Berdasarkan data BPS/Bank Indonesia/OJK per Desember 2024, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masih menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Sektor ini menyumbang 61,07% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, serta menyerap 97,02% dari total tenaga kerja di Tanah Air. Namun, kontribusi UMKM terhadap ekspor barang Indonesia masih terbilang terbatas, yaitu hanya sebesar 15,69% dari total ekspor nonmigas. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara peran domestik yang besar, dengan jangkauan pasar luar negeri yang masih belum optimal.
Upaya untuk memperlebar akses pasar tersebut menjadi salah satu agenda penting dalam menjaga fundamental perekonomian. Dengan nilai tukar rupiah yang mengalami tren volatilitas sepanjang tahun 2024 hingga awal 2025, diversifikasi pasar ekspor dapat menjadi langkah untuk meredam dampak capital outflow (arus modal keluar) dan menjaga likuiditas (ketersediaan dana) dalam perekonomian. Salah satu bentuk langkah tersebut terlihat melalui upaya mendorong kehadiran produk-produk UMKM Indonesia ke pasar regional Asia Timur, khususnya melalui ajang pameran dagang berskala internasional yang dapat menjadi pintu masuk bagi pelaku usaha untuk membangun portofolio pasar mereka.
Di Satu Sisi: Peluang untuk Meningkatkan Valuasi dan Daya Saing
Ekspansi ke pasar global dapat memberikan sejumlah manfaat bagi UMKM, terutama dalam jangka menengah. Pertama, akses ke pasar dengan daya beli yang lebih beragam dapat mendorong peningkatan skala produksi. Berdasarkan data Bank Indonesia, permintaan luar negeri terhadap produk manufaktur berorientasi konsumen di kawasan Asia Pasifik mengalami kenaikan year-on-year (perbandingan dengan periode yang sama tahun sebelumnya) sebesar 6,8% pada kuartal III 2024. Tren ini menjadi sinyal positif bagi produk-produk bernilai tambah, seperti kerajinan, tekstil, makanan olahan, dan produk ramah lingkungan yang kerap dihasilkan oleh UMKM binaan.
Kedua, kehadiran di ajang internasional dapat meningkatkan valuasi (penilaian nilai) produk melalui pembelajaran terhadap standar kualitas, kemasan, sertifikasi, hingga harga pasar. Proses ini tidak hanya berdampak pada nilai transaksi saat ini, namun juga dapat membentuk sentimen pasar (persepsi pelaku pasar terhadap prospek suatu produk atau sektor) yang lebih positif terhadap merek Indonesia. Ketiga, partisipasi tersebut dapat memperkuat rasio (perbandingan angka ekonomi) keberlanjutan usaha. Dengan pendapatan dari valuta asing, pelaku usaha berpotensi memperkuat struktur modal, menekan ketergantungan pada pembiayaan jangka pendek, serta membangun cadangan yang dapat menopang operasional saat permintaan domestik melambat.
Lebih jauh, efek berantai dari kegiatan ini dapat dirasakan oleh ekosistem pendukung. Peningkatan permintaan ekspor mendorong aktivitas pada sektor logistik, pengemasan, jasa desain, hingga lembaga pembiayaan. Hal ini sejalan dengan proyeksi (perkiraan berdasarkan data dan asumsi) Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian yang menargetkan peningkatan kontribusi ekspor UMKM secara bertahap, guna menopang pertumbuhan ekonomi nasional yang berdaya tahan di tengah ketidakpastian global.
Di Sisi Lain: Tantangan Struktural yang Masih Besar
Meskipun peluang tersebut terbuka, terdapat sejumlah tantangan struktural yang perlu diperhitungkan. Berdasarkan Survei Kinerja UMKM BPS tahun 2023, hanya 14,4% dari total UMKM di Indonesia yang telah melakukan kegiatan ekspor, baik langsung maupun tidak langsung. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku usaha masih berfokus pada pasar domestik, dengan keterbatasan dalam hal pengetahuan regulasi luar negeri, sertifikasi, serta kapasitas produksi yang terstandarisasi.
Tantangan kedua berkaitan dengan biaya logistik. Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa Indeks Biaya Logistik Indonesia (IBLI) masih berada di level yang relatif tinggi dibandingkan dengan rata-rata negara ASEAN, dengan tekanan terbesar pada biaya distribusi antarpulau dan frekuensi pengiriman ke luar negeri. Kondisi ini dapat menggerus margin keuntungan, khususnya bagi produk dengan nilai jual rendah namun volume tinggi.
Tantangan ketiga adalah akses pembiayaan. Meskipun likuiditas perbankan secara agregat terjaga, berdasarkan data OJK, rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan masih berada di kisaran 20,6% per September 2024. Hal ini berarti mayoritas kebutuhan pembiayaan ekspor, seperti pembiayaan pra-pengiriman atau penjaminan transaksi, belum sepenuhnya terjangkau oleh seluruh pelaku usaha. Di tengah tren kenaikan suku bunga acuan global yang berpotensi memicu capital outflow, biaya pembiayaan ini berpotensi mengalami kenaikan, sehingga menambah beban bagi UMKM yang ingin memulai ekspansi.
Implikasi Terhadap Ekosistem UMKM dan Perekonomian
Dengan mempertimbangkan kedua perspektif di atas, kehadiran UMKM Indonesia di pasar internasional perlu dilihat sebagai proses bertahap, bukan hasil instan. Dukungan terhadap kesiapan usaha, mulai dari peningkatan kapasitas produksi, pendampingan sertifikasi, hingga fasilitasi akses pasar, menjadi faktor fundamental (hal-hal mendasar yang menentukan kekuatan jangka panjang) yang akan menentukan keberhasilan ekspansi tersebut.
Selain itu, sinergi antar lembaga menjadi kunci. Kolaborasi yang menghubungkan pembiayaan, pendampingan teknis, promosi, dan jaringan distribusi dapat menciptakan efek pengganda. Hal ini penting agar manfaat tidak hanya dirasakan oleh segelintir pelaku usaha, namun dapat meluas ke kelompok usaha lain melalui transfer pengetahuan dan perluasan rantai pasok.
Pada akhirnya, upaya membawa produk UMKM ke kancah global merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan ekonomi. Dengan memanfaatkan tren permintaan regional, menjaga fundamental usaha, serta merespons sentimen pasar secara realistis, ekspor UMKM berpotensi menjadi salah satu motor baru pertumbuhan. Namun, potensi tersebut hanya akan terwujud jika tantangan biaya, pembiayaan, dan kapasitas dijawab secara terukur. Inilah keseimbangan yang perlu dijaga agar langkah ini benar-benar berkontribusi terhadap perekonomian yang inklusif dan berkelanjutan.
Comments (0)