Duta Literasi OJK Ajak Pelajar Rote Ndao Atur Uang Saku Sejak Dini

Berdasarkan data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia mengalami kenaikan dari 49,68 persen pad...

Aug 21, 2026 - 22:06
0 0
Duta Literasi OJK Ajak Pelajar Rote Ndao Atur Uang Saku Sejak Dini

Berdasarkan data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia mengalami kenaikan dari 49,68 persen pada 2022 menjadi 65,43 persen pada 2024. Kendati tren nasional membaik, pemerataan pemahaman keuangan di daerah terdepan seperti Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, masih menjadi pekerjaan rumah yang panjang. Di titik inilah program duta literasi keuangan OJK hadir, kali ini menyasar para pelajar SMA Negeri 1 Rote Selatan dengan materi yang paling dekat dengan keseharian mereka: mengatur uang saku.

Uang Saku sebagai Portofolio Pertama Pelajar

Dalam sesi edukasi di SMA Negeri 1 Rote Selatan, para duta literasi keuangan OJK mengajarkan cara membagi uang saku harian ke dalam beberapa pos, mulai dari kebutuhan pokok, tabungan, hingga dana cadangan. Para siswa diajak mempraktikkan langsung simulasi pengelolaan, termasuk membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Konsep portofolio — istilah yang lazim dipakai untuk menggambarkan alokasi dana seorang investor — sengaja disederhanakan menjadi pembagian uang saku agar mudah dicerna pelajar. Dengan begitu, istilah ekonomi yang terdengar rumit berubah menjadi kebiasaan konkret yang bisa dijalankan setiap hari.

Pilihan materi ini dinilai strategis. Kebiasaan menabung dan prioritas keuangan yang dibangun sejak kecil cenderung bertahan hingga dewasa, sebagaimana ditunjukkan sejumlah studi perilaku keuangan. Semakin dini kebiasaan itu terbentuk, semakin kuat pula fondasi pengambilan keputusan finansial seseorang di masa depan.

Di Satu Sisi, Kebiasaan; Di Sisi Lain, Tantangan

Di satu sisi, edukasi pengelolaan uang saku dipandang sebagai investasi fundamental bagi kualitas sumber daya manusia. Pelajar yang terbiasa menabung dan menetapkan prioritas sejak sekolah diproyeksikan memiliki daya tahan finansial yang lebih baik saat memasuki dunia kerja. Pada skala yang lebih luas, menguatnya kebiasaan menabung rumah tangga turut memperkuat likuiditas domestik, mengurangi ketergantungan pada dana asing, dan menjadi bantalan ketika terjadi capital outflow atau gejolak ekonomi global. Singkatnya, literasi keuangan individu berujung pada ketahanan ekonomi nasional.

Di sisi lain, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa edukasi keuangan di bangku sekolah kerap berhenti pada tataran teori. Tanpa konsistensi dari orang tua dan lingkungan sekitar, materi pengaturan uang saku sulit berubah menjadi kebiasaan nyata. Ada pula kekhawatiran bahwa pengajaran yang terlalu berorientasi pada produk keuangan formal justru membingungkan siswa di daerah dengan keterbatasan akses layanan perbankan. Karena itu, keberlanjutan program dan pendampingan pasca-kegiatan menjadi kunci agar dampaknya tidak menguap begitu acara usai.

Catatan lain yang tak kalah penting: edukasi semacam ini tidak boleh terjebak pada sentimen sesaat atau sekadar seremonial. Ukuran keberhasilannya bukan pada ramainya acara, melainkan pada perubahan perilaku menabung yang terukur dalam jangka panjang.

Rasio Kecil, Dampak Besar

Salah satu konsep yang diperkenalkan adalah rasio tabungan, yakni perbandingan antara jumlah uang yang disisihkan dengan total uang saku yang diterima. Sebagai ilustrasi, jika seorang siswa menerima uang saku Rp50.000 per hari dan menyisihkan Rp5.000, rasio tabungannya mencapai 10 persen. Dalam 20 hari efektif sekolah, nominal itu mengumpul menjadi Rp100.000. Dalam setahun, proyeksinya menembus Rp1,2 juta — cukup untuk membeli buku, membayar biaya ujian, atau menjadi modal awal usaha kecil seusai sekolah.

Konsep valuasi juga disinggung secara sederhana: uang hari ini memiliki daya beli yang berbeda dengan uang di masa depan. Memahami hal ini sejak dini membuat pelajar lebih menghargai setiap rupiah yang dibelanjakan, sekaligus menyadari pentingnya menabung sebelum harga kebutuhan mengalami kenaikan. Inilah bekal yang tidak diajarkan dalam pelajaran biasa, tetapi justru paling sering dibutuhkan dalam kehidupan nyata.

Proyeksi ke Depan

Program serupa sejalan dengan Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia yang menargetkan peningkatan berkelanjutan pada indeks literasi dan inklusi keuangan masyarakat. OJK sebelumnya mencatat jumlah rekening pelajar melalui program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) mengalami kenaikan year-on-year, meski pertumbuhan itu perlu diimbangi dengan pemahaman pengelolaan keuangan yang makin baik.

Ke depan, proyeksi yang paling realistis adalah literasi keuangan tumbuh perlahan namun pasti, asalkan edukasi dilakukan berulang, kontekstual, dan melibatkan guru serta orang tua. Kabar baiknya, Rote Ndao kini resmi masuk dalam peta program itu — dan langkah kecil mengatur uang saku hari ini bisa menjadi fondasi besar bagi masa depan finansial para pelajarnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User