Oct 05, 2026
Bisnis

Ekspor UKM dan Dinamika Pasar Global

Berdasarkan data BPS/Bank Indonesia/OJK per 30 September 2025, nilai ekspor nonmigas Indonesia tercatat sebesar Rp1.821,4 triliun, yang mengalami kenaikan sebesar 8,6% year-on-year dibandingkan period...

Ekspor UKM dan Dinamika Pasar Global

Berdasarkan data BPS/Bank Indonesia/OJK per 30 September 2025, nilai ekspor nonmigas Indonesia tercatat sebesar Rp1.821,4 triliun, yang mengalami kenaikan sebesar 8,6% year-on-year dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024. Angka ini menunjukkan adanya tren pemulihan aktivitas perdagangan luar negeri, meski tekanan global masih berlanjut. Fenomena ini turut membuka ruang bagi pelaku usaha berskala kecil dan menengah (UKM) untuk memperluas jangkauan pasar mereka ke luar negeri. Salah satu bentuk pergeseran ini dapat dilihat pada upaya pengembangan produk bernilai tambah, seperti komoditas hasil perikanan dan kerajinan, yang berpotensi masuk ke pasar internasional.

Perluasan akses pasar bagi UKM berkaitan erat dengan fundamental (kondisi dasar perekonomian suatu negara atau sektor) perekonomian domestik. Di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi global yang diproyeksikan oleh berbagai lembaga internasional berada di kisaran 2,7% pada tahun 2025, daya saing produk lokal menjadi faktor krusial. Bagi Indonesia, kontribusi UKM terhadap ekspor nasional masih berada di angka 15,7% berdasarkan data tahun 2024, jauh di bawah negara-negara tetangga seperti Vietnam yang telah melampaui 20%. Hal ini menunjukkan masih besarnya potensi yang dapat digali, namun juga tantangan dalam mendorong lebih banyak pelaku usaha untuk mampu memenuhi standar pasar global.

Di Satu Sisi: Peluang Melalui Peningkatan Kapasitas

Di satu sisi, pembinaan kapasitas menjadi instrumen penting untuk mendorong kinerja ekspor UKM. Peningkatan kemampuan dalam hal sertifikasi, kemasan, pencatatan transaksi, hingga pemahaman regulasi negara tujuan dapat membantu menekan hambatan masuk pasar. Hal ini berdampak positif terhadap valuasi (penilaian atas nilai suatu produk atau usaha) produk lokal, terutama untuk barang yang memiliki keunikan daerah. Dengan meningkatnya daya saing, pelaku usaha berpotensi memperoleh margin yang lebih baik, sehingga dapat memperkuat likuiditas (kemampuan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek) usaha mereka.

Lebih lanjut, perluasan pasar global juga dapat berkontribusi terhadap diversifikasi pendapatan daerah. Sebagai contoh, wilayah dengan potensi komoditas khas seperti Nusa Tenggara Barat memiliki peluang untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar domestik. Apabila tren ini berkelanjutan, sentimen pasar (persepsi pelaku pasar terhadap kondisi tertentu) terhadap produk asal daerah dapat mengalami perbaikan. Hal ini turut mendorong terbentuknya portofolio (kumpulan aset atau sumber pendapatan) usaha yang lebih beragam, sehingga risiko usaha dapat tersebar ke berbagai negara tujuan ekspor.

Di Sisi Lain: Tekanan Makro yang Membatasi

Di sisi lain, berbagai tekanan makroekonomi masih membayangi prospek ekspor UKM. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah fluktuasi nilai tukar Rupiah. Berdasarkan data Bank Indonesia per September 2025, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat mengalami penurunan sebesar 4,2% year-on-year. Pelemahan ini dapat meningkatkan biaya impor bahan baku, namun juga berpotensi mendorong harga ekspor menjadi lebih kompetitif. Namun, dampaknya tidak selalu merata, terutama bagi UKM yang masih bergantung pada bahan baku impor dengan rasio (perbandingan antara dua angka untuk melihat hubungan) ketergantungan yang tinggi.

Selain itu, dinamika global turut memicu capital outflow (arus keluar modal asing dari suatu negara) yang dapat menekan likuiditas domestik. Indeks Dolar AS (DXY) tercatat berada di level 104,5 pada September 2025, mengalami kenaikan sebesar 6,1% year-on-year. Kenaikan indeks ini kerap memperkuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Tekanan tersebut dapat membatasi akses pembiayaan bagi UKM, mengingat suku bunga global yang tetap tinggi turut memengaruhi biaya pinjaman domestik. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha yang baru memulai langkah ekspor.

Implikasi Jangka Menengah

Melihat kedua perspektif tersebut, proyeksi (perkiraan kondisi di masa mendatang berdasarkan data) terhadap peran UKM dalam ekspor nasional perlu dilihat secara realistis. Di satu sisi, upaya peningkatan kapasitas berpotensi mendorong kontribusi ekspor UKM menuju angka 18% pada tahun 2027, apabila tren pembinaan yang terarah dapat dijalankan secara konsisten. Namun, pencapaian ini sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar, ketersediaan pembiayaan dengan biaya terjangkau, serta pemulihan permintaan global.

Di sisi lain, tanpa mitigasi terhadap tekanan makro, potensi tersebut dapat terhambat. Volatilitas harga komoditas, kebijakan perdagangan negara tujuan, serta biaya logistik yang masih relatif tinggi dapat menekan margin UKM. Berdasarkan data terkait biaya logistik Indonesia, rasio biaya logistik terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih berada di kisaran 14,1% pada tahun 2024, yang masih lebih tinggi dibandingkan beberapa negara ASEAN. Hal ini menunjukkan bahwa perluasan pasar tidak cukup hanya dari sisi produksi, namun juga dari sisi efisiensi rantai pasok.

"Peningkatan daya saing UKM untuk ekspor membutuhkan sinergi antara pembinaan kapasitas dan stabilitas makroekonomi. Tanpa kedua aspek ini, upaya perluasan pasar akan sulit berkelanjutan."

Kesimpulan

Perluasan akses ekspor bagi UKM merupakan langkah yang sejalan dengan tren diversifikasi perdagangan Indonesia. Peluang untuk meningkatkan kontribusi ekspor, memperkuat likuiditas usaha, dan membangun portofolio pasar yang lebih luas terbuka lebar melalui peningkatan kapasitas. Namun, peluang tersebut dibayangi oleh tekanan makro seperti pelemahan Rupiah, kenaikan indeks Dolar AS, serta capital outflow yang dapat membatasi ruang gerak pelaku usaha.

Oleh karena itu, dinamika ini perlu dilihat secara berimbang. Fundamental perekonomian domestik yang terus diperkuat, dikombinasikan dengan kemampuan adaptasi UKM terhadap sentimen pasar global, akan menjadi penentu apakah tren positif ekspor UKM dapat bertahan di tengah proyeksi pertumbuhan global yang moderat. Dengan demikian, peran UKM dalam perdagangan luar negeri bukan hanya soal membuka pasar baru, namun juga soal ketahanan dalam menghadapi gejolak ekonomi global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User