Gerak Hijau 2026: Wamen LH Tekankan Sinergi Masyarakat dan Korporasi

Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan berkelanjutan di Indonesia memerlukan keterlibatan aktif seluruh elemen bangsa, mulai dari komunitas akar ru...

Jul 27, 2026 - 21:34
0 0
Gerak Hijau 2026: Wamen LH Tekankan Sinergi Masyarakat dan Korporasi

Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan berkelanjutan di Indonesia memerlukan keterlibatan aktif seluruh elemen bangsa, mulai dari komunitas akar rumput hingga dunia usaha. Hal itu disampaikan saat meninjau langsung fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R) Sapuh Jagad di Desa Gulingan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, pada Selasa (8/7/2026). Kunjungan ini menjadi bagian dari rangkaian kampanye Gerak Hijau 2026 yang mengusung semangat kolaborasi.

Gerak Hijau 2026 merupakan gerakan nasional yang diinisiasi untuk mempercepat transisi Indonesia menuju ekonomi hijau, menekan emisi karbon, dan memulihkan ekosistem. Program ini mengandalkan partisipasi lintas sektor, termasuk pemerintah daerah, perusahaan swasta, dan masyarakat. “Kolaborasi adalah napas dari Gerak Hijau 2026. Tanpa gotong royong, target-target lingkungan kita hanya akan menjadi angan-angan,” ujar Diaz Hendropriyono di sela kunjungan.

Komitmen Korporasi: ANTAM dan Agenda Dekarbonisasi

Dalam kesempatan yang sama, PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) menegaskan kembali komitmennya terhadap praktik bisnis berkelanjutan. Perusahaan tambang milik negara ini memaparkan peta jalan dekarbonisasi yang mencakup pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 30 persen pada tahun 2030 dan net zero emission pada 2060. Langkah konkret yang telah dijalankan antara lain penggunaan energi terbarukan di fasilitas operasional, efisiensi energi, serta rehabilitasi lahan pasca-tambang. ANTAM juga mendukung program Gerak Hijau 2026 melalui pendanaan pengelolaan sampah berbasis masyarakat, seperti yang diterapkan di TPS 3R Sapuh Jagad. “Kami percaya bahwa keberlanjutan lingkungan adalah fondasi bisnis jangka panjang. Dukungan kami tidak hanya berbentuk dana, tetapi juga transfer teknologi dan pendampingan,” kata Direktur Utama ANTAM.

Peran TPS 3R dalam Mengubah Perilaku Masyarakat

Fasilitas TPS 3R Sapuh Jagad yang dikunjungi Wamen LH menjadi contoh nyata keberhasilan pengelolaan sampah berbasis komunitas. Terletak di wilayah pariwisata Bali yang menghadapi tekanan timbulan sampah tinggi, TPS 3R ini mampu mengolah hingga 15 ton sampah per hari menjadi kompos dan bahan daur ulang. Warga Desa Gulingan tidak hanya terlibat dalam pemilahan sampah dari sumber, tetapi juga mendapatkan manfaat ekonomi dari hasil penjualan produk daur ulang. Sistem ini mengurangi beban Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sekaligus menciptakan lapangan kerja hijau. “Model seperti ini harus direplikasi di daerah lain. Kunci keberhasilannya adalah kesadaran kolektif dan kepemimpinan lokal yang kuat,” tutur Diaz.

Gerak Hijau 2026: Target dan Harapan

Gerak Hijau 2026 menargetkan partisipasi 1.000 desa di seluruh Indonesia dalam program pengelolaan lingkungan terpadu pada akhir tahun. Selain pengelolaan sampah, program ini mencakup penghijauan lahan kritis, konservasi air, dan pengembangan energi bersih skala kecil. Pemerintah pusat menyediakan insentif bagi daerah dan perusahaan yang berkontribusi, termasuk kemudahan perizinan dan insentif fiskal. Diaz menekankan bahwa kolaborasi bukan hanya slogan. “Kami ingin Gerak Hijau 2026 menjadi titik balik, di mana semua pihak merasa ikut memiliki masa depan bumi Indonesia. Kami buka ruang seluas-luasnya bagi inovasi dan kemitraan,” katanya.

Tantangan dan Peluang Ekonomi Hijau Indonesia

Indonesia memiliki potensi besar dalam ekonomi hijau, namun juga menghadapi sejumlah tantangan. Deforestasi, polusi udara perkotaan, dan sampah plastik laut masih menjadi isu kritis. Data Kementerian Lingkungan Hidup mencatat, timbulan sampah nasional mencapai 68 juta ton per tahun pada 2025, dengan tingkat daur ulang baru sekitar 12 persen. Di sisi lain, investasi hijau dalam negeri terus meningkat, dengan total komitmen mencapai Rp45 triliun pada triwulan pertama 2026. Sektor swasta semakin menyadari bahwa prinsip environmental, social, and governance (ESG) menjadi syarat mutlak untuk akses pasar global. “Gerak Hijau 2026 bisa menjadi katalisator yang mempertemukan kebutuhan lingkungan dengan peluang bisnis,” ujar pengamat ekonomi lingkungan dari Universitas Indonesia.

Melalui kunjungan ke Bali dan penegasan komitmen dari BUMN seperti ANTAM, pemerintah ingin mengirimkan pesan kuat bahwa jalan menuju Indonesia hijau harus dilalui bersama. Gerak Hijau 2026 bukan sekadar kampanye, melainkan gerakan nasional yang bergantung pada perubahan pola pikir dan tindakan nyata di semua lini. Keberhasilan program ini akan menjadi indikator keseriusan Indonesia dalam memenuhi target pembangunan berkelanjutan dan komitmen iklim global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User