Ekonomi RI Kuartal II Tumbuh 5,29%, Menkeu: Masih Solid

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada awal Agustus 2026, perekonomian Indonesia pada kuartal II 2026 tumbuh sebesar 5,29 persen secara year-on-year (yoy). Angka ini sedikit me...

Aug 07, 2026 - 14:42
0 0
Ekonomi RI Kuartal II Tumbuh 5,29%, Menkeu: Masih Solid

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada awal Agustus 2026, perekonomian Indonesia pada kuartal II 2026 tumbuh sebesar 5,29 persen secara year-on-year (yoy). Angka ini sedikit melambat dibandingkan capaian kuartal sebelumnya yang tercatat 5,34 persen, namun masih berada di atas ekspektasi pasar yang memproyeksikan pertumbuhan di kisaran 5,2 persen. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai kinerja ini menunjukkan fundamental ekonomi domestik yang solid di tengah ketidakpastian global.

Respon Pemerintah: Pertumbuhan yang Cukup Baik

Menkeu Purbaya dalam konferensi pers virtual, Selasa (4/8/2026), menyatakan bahwa pertumbuhan 5,29 persen merupakan angka yang cukup baik. "Angka ini menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga dan investasi masih menjadi penopang utama. Meski ada perlambatan tipis, kita harus melihat konteksnya: basis kuartal I 2026 yang tinggi dan normalisasi harga komoditas global," ujarnya. Ia menambahkan bahwa pemerintah tetap optimis target pertumbuhan tahunan sebesar 5,3 persen hingga 5,5 persen masih dapat tercapai, didukung oleh belanja negara yang dipercepat pada paruh kedua tahun ini.

Dua Sisi Kinerja: Pro dan Kontra

Di satu sisi, pertumbuhan 5,29 persen ini didorong oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,02 persen (yoy), ditopang oleh daya beli masyarakat kelas menengah yang relatif stabil. Investasi (PMTB) juga tumbuh 4,8 persen, terutama dari sektor konstruksi dan manufaktur berorientasi ekspor. Namun, di sisi lain, ekspor neto mengalami kontraksi karena pelemahan permintaan dari mitra dagang utama seperti Tiongkok dan Amerika Serikat. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekspor yang hanya 1,2 persen, jauh di bawah impor yang tumbuh 3,4 persen, sehingga neraca perdagangan menyumbang negatif terhadap PDB.

Pro: Pertumbuhan 5,29 persen masih termasuk tertinggi di antara negara G20, dengan inflasi yang terkendali di level 2,8 persen (yoy) dan nilai tukar rupiah yang stabil di kisaran Rp15.800 per dolar AS. Likuiditas perbankan juga longgar, tercermin dari pertumbuhan kredit yang mencapai 10,1 persen (yoy) per Juni 2026. Kontra: Namun, jika dilihat dari sisi sektoral, sektor pertanian dan pertambangan mengalami penurunan masing-masing 0,8 persen dan 1,5 persen (yoy) akibat cuaca ekstrem dan turunnya harga batu bara. Hal ini menunjukkan bahwa struktur pertumbuhan masih belum merata dan bergantung pada sektor jasa.

Sentimen Pasar dan Proyeksi ke Depan

Sentimen pasar terhadap rilis data ini cenderung positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan Selasa (4/8/2026) naik 0,6 persen ke level 7.450, sementara yield obligasi pemerintah 10 tahun turun 5 basis poin menjadi 6,9 persen. Analis menilai bahwa capital outflow yang sempat terjadi pada Mei-Juni 2026 sebesar Rp12 triliun telah berbalik menjadi inflow tipis sebesar Rp2,3 triliun pada pekan pertama Agustus. "Pasar melihat angka ini sebagai sinyal bahwa BI akan menahan suku bunga acuan di level 5,75 persen hingga akhir tahun, yang mendukung stabilitas portofolio," kata Kepala Ekonom sebuah bank swasta nasional dalam risetnya.

Namun, beberapa ekonom mengingatkan risiko ke depan. Pertumbuhan kuartal III 2026 berpotensi melambat ke kisaran 5,1-5,2 persen karena efek musiman dan pelemahan daya beli masyarakat kelas bawah. Selain itu, rasio utang pemerintah terhadap PDB yang mencapai 40,2 persen masih perlu diwaspadai meskipun defisit fiskal diperkirakan tetap di bawah 3 persen. "Pemerintah harus fokus pada hilirisasi dan perbaikan iklim investasi untuk menjaga momentum," ungkap seorang pengamat ekonomi dari universitas ternama.

Dengan demikian, meskipun ada perlambatan, pertumbuhan 5,29 persen pada kuartal II 2026 masih mencerminkan ketahanan ekonomi Indonesia. Pemerintah diharapkan dapat memanfaatkan ruang fiskal yang ada untuk mendorong konsumsi dan investasi pada semester kedua, sambil mengantisipasi gejolak eksternal. Semua mata kini tertuju pada data inflasi Agustus dan kebijakan Bank Indonesia di sisa tahun ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User