Aug 28, 2026
Bisnis

Ekonom Optimistis Soal Fundamental RI, Keyakinan Publik Justru Menurun

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik per Agustus 2026, perekonomian Indonesia tumbuh 5,04 persen year-on-year pada kuartal II-2026, dengan inflasi tahunan terjaga di kisaran 1,87 persen — masih be...

Ekonom Optimistis Soal Fundamental RI, Keyakinan Publik Justru Menurun

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik per Agustus 2026, perekonomian Indonesia tumbuh 5,04 persen year-on-year pada kuartal II-2026, dengan inflasi tahunan terjaga di kisaran 1,87 persen — masih berada di dalam rentang sasaran Bank Indonesia sebesar 1,5 hingga 3,5 persen. Namun di tengah fundamental yang tampak stabil itu, hasil survei Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) untuk semester II-2026 memperlihatkan kontras yang mencolok: kalangan ekonom menilai roda perekonomian akan berputar lebih cepat, sementara masyarakat umum justru mengalami penurunan kepercayaan terhadap kondisi ekonominya sendiri.

Dua Kacamata atas Satu Perekonomian

Survei ISEI semester II-2026 mencatat indeks optimisme ekonom berada di angka 127,4, mengalami kenaikan dibandingkan posisi 121,8 pada semester I-2026. Angka di atas 100 menandakan mayoritas responden memproyeksikan perekonomian membaik dalam enam bulan ke depan. Di sisi lain, indeks keyakinan konsumen publik justru menyusut ke 82,3 dari 89,6 pada periode sebelumnya — posisi yang menempatkan sentimen rumah tangga jauh di bawah garis netral.

Di satu sisi, para ekonom melandaskan keyakinannya pada fondasi yang relatif kokoh: cadangan devisa terjaga di kisaran USD 152 miliar, likuiditas perbankan masih longgar, dan arus portofolio asing ke pasar surat utang negara tercatat positif sepanjang semester I-2026. Rasio kredit terhadap simpanan yang sehat serta valuasi rupiah yang dinilai wajar turut memperkuat argumen tersebut. Di sisi lain, publik menghadapi tekanan yang lebih konkret: gelombang PHK di sektor manufaktur padat karya, daya beli yang belum pulih penuh, serta harga pangan yang berfluktuasi. Bagi masyarakat awam, angka indeks di layar tidak serta-merta terasa di meja makan.

Mengapa Persepsi Ekonom dan Publik Terbelah

Kesenjangan semacam ini bukan fenomena baru, tetapi lebarnya jarak antara kedua indeks patut dicermati. Ekonom umumnya membaca perekonomian dari sisi agregat — pertumbuhan, investasi, dan neraca perdagangan. Publik membaca dari sisi dompet. Padahal konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 53 persen terhadap PDB, sehingga pesimisme konsumen bukan sekadar suasana hati, melainkan variabel yang dapat menekan pertumbuhan itu sendiri. Jika tren kehati-hatian berlanjut, belanja rumah tangga berpotensi melambat dan menyeret proyeksi ekonomi ke bawah.

Pro: optimisme kalangan ekonom mencerminkan kepercayaan terhadap koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang selama ini berjalan, ditopang ekspor komoditas yang masih menguntungkan serta sentimen pasar yang mulai tenang. Kontra: pesimisme publik menandakan manfaat pertumbuhan belum merata; penciptaan lapangan kerja berkualitas tertinggal dari laju angka pertumbuhan itu sendiri. Keduanya sah secara metodologi — yang berbeda hanyalah titik pengamatan masing-masing kelompok responden.

Tantangan yang Masih Menghadang

Ke depan, setidaknya tiga risiko perlu diantisipasi. Pertama, ketidakpastian arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat yang dapat memicu capital outflow — keluarnya dana asing dari pasar berkembang seperti Indonesia — dan menekan nilai tukar rupiah. Kedua, fluktuasi harga komoditas global yang berdampak langsung pada penerimaan ekspor dan pendapatan daerah penghasil. Ketiga, tantangan domestik berupa realisasi belanja pemerintah yang harus tepat waktu agar benar-benar menjadi penggerak aktivitas ekonomi, bukan sekadar angka anggaran di atas kertas.

Dari sisi moneter, ruang kebijakan Bank Indonesia relatif tersedia mengingat inflasi terkendali. Namun pelonggaran yang terlalu agresif juga perlu diwaspadai karena dapat menekan valuasi rupiah dan menggerus daya beli melalui jalur harga impor. Keseimbangan menjadi kunci.

Proyeksi dan Arti bagi Pembaca Awam

Sejumlah ekonom memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 berada di rentang 4,9 hingga 5,1 persen — stabil, tetapi belum cukup melonjak untuk menyerap angkatan kerja baru secara masif. Bagi publik, pesan utama survei ini bukan tentang siapa yang benar, melainkan bahwa pemulihan persepsi harus dijembatani: data makro yang baik perlu diterjemahkan menjadi lapangan kerja, upah yang tumbuh, dan harga kebutuhan pokok yang terjangkau. Tanpa itu, indeks optimisme ekonom dan indeks keyakinan publik akan terus berjalan pada dua arah yang berlawanan.

Pada akhirnya, perekonomian adalah hasil penjumlahan dari kepercayaan semua pelakunya. Selama ekonom melihat peluang dan publik merasakan tekanan, kebijakan yang berpihak pada pemulihan daya beli akan menjadi penghubung paling penting antara kedua kacamata tersebut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User