Sep 22, 2026
Bisnis

Dukun Mengaku Kenal Pejabat Istana, Raup Miliaran Rupiah

Kasus penipuan besar-besaran yang melibatkan seorang dukun perempuan di Jakarta akhirnya terbongkar. Dengan modus mengaku memiliki hubungan dekat dengan pengusaha kaya yang menjadi tamu tetap di Istan...

Dukun Mengaku Kenal Pejabat Istana, Raup Miliaran Rupiah

Kasus penipuan besar-besaran yang melibatkan seorang dukun perempuan di Jakarta akhirnya terbongkar. Dengan modus mengaku memiliki hubungan dekat dengan pengusaha kaya yang menjadi tamu tetap di Istana Negara, ia berhasil meraup keuntungan tidak sah hingga puluhan miliar rupiah dari para korban.

Awal Mula Kasus

Kegiatan spiritual wanita tersebut mulai terendus setelah beberapa korban melaporkan kerugian mereka ke pihak berwajib. Menurut informasi yang dihimpun, pelaku menggunakan kedok praktik supranatural untuk menjerat korbannya. Ia membangun citra sebagai dukun kenamaan yang konon dapat memberikan jalan pintas menuju kemakmuran. Dalam setiap sesi konsultasi, ia selalu menyinggung kedekatannya dengan tokoh kaya raya dari lingkungan Istana, yang diklaim sebagai sumber kekuatan spiritualnya. Klaim ini dengan cerdik dimanfaatkan untuk meningkatkan kepercayaan para pasiennya bahwa ia memiliki akses eksklusif ke kekuasaan dan kemewahan.

Modus Operandi yang Licik

Modus yang digunakan sangat terstruktur dan mengincar sisi emosional korban. Sang dukun biasanya akan bercerita tentang seorang 'bos besar' yang sering ia tangani dan membantu urusan keuangan. Ia menyebut bos tersebut memiliki koneksi langsung dengan Istana Negara dan berkat bantuan spiritual darinya, bos itu sukses mengelola bisnis raksasa. Untuk meyakinkan calon korban, dukun ini menunjukkan foto-foto dan dokumen yang seolah-olah menjadi bukti kedekatannya dengan tokoh tersebut. Beberapa barang mewah juga dipamerkan sebagai hasil dari ritual yang telah ia lakukan. Kemudian, ia menawarkan jasa serupa kepada klien: ritual penarikan rezeki, penggandaan uang, atau penyelesaian masalah utang, semua dengan imbalan dana besar yang harus diserahkan sebagai mahar atau sesajen khusus. Beberapa korban bahkan diminta menjual aset seperti tanah dan kendaraan untuk memenuhi permintaan pelaku. Total kerugian yang dilaporkan mencapai puluhan miliar rupiah.

Korban dan Kerugian

Korban penipuan ini tersebar dari berbagai kalangan, mulai dari pengusaha kecil hingga ibu rumah tangga. Banyak dari mereka tertipu karena sedang dalam kondisi terdesak secara ekonomi dan putus asa mencari solusi instan. Salah seorang korban yang enggan disebut namanya mengaku menyerahkan dana hampir Rp5 miliar selama kurun waktu dua tahun. Ia bercerita bahwa awalnya hanya datang untuk konsultasi ringan, namun lama-kelamaan diyakinkan untuk mengikuti ritual besar-besaran. Dana itu katanya digunakan untuk membeli perlengkapan upacara dan sebagai 'uang penglaris' yang konon akan dikembalikan berlipat ganda. Kenyataannya, tidak ada satupun janji tersebut yang terwujud. Korban lain bahkan sampai meminjam uang dari rentenir untuk memenuhi permintaan si dukun, dan kini terjebak dalam utang. Hingga saat ini, sudah ada lebih dari 50 laporan resmi yang diterima kepolisian, dan jumlah tersebut diperkirakan masih akan bertambah.

Tanggapan Pihak Berwajib

Pihak kepolisian menyatakan tengah mendalami kasus ini dan memburu pelaku yang diduga kuat sudah melarikan diri. Beberapa barang bukti seperti peralatan ritual, buku catatan korban, dan barang-barang mewah telah diamankan dari kediaman dukun tersebut. Kepolisian juga berkoordinasi dengan pihak Istana untuk memastikan bahwa sosok yang disebut-sebut tidak memiliki hubungan apapun dengan pelaku. Seorang petugas menegaskan bahwa klaim kedekatan dengan tokoh Istana tersebut murni bohong dan dijadikan alat manipulasi psikologis. Kasus ini dijerat dengan pasal penipuan dan penggelapan dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.

Pelajaran Bagi Masyarakat

Kejadian ini menjadi pengingat betapa praktik perdukunan dengan janji kekayaan instan masih sangat rentan dimanfaatkan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Sosiolog dari Universitas Indonesia menilai bahwa faktor tekanan ekonomi membuat masyarakat lebih mudah percaya pada solusi supranatural yang tidak logis. Ia menghimbau agar publik selalu bersikap rasional dan memeriksa kebenaran setiap klaim luar biasa, terutama yang melibatkan simbol-simbol kekuasaan seperti Istana Negara. Pemerintah juga diminta untuk lebih gencar memberikan edukasi keuangan dan literasi digital kepada masyarakat agar tidak mudah terjebak dalam bujuk rayu pelaku penipuan bermodus spiritual.

Kini, puluhan korban masih menanti kepastian hukum. Mereka berharap aset yang telah disita dari pelaku dapat dikembalikan, meski peluangnya kecil. Sementara itu, jagat media sosial diramaikan dengan diskusi publik soal keluguan para korban dan ketajaman modus si dukun. Warganet pun ramai-ramai membagikan pengalaman agar tidak ada lagi yang menjadi mangsa penipuan serupa di masa mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User