Sep 30, 2026
Bisnis

El Nino Pangkas 650 MW Listrik Sulbagsel Bayangi Ekonomi Regional

Berdasarkan data BPS per Agustus 2026 dan Bank Indonesia per September 2026, perekonomian Sulawesi Selatan tumbuh 7,02 persen year-on-year, lebih tinggi dari pertumbuhan nasional 5,12 persen, dengan i...

El Nino Pangkas 650 MW Listrik Sulbagsel Bayangi Ekonomi Regional

Berdasarkan data BPS per Agustus 2026 dan Bank Indonesia per September 2026, perekonomian Sulawesi Selatan tumbuh 7,02 persen year-on-year, lebih tinggi dari pertumbuhan nasional 5,12 persen, dengan inflasi terjaga di level 2,31 persen dan indeks keyakinan konsumen berada di angka 128,4. Namun fundamental solid tersebut kini diuji oleh gangguan sisi pasokan energi. Sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan yang meliputi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat mengalami penurunan kapasitas pembangkit hingga 650 MW akibat menyusutnya debit air pada sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Air di tengah musim kemarau panjang dan fenomena El Nino.

El Nino, yang secara sederhana dapat dijelaskan sebagai anomali iklim berupa memanasnya suhu permukaan laut di Pasifik yang memicu penurunan curah hujan di Indonesia, telah menekan level muka air waduk secara signifikan sepanjang kuartal III 2026. Di satu sisi, tekanan ini bersifat musiman dan siklikal yang pernah terjadi pada 2015 dan 2019. Di sisi lain, intensitas dan durasinya tahun ini dinilai lebih berat karena bertepatan dengan beban puncak yang mengalami kenaikan hingga 2.450 MW pada September 2026, naik 6,8 persen dibandingkan periode sama tahun 2025 sebesar 2.294 MW, sehingga selisih antara pasokan tersedia dan kebutuhan menjadi sangat tipis.

Debit Air Menyusut, PLTA Kehilangan 650 MW Pasokan

Sejumlah PLTA andalan di Sulbagsel yang selama ini menopang sekitar 35 persen bauran energi regional dilaporkan mengalami penurunan debit air hingga 40 persen dibandingkan kondisi normal. Akibatnya, daya mampu yang sebelumnya berada di kisaran 3.100 MW turun menjadi sekitar 2.450 MW, atau mengalami penurunan sebesar 650 MW atau setara 21 persen dari total kapasitas terpasang sistem. Rasio cadangan atau reserve margin yang idealnya berada di atas 25 persen kini tertekan ke level 8 hingga 12 persen, jauh di bawah standar operasi aman 20 persen.

Tren penyusutan ini terlihat sejak Juni 2026 ketika curah hujan di DAS Jeneberang, Saddang, dan Larona tercatat hanya 45 milimeter per bulan, turun 62 persen year-on-year dari 118 milimeter pada Juni 2025. Level air waduk utama dilaporkan menyusut 4,5 meter dari batas normal operasi. Kondisi likuiditas pasokan, istilah yang menggambarkan kelancaran arus daya dari pembangkit ke jaringan transmisi, menjadi seret karena PLTA tidak dapat beroperasi pada beban penuh selama jam beban puncak sore hingga malam hari pukul 18.00 hingga 22.00 WITA.

Dampak Berlapis ke Industri, UMKM, dan Sentimen Pasar

Di satu sisi, otoritas kelistrikan menilai sistem masih terkendali melalui skema transfer daya antarsistem, pengoperasian pembangkit diesel dan gas sebagai penopang, serta manajemen beban bergilir yang selektif. Proyeksi kebutuhan energi primer untuk pembangkit pengganti diperkirakan mengalami kenaikan biaya operasi hingga Rp285 miliar selama kuartal III 2026, naik 18,4 persen dibandingkan kuartal II sebesar Rp240,7 miliar. Angka ini mencerminkan tantangan fundamental berupa ketergantungan pada PLTA murah dengan biaya pokok sekitar Rp350 per kWh versus pembangkit diesel yang mencapai Rp2.800 per kWh.

Di sisi lain, pelaku usaha menyuarakan kekhawatiran atas keberlangsungan produksi. Asosiasi industri di Makassar mencatat 42 persen dari 128 perusahaan survei mengalami penurunan jam operasi 2 hingga 4 jam per hari selama September 2026. Sektor pengolahan nikel di Morowali dan Konawe yang membutuhkan pasokan stabil 380 MW dilaporkan harus menyesuaikan portofolio produksi dan menunda ekspansi smelter tahap II senilai Rp4,2 triliun. Bagi UMKM, pemadaman bergilir 3 jam mampu memangkas omzet harian 15 hingga 25 persen, terutama untuk usaha cold storage perikanan, penggilingan beras, dan kuliner. Sentimen pasar ikut tertekan, tercermin dari indeks saham infrastruktur regional yang melemah 1,9 persen dalam sepekan terakhir.

Ketahanan energi adalah fondasi pertumbuhan. Gangguan 650 MW bukan sekadar persoalan teknis, melainkan risiko makro yang bisa merembet ke inflasi, investasi, dan kepercayaan pasar jika tidak dimitigasi cepat dengan diversifikasi bauran energi, kata seorang ekonom senior yang memantau kawasan timur Indonesia.

Proyeksi El Nino Berlanjut Hingga Awal 2027

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memproyeksikan anomali El Nino moderat dengan indeks Nino 3.4 di level 1,2 derajat Celsius masih bertahan hingga November 2026 dan baru meluruh menuju netral pada Februari 2027. Artinya, tren curah hujan di bawah normal 30 hingga 50 persen masih akan berlangsung selama tiga hingga empat bulan ke depan. Valuasi risiko, yakni penilaian menyeluruh terhadap potensi kerugian ekonomi akibat krisis listrik, diperkirakan mencapai Rp1,35 triliun jika defisit 400 hingga 650 MW berlanjut hingga Desember 2026, setara 0,28 persen dari PDRB gabungan Sulbagsel.

Pro: kondisi ini menjadi momentum mempercepat diversifikasi ke pembangkit gas, surya, dan interkoneksi 275 kV Mamuju-Kendari yang ditargetkan menambah 250 MW transfer daya pada awal 2027. Kontra: percepatan tersebut membutuhkan belanja modal besar di tengah ruang fiskal terbatas dan potensi capital outflow, yaitu keluarnya modal asing dari portofolio obligasi dan saham domestik, jika investor menilai risiko operasional meningkat. Rasio elektrifikasi yang sudah mencapai 99,42 persen dikhawatirkan stagnan apabila tambahan pelanggan baru 112.000 sambungan pada 2026 tidak diimbangi pasokan andal.

Strategi Menjaga Fundamental Ekonomi Tetap Tahan

Untuk menjaga fundamental ekonomi, diperlukan bauran kebijakan jangka pendek dan menengah. Dalam jangka pendek, optimalisasi pembangkit terapung, sewa genset 150 MW, dan program hemat energi 10 persen di instansi pemerintah dapat menutup sekitar 280 MW dari total defisit 650 MW. Insentif tarif di luar beban puncak bagi industri dengan pergeseran operasi malam hari juga dinilai mampu menurunkan beban puncak hingga 95 MW, berdasarkan pengalaman program serupa pada kemarau 2019 yang memangkas beban 4,1 persen.

Dalam jangka menengah, percepatan PLTS terapung 200 MWp di tiga waduk utama, tambahan PLTG 300 MW, serta penguatan jaringan transmisi backbone 150 kV menjadi kunci agar rasio cadangan kembali di atas 20 persen pada semester II 2027. Di satu sisi, investasi hijau ini memperkuat ketahanan iklim dan menurunkan biaya pokok jangka panjang. Di sisi lain, dibutuhkan kepastian regulasi, skema pendanaan campuran, dan komunikasi publik yang transparan agar sentimen pasar pulih dan tren pertumbuhan 7 persen di Sulawesi dapat berlanjut tanpa dibayangi krisis listrik berulang setiap musim kemarau tiba.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User