Oct 15, 2026
Bisnis

GP Mandalika 2026 dan Dorongan Ekonomi Lombok dalam Sorotan

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Bank Indonesia per kuartal III 2026, penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Sirkuit Mandalika, Lombok, Nusa Tenggar...

GP Mandalika 2026 dan Dorongan Ekonomi Lombok dalam Sorotan

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Bank Indonesia per kuartal III 2026, penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Sirkuit Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat, kembali menjadi salah satu katalis utama pergerakan ekonomi daerah. Ajang balap kelas dunia ini tidak hanya menjadi tontonan olahraga, tetapi juga menjadi instrumen stimulus bagi sektor pariwisata, akomodasi, transportasi, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kawasan sekitarnya.

Indeks Kunjungan Wisatawan dan Okupansi Hotel

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, tingkat okupansi hotel berbintang di kawasan Lombok Tengah dan Mataram pada periode penyelenggaraan mencapai kisaran 85 hingga 95 persen, mengalami kenaikan signifikan dibandingkan rata-rata bulanan yang biasanya berada di angka 55 sampai 65 persen. Angka ini menunjukkan bahwa sentimen pasar terhadap event berskala internasional masih sangat kuat dalam mendorong permintaan jasa akomodasi.

Dari sisi kunjungan, proyeksi Dinas Pariwisata NTB mencatat adanya penambahan kunjungan wisatawan mancanegara maupun domestik hingga ratusan ribu orang selama periode event. Dampak berganda (multiplier effect) ini terasa pada sektor transportasi, kuliner, dan cendera mata, dengan estimasi perputaran uang di masyarakat lokal mencapai puluhan miliar rupiah dalam sepekan penyelenggaraan.

Dua Sisi Pandang: Fundamental versus Sentimen Pasar

Di satu sisi, keberhasilan ajang ini menunjukkan bahwa fundamental ekonomi daerah memiliki daya tahan yang baik. Infrastruktur pendukung seperti bandara, jalan akses, dan jaringan telekomunikasi yang terbangun sejak persiapan awal telah meningkatkan kapasitas ekonomi Lombok secara struktural. Kehadiran event berulang menciptakan apa yang dalam terminologi ekonomi disebut sebagai recurring demand, yakni permintaan yang datang secara berkala dan dapat diprediksi sehingga pelaku usaha memiliki kepastian untuk berinvestasi.

Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa ketergantungan pada event berskala besar memiliki risiko tersendiri. Tanpa diversifikasi sumber pertumbuhan, ekonomi Lombok berpotensi mengalami fluktuasi tajam antara periode event dan periode normal. Fenomena ini dalam kajian ekonomi dikenal sebagai seasonality trap, di mana kegiatan ekonomi terkonsentrasi pada waktu-waktu tertentu saja.

"Event besar memang mampu menciptakan lonjakan permintaan jangka pendek yang signifikan, tetapi tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menjaga keberlanjutan setelah panggung balap dibongkar," ujar seorang pengamat ekonomi regional dalam sebuah diskusi publik.

Likuiditas dan Capital Outflow di Sektor Riil

Dari perspektif likuiditas, perputaran uang selama event memberikan dorongan positif bagi perbankan daerah. Data OJK mencatat adanya peningkatan transaksi non-tunai dan penarikan tunai di ATM kawasan Mandalika, mencerminkan naiknya aktivitas ekonomi riil. Namun, perlu dicatat bahwa sebagian keuntungan juga berpotensi mengalir keluar daerah (capital outflow), terutama jika pelaku usaha yang terlibat berasal dari luar NTB.

Rasio dampak lokal terhadap total belanja penyelenggaraan menjadi indikator penting. Jika rasio tersebut rendah, maka manfaat bersih bagi perekonomian lokal tidak sebesar yang tampak di permukaan. Oleh karena itu, keterlibatan UMKM lokal, tenaga kerja setempat, dan rantai pasok daerah menjadi variabel kunci yang harus terus diperkuat.

Proyeksi dan Tantangan ke Depan

Memandang ke depan, proyeksi pertumbuhan ekonomi NTB pada akhir tahun diprediksi tetap berada di jalur positif, dengan kontribusi sektor pariwisata yang signifikan. Namun, valuasi manfaat jangka panjang akan sangat bergantung pada kemampuan daerah menarik investasi lanjutan, membangun infrastruktur permanen, dan menciptakan kalender event yang berkelanjutan.

Kolaborasi lintas pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, badan usaha, hingga masyarakat, menjadi fondasi penting. Tanpa koordinasi yang solid, lonjakan ekonomi hanya akan menjadi angka musiman tanpa dampak struktural. Sebaliknya, dengan tata kelola yang baik, Mandalika berpotensi menjadi model pengembangan ekonomi berbasis event yang dapat direplikasi di daerah lain.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah ajang tidak cukup diukur dari gemerlapnya podium, tetapi dari sejauh mana manfaatnya meresap ke lapisan ekonomi paling bawah secara berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User