Gerak Hijau 2026, Kolaborasi Multipihak Menuju Indonesia Lebih Hijau

Bali menjadi saksi bergulirnya komitmen nasional untuk memperkuat kelestarian lingkungan melalui program Gerak Hijau 2026. Inisiatif ini tidak sekadar seremoni, melainkan langkah konkret yang menekank...

Jul 27, 2026 - 22:50
0 0
Gerak Hijau 2026, Kolaborasi Multipihak Menuju Indonesia Lebih Hijau

Bali menjadi saksi bergulirnya komitmen nasional untuk memperkuat kelestarian lingkungan melalui program Gerak Hijau 2026. Inisiatif ini tidak sekadar seremoni, melainkan langkah konkret yang menekankan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha dalam menekan laju degradasi ekosistem. Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Faisal Hendropriyono, saat meninjau langsung Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R) Sapuh Jagad di Desa Gulingan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, menegaskan bahwa pelibatan warga adalah fondasi utama keberhasilan gerakan ini.

Kolaborasi Berbasis Komunitas

Di tengah tantangan pengelolaan limbah yang semakin kompleks, kehadiran fasilitas TPS 3R menjadi solusi yang tumbuh dari bawah. Wamen Diaz menggarisbawahi bahwa tanpa partisipasi aktif masyarakat, berbagai target lingkungan hanya akan menjadi dokumen tanpa dampak. "Transformasi menuju Indonesia yang lebih hijau hanya bisa terjadi jika setiap individu merasa memiliki tanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkannya," ungkapnya di sela peninjauan. Data dari Dinas Lingkungan Hidup setempat mencatat, TPS 3R Sapuh Jagad mampu mengolah 2,5 ton sampah per hari, mengurangi volume kiriman ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hingga 60 persen. Angka ini menunjukkan bahwa pendekatan desentralisasi pengolahan sampah, bila dikelola dengan pendampingan teknis yang tepat, dapat menjadi model nasional. Pola kemitraan antara pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, dan kelompok swakelola menjadi cetak biru yang kini direplikasi di 15 kabupaten lain di Indonesia.

Peran Vital Tempat Pengolahan Sampah 3R

TPS 3R bukan sekadar tempat pemilahan. Di lokasi tersebut, warga dilatih untuk memisahkan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah, memanfaatkan limbah dapur menjadi kompos, serta mengolah plastik bernilai jual rendah menjadi bahan baku kerajinan dan paving block. Wamen LH melihat langsung aktivitas para kader lingkungan yang memilah botol, kardus, dan sisa makanan dengan cekatan. "Inilah ekonomi sirkular yang sebenarnya," ujarnya. "Lingkungan hidup bukan hanya soal pelestarian, melainkan juga pemberdayaan ekonomi. Setiap kilogram sampah yang didaur ulang menciptakan lapangan kerja dan mengurangi emisi metana dari tumpukan sampah terbuka." Berdasarkan perhitungan Kementerian Lingkungan Hidup, program serupa di Bali telah berkontribusi menurunkan 8.700 ton emisi karbon dioksida ekuivalen sepanjang tahun 2025. Capaian ini mengerek optimisme bahwa implementasi menyeluruh Gerak Hijau 2026 dapat mempercepat target penurunan emisi sesuai Enhanced Nationally Determined Contribution (E-NDC), yakni pengurangan emisi sebesar 31,89 persen dengan upaya sendiri dan 43,20 persen dengan dukungan internasional.

Komitmen Korporasi dalam Dekarbonisasi

Gerak Hijau 2026 juga menjadi panggung bagi swasta untuk mempertegas langkah keberlanjutan. PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) yang selama ini identik dengan industri ekstraktif, justru tampil sebagai salah satu penggerak utama komitmen dekarbonisasi. Perusahaan anggota holding BUMN pertambangan itu memaparkan peta jalan pengurangan emisi yang ambisius. Direktur Utama ANTAM, dalam pernyataan resminya, menyebut bahwa perseroan tengah meningkatkan bauran energi terbarukan dalam operasi penambangan dan pengolahan mineral. “Kami tidak bisa lagi berbisnis dengan mengabaikan jejak karbon. Melalui Gerak Hijau, ANTAM berinvestasi pada teknologi smelter rendah emisi, elektrifikasi armada tambang, dan rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) di sekitar lingkar tambang,” paparnya. Komitmen tersebut bukan tanpa dasar. Laporan Keberlanjutan ANTAM menunjukkan bahwa perusahaan menargetkan penurunan intensitas emisi sebesar 18 persen pada 2028 sebelum mencapai netral karbon di 2050. Langkah ini disambut positif oleh Wamen Diaz yang mengapresiasi integrasi antara kebijakan hijau pemerintah dengan strategi bisnis korporasi. “Dunia usaha harus menjadi mitra strategis, bukan sekadar objek regulasi. Kolaborasi seperti ini yang akan mempercepat transisi energi Indonesia,” imbuhnya.

Dari Desa Gulingan Menuju Indonesia

Apa yang terjadi di Desa Gulingan adalah miniatur dari ambisi besar Indonesia. TPS 3R Sapuh Jagad membuktikan bahwa modal sosial berupa gotong royong dan kearifan lokal mampu berpadu dengan teknologi tepat guna. Program Gerak Hijau 2026 yang diusung oleh Kementerian Lingkungan Hidup tidak hanya bergerak pada isu sampah, melainkan juga konservasi air, rehabilitasi mangrove, dan perhutanan sosial. Seluruh elemen tersebut dirangkai dalam kerangka community-based environmental governance. Wamen Diaz menutup kunjungannya dengan menanam bibit pohon mangga dan melepas bibit ikan di embung desa sebagai simbol komitmen kolektif. “Ini bukan proyek pemerintah, tapi gerakan bersama. Kalau Desa Gulingan bisa, desa lain pun bisa. Indonesia akan benar-benar hijau jika semua bahu-membahu,” tegasnya. Kini, mata publik tertuju pada implementasi nyata dari komitmen yang telah diikrarkan. Sinergi antara regulasi pemerintah, inovasi korporasi, dan ketangguhan komunitas menjadi penentu apakah Gerak Hijau 2026 mampu mencatatkan sejarah baru bagi lingkungan hidup Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User