Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per Oktober 2025, sektor makanan dan minuman (mamin) mencatatkan kontribusi sekitar Rp 1.200 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, atau setara 38 persen dari total PDB industri kreatif. Angka ini menjadikan subsektor kuliner sebagai penyumbang terbesar, jauh melampaui kriya, fesyen, dan animasi. Dalam konteks itulah pameran dagang berskala internasional kembali digelar di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Tangerang, Jumat (9/10).
Penyelenggara membuka dua agenda sekaligus: FLEI Business Show edisi ke-27 dan Café & Brasserie Expo Indonesia (CBE) edisi ke-9. Kombinasi ini mempertemukan pelaku usaha makanan, minuman, peralatan dapur, kemasan, hingga penyedia jasa logistik dalam satu atap. Bagi pembaca awam, pameran semacam ini berfungsi sebagai jembatan antara produsen hulu dan pemilik kafe di hilir, sehingga rantai pasok (supply chain) menjadi lebih efisien.
Pro: Sinyal Pemulihan Konsumsi Domestik
Di satu sisi, gelaran pameran ini menegaskan tren pemulihan konsumsi rumah tangga pascapandemi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan konsumsi rumah tangga tumbuh 4,95 persen year-on-year pada kuartal II 2025, dengan belanja makanan-minuman sebagai komponen dominan. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bank Indonesia per Agustus 2025 berada di level 124,4, masih di zona optimistis (di atas 100) meski sedikit melandai dari 125,2 pada bulan sebelumnya.
Antusiasme pelaku usaha terlihat dari jumlah peserta. Pameran tahun ini diklaim diikuti lebih dari 300 exhibitor dari dalam dan luar negeri, mencakup kategori mesin espresso, biji kopi sangrai, peralatan pendingin, hingga sistem kasir digital. Kehadiran pemasok internasional berpotensi menekan biaya impor bahan baku dan memperluas portofolio produk UMKM lokal.
"Pameran ini menjadi barometer permintaan pasar terhadap peralatan dan bahan baku mamin. Kalau minat exhibitor naik, biasanya diikuti ekspansi gerai di kuartal berikutnya," ujar seorang pengamat industri mamin dalam diskusi panel pembukaan.
Dari kacamata makro, gelaran ini juga menyokong target investasi sektor pengolahan. Realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di industri makanan tercatat Rp 42,3 triliun pada semester I 2025, naik 11,7 persen dibanding periode sama tahun lalu.
Kontra: Tekanan Daya Beli dan Biaya Operasional
Di sisi lain, euforia pameran tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi lapangan. Kalangan pemilik kafe skala kecil masih bergelut dengan kenaikan biaya sewa, energi, dan bahan baku. Inflasi pangan bergejolak (volatile food) per September 2025 tercatat 3,63 persen year-on-year, sementara harga biji kopi arabika global naik hampir 40 persen sepanjang 2025 akibat cuaca ekstrem di Brasil dan Vietnam.
Faktor eksternal turut membayangi. Gejolak nilai tukar membuat sebagian pelaku usaha menahan ekspansi peralatan impor. Rupiah sempat melemah ke level Rp 16.450 per dolar AS pada September 2025, memicu capital outflow dari pasar obligasi domestik dan menekan likuiditas sebagian korporasi menengah.
Kritik lain datang soal pemerataan. Selama ini, pameran berskala besar cenderung terpusat di kawasan Jabodetabek. Pelaku usaha di luar Jawa mengeluhkan biaya akomodasi dan logistik yang mahal untuk hadir. Akibatnya, transfer teknologi dan jejaring bisnis tidak menyebar merata, sehingga valuasi pertumbuhan sektor mamin terkonsentrasi di wilayah tertentu.
Proyeksi dan Fundamental Jangka Menengah
Terlepas dari dua perspektif tersebut, fundamental sektor mamin masih tergolong solid. Proyeksi pemerintah menargetkan pertumbuhan industri pengolahan nonmigas sebesar 5,4 persen pada 2026, lebih tinggi dari realisasi 2025 yang diperkirakan 4,8 persen. Belanja perjalanan wisatawan domestik juga diprediksi naik ke Rp 1.100 triliun, dengan 35–40 persen di antaranya dibelanjakan di kafe dan restoran.
Bagi investor dan pelaku usaha, sinyal dari pameran ini perlu dibaca secara berimbang. Sentimen pasar jangka pendek bisa positif karena tingginya transaksi di lantai pameran. Namun keberlanjutan bergantung pada rasio biaya operasional terhadap pendapatan, kemampuan menjaga margin di tengah inflasi bahan baku, serta akses pembiayaan yang terjangkau. Tanpa perbaikan struktural itu, pertumbuhan jumlah gerai tidak otomatis diikuti pertumbuhan laba.
Kesimpulannya, penyelenggaraan FLEI Business Show dan CBE mencerminkan optimisme sekaligus kerentanan sektor mamin nasional. Pameran berfungsi sebagai katalis jejaring, tetapi daya beli riil dan stabilitas makro tetap menjadi penentu utama arah tren bisnis kuliner dalam 12–18 bulan ke depan.
Comments (0)