Empat BUMN Bersiap IPO, BEI Sambut Positif Inisiatif Danantara

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per akhir Maret 2025, kapitalisasi pasar saham domestik tercatat sekitar Rp 12.500 triliun dengan jumlah emiten lebih dari 940 perusahaan. Di tengah tren In...

Aug 09, 2026 - 12:43
0 0
Empat BUMN Bersiap IPO, BEI Sambut Positif Inisiatif Danantara

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per akhir Maret 2025, kapitalisasi pasar saham domestik tercatat sekitar Rp 12.500 triliun dengan jumlah emiten lebih dari 940 perusahaan. Di tengah tren Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang bergerak fluktuatif pada rentang 6.500 hingga 7.200 sepanjang tahun berjalan, otoritas bursa menyatakan dukungan terhadap inisiatif Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) untuk membawa perusahaan pelat merah melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Sedikitnya empat BUMN masuk dalam daftar pipeline, di antaranya PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) dan PT Angkasa Pura.

Dukungan BEI terhadap Pipeline IPO Pelat Merah

IPO adalah proses penawaran saham perdana kepada publik yang memungkinkan perusahaan memperoleh pendanaan segar sekaligus membuka kepemilikan kepada masyarakat. Bagi bursa, kedatangan emiten berkapitalisasi besar seperti Pelindo dan Angkasa Pura berpotensi menambah kedalaman pasar. Sebagai gambaran, Danantara yang resmi beroperasi pada Februari 2025 mengelola aset BUMN dengan estimasi nilai mencapai USD 900 miliar atau setara lebih dari Rp 14.000 triliun, menjadikannya salah satu sovereign wealth fund terbesar di kawasan. Jika sebagian entitas di bawahnya melantai, proyeksi penambahan kapitalisasi pasar bisa mencapai ratusan triliun rupiah dalam beberapa tahun ke depan.

Dari sisi fundamental, kedua calon emiten memiliki basis kinerja yang relatif solid. Pelindo sebagai operator pelabuhan terintegrasi mencatatkan arus peti kemas di atas 17 juta TEUs per tahun, sedangkan Angkasa Pura yang kini berada di bawah holding InJourney melayani lebih dari 100 juta penumpang per tahun seiring pemulihan lalu lintas udara pascapandemi. Angka-angka tersebut menjadi modal valuasi ketika saham keduanya kelak ditawarkan ke publik.

Di Satu Sisi: Pendalaman Pasar dan Perbaikan Tata Kelola

Di satu sisi, rencana ini dipandang positif bagi pendalaman pasar modal. Rasio kapitalisasi pasar terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia masih berada di kisaran 45 hingga 50 persen, tertinggal dibanding Malaysia dan Thailand yang menembus 70 hingga 100 persen. Kehadiran emiten BUMN berskala besar dapat mempersempit kesenjangan tersebut, menambah pilihan portofolio bagi investor institusi maupun ritel, serta meningkatkan likuiditas perdagangan harian yang saat ini berkisar Rp 10 triliun hingga Rp 13 triliun per sesi.

Selain itu, IPO memaksa perusahaan negara tunduk pada standar keterbukaan informasi dan tata kelola yang lebih ketat karena diawasi publik serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pengalaman sejumlah BUMN yang lebih dulu melantai menunjukkan tren perbaikan transparansi pelaporan keuangan dan disiplin rasio utang setelah menjadi perusahaan terbuka.

Kedatangan emiten pelat merah berskala besar berpotensi menjadi katalis positif bagi sentimen pasar, sepanjang harga penawaran ditetapkan pada valuasi yang wajar dan porsi publik mencukupi, ujar seorang analis pasar modal di Jakarta.

Di Sisi Lain: Risiko Valuasi dan Daya Serap Likuiditas

Di sisi lain, sejumlah analis mengingatkan risiko yang tidak bisa diabaikan. Pertama, soal valuasi: jika harga IPO dipatok terlalu tinggi, saham berisiko mengalami penurunan setelah listing, sebagaimana dialami beberapa emiten BUMN pada tahun-tahun sebelumnya. Kedua, daya serap pasar. Total dana yang dihimpun dari IPO di BEI sepanjang 2024 tercatat sekitar Rp 14 triliun hingga Rp 15 triliun; satu IPO BUMN besar saja bisa membutuhkan dana setara angka tersebut, sehingga berpotensi menyedot likuiditas dari saham-saham eksisting.

Ketiga, faktor eksternal. Tekanan capital outflow, yakni keluarnya dana asing dari pasar domestik, masih membayangi seiring ketidakpastian arah suku bunga global dan pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp 16.500 per dolar AS. Investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) puluhan triliun rupiah dalam setahun terakhir, sehingga keberhasilan IPO besar sangat bergantung pada partisipasi investor domestik dan anchor investor strategis. Keempat, isu free float atau porsi saham publik: ketentuan minimum saat ini berada di kisaran 7,5 persen, dan pelaku pasar berharap BUMN yang melantai melepas porsi lebih besar agar pergerakan harga mencerminkan mekanisme pasar yang sehat.

Proyeksi: Katalis Positif dengan Catatan Kehati-hatian

Secara keseluruhan, inisiatif Danantara dan sambutan BEI membuka peluang percepatan pendalaman pasar modal dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Pro: kapitalisasi pasar mengalami kenaikan, fundamental emiten pelat merah makin transparan, dan indeks domestik berpotensi mendapat bobot tambahan dari sektor infrastruktur. Kontra: keberhasilan sangat ditentukan oleh kewajaran valuasi, disiplin free float, serta stabilitas makroekonomi yang menjaga sentimen pasar dari tekanan eksternal.

Bagi investor, pesan utamanya adalah kembali pada analisis fundamental masing-masing calon emiten, mulai dari kinerja pendapatan, rasio utang, hingga prospek sektor, alih-alih sekadar mengikuti euforia listing perdana. Sejarah bursa menunjukkan bahwa IPO besar bisa menjadi katalis jangka panjang, tetapi juga bisa menguji daya tahan pasar jika eksekusinya tidak cermat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User