksi e-commerce dan utilitas.

Pro dan Kontra: Efektivitas Program di Tengah Tekanan Likuiditas

Di satu sisi, langkah Bank Jatim untuk mendorong kredit melalui tiga program ini dipandang positif oleh para analis. Kepala Ekonom PT Bank Permata, Josua Pardede, menilai bahwa sinergi dalam grup KUB dapat meningkatkan efisiensi biaya dana (cost of fund) karena adanya berbagi infrastruktur dan basis nasabah. "Dengan menggabungkan kekuatan Bank Jatim, Bank Jatim Syariah, dan Bank Mantap, mereka dapat menawarkan produk yang lebih kompetitif, terutama di segmen UMKM yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Jawa Timur," ujarnya. Selain itu, digitalisasi layanan dapat menekan biaya operasional hingga 20% dalam jangka menengah, sebagaimana terlihat pada bank-bank nasional yang telah lebih dulu bertransformasi.

Di sisi lain, sejumlah pengamat mengingatkan adanya risiko yang tidak bisa diabaikan. Ekonom dari Universitas Airlangga, Dr. Siti Khoirun Nisa, mengungkapkan bahwa ekspansi kredit yang agresif di tengah ketidakpastian ekonomi global dapat memicu peningkatan NPL jika tidak diimbangi dengan seleksi debitur yang ketat. "Proyeksi pertumbuhan kredit 15% untuk KUR memang ambisius, tetapi kita perlu melihat apakah sektor riil di Jawa Timur benar-benar mampu menyerapnya. Jangan sampai program ini justru menciptakan 'credit boom' yang berujung pada pemburukan kualitas aset," katanya. Data BPS menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada kuartal IV-2024 hanya mencapai 4,9% yoy, lebih rendah dari nasional yang sebesar 5,02%, sehingga daya serap sektor usaha masih terbatas.

Dampak terhadap Likuiditas dan Sentimen Pasar

Dari sisi likuiditas, Bank Jatim mencatatkan rasio dana murah (current account saving account/CASA) sebesar 62,5% per Desember 2024, meningkat dari 60,1% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini memberikan ruang bagi bank untuk menurunkan suku bunga kredit, yang saat ini rata-rata berada di level 8,75% untuk kredit korporasi dan 11,25% untuk kredit konsumsi. Namun, tekanan likuiditas masih mungkin terjadi karena pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang melambat menjadi 7,2% yoy, dibandingkan pertumbuhan kredit yang mencapai 12,8% yoy. Untuk mengantisipasi hal ini, Bank Jatim telah menerbitkan obligasi subordinasi senilai Rp1,5 triliun pada Februari 2025, yang akan digunakan untuk memperkuat modal dan mendanai ekspansi kredit.

Sentimen pasar terhadap langkah Bank Jatim terlihat positif, tercermin dari harga saham BJTM yang naik 3,2% dalam sepekan terakhir, lebih tinggi dibandingkan indeks sektor perbankan yang hanya naik 1,1%. Analis dari NH Korindo Sekuritas, Anggaraksa Arismunandar, menyatakan bahwa investor melihat program digitalisasi sebagai katalis jangka panjang, meskipun dalam jangka pendek biaya investasi teknologi akan membebani laba. "Kami memperkirakan laba bersih Bank Jatim tumbuh 8% pada 2025, didukung oleh pendapatan berbasis komisi dari layanan digital dan efisiensi operasional," jelasnya.

Proyeksi dan Tantangan ke Depan

Ke depan, keberhasilan tiga program ini akan sangat bergantung pada kemampuan Bank Jatim dalam mengelola ekosistem KUB secara efektif. Bank Indonesia mencatat bahwa rasio inklusi keuangan di Jawa Timur baru mencapai 83,2% pada tahun 2024, masih di bawah target nasional 90%. Digitalisasi dapat menjadi alat untuk menjangkau masyarakat unbanked, tetapi perlu diimbangi dengan literasi digital yang memadai. Selain itu, persaingan dengan bank swasta dan bank digital seperti Bank Jago dan SeaBank yang agresif menawarkan suku bunga tinggi untuk tabungan dapat mengganggu stabilitas DPK.

Dengan demikian, langkah Bank Jatim untuk menggabungkan tiga program andalan dalam grup KUB merupakan upaya strategis untuk memperkuat posisi di pasar regional. Namun, seperti halnya setiap kebijakan ekspansi, terdapat trade-off antara pertumbuhan dan risiko. Kehati-hatian dalam seleksi debitur, pengawasan kualitas aset, serta inovasi berkelanjutan dalam layanan digital akan menjadi kunci untuk memastikan bahwa program-program ini tidak hanya mendongkrak kredit, tetapi juga menjaga kesehatan fundamental bank dalam jangka panjang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User