Oct 05, 2026
Bisnis

Dua Sisi Transisi Hijau Lima Sektor

Berdasarkan data BPS/Bank Indonesia/OJK per 30 September 2024, perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah tekanan global. Produk Domestik Bruto (PDB, yaitu nilai total barang dan jas...

Dua Sisi Transisi Hijau Lima Sektor

Berdasarkan data BPS/Bank Indonesia/OJK per 30 September 2024, perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah tekanan global. Produk Domestik Bruto (PDB, yaitu nilai total barang dan jasa yang dihasilkan dalam suatu negara) mengalami kenaikan sebesar 4,95% year-on-year, meski melambat dibandingkan periode yang sama tahun 2023 yang tercatat sebesar 5,05%. Di tengah perlambatan ini, tren transisi menuju ekonomi rendah karbon (ekonomi yang berupaya mengurangi emisi gas rumah kaca) mulai memengaruhi fundamental (kondisi dasar ekonomi suatu sektor atau negara) dari berbagai lini industri. Perubahan ini tidak hanya berdampak terhadap sentimen pasar (pandangan kolektif pelaku pasar terhadap prospek ekonomi), namun juga terhadap likuiditas (kemudahan suatu aset untuk dikonversi menjadi uang tunai), rasio (perbandingan angka untuk menilai kondisi keuangan), valuasi (penilaian wajar atas suatu aset atau perusahaan), indeks (ukuran gabungan yang mencerminkan pergerakan pasar), portofolio (kumpulan aset yang dimiliki), serta potensi capital outflow (arus keluar modal asing dari suatu negara).

Perubahan Global yang Mendorong Tekanan

Di satu sisi, tekanan untuk menerapkan praktik berkelanjutan telah menjadi bagian dari arsitektur perdagangan global. Berdasarkan data Organisasi Perdagangan Dunia, sebanyak 71% dari total perdagangan barang global kini telah terhubung dengan setidaknya satu kebijakan hijau yang diterapkan oleh mitra dagang. Hal ini turut mendorong proyeksi (perkiraan kondisi di masa depan berdasarkan data yang ada) alokasi modal hijau dunia yang diperkirakan dapat mencapai USD 9,2 triliun pada tahun 2030, meningkat signifikan dibandingkan tahun 2022 yang tercatat sebesar USD 5,8 triliun. Tekanan tersebut memberikan insentif bagi korporasi untuk menyesuaikan rantai pasok, khususnya bagi negara eksportir seperti Indonesia. Di sisi lain, penyesuaian ini tidak terlepas dari biaya. Berdasarkan data Bank Indonesia, biaya transisi dapat membebani neraca korporasi dalam jangka pendek, khususnya bagi industri yang memiliki rasio utang terhadap ekuitas (perbandingan utang dan modal sendiri) yang tinggi. Kondisi ini berpotensi menekan likuiditas dan memperlemah sentimen pasar apabila tidak diimbangi dengan peningkatan efisiensi.

Lima Sektor yang Berpotensi Mengalami Perubahan

Berbagai sektor di Indonesia diperkirakan akan mengalami kenaikan maupun penurunan tekanan akibat tren keberlanjutan. Pertama, sektor energi. Di satu sisi, kebutuhan untuk memperluas bauran energi terbarukan (energi yang dapat diperbarui secara alami) menjadi krusial, mengingat target bauran energi baru dan terbarukan Indonesia yang ditetapkan sebesar 23% pada tahun 2025. Namun, di sisi lain, sektor batu bara masih berkontribusi terhadap 67% dari total pembangkitan listrik nasional per 2023, sehingga proses pergeseran ini berpotensi memengaruhi valuasi aset yang telah ada dan menimbulkan risiko terhadap lapangan kerja. Kedua, sektor pertanian. Tren permintaan global terhadap produk ramah lingkungan telah mendorong peningkatan sertifikasi berkelanjutan, dengan nilai ekspor produk pertanian berorientasi hijau Indonesia mengalami kenaikan sebesar 12,7% year-on-year per semester pertama 2024. Di sisi lain, perubahan iklim telah menyebabkan penurunan produktivitas padi nasional sebesar 1,3% year-on-year pada tahun 2023, yang dapat membebani fundamental sektor ini. Ketiga, sektor manufaktur. Di satu sisi, penerapan teknologi rendah karbon dapat meningkatkan daya saing, khususnya untuk produk yang diekspor ke kawasan dengan kebijakan karbon batas (mekanisme pembatasan emisi untuk barang impor). Di sisi lain, rasio biaya energi terhadap nilai tambah manufaktur masih berada di kisaran 15,8%, sehingga investasi awal dapat menekan margin (selisih antara pendapatan dan biaya) dalam jangka pendek. Keempat, sektor transportasi. Proyeksi elektrifikasi kendaraan bermotor dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar, dimana impor BBM masih menyerap sekitar 22% dari total impor non-migas Indonesia per 2023. Namun, di sisi lain, infrastruktur pengisian daya yang masih terbatas dan harga kendaraan listrik yang relatif tinggi dapat memperlambat adopsi, sehingga dampaknya terhadap indeks sektor transportasi baru akan terasakan secara bertahap. Kelima, sektor properti dan konstruksi. Di satu sisi, bangunan hijau (bangunan yang dirancang untuk mengurangi dampak lingkungan) berpotensi menurunkan biaya operasional hingga 30% dalam jangka panjang. Di sisi lain, biaya konstruksi awal dapat mengalami kenaikan antara 5% hingga 10%, yang dapat memengaruhi valuasi proyek dan membatasi likuiditas bagi pengembang skala menengah.

Dampak Terhadap Pasar Keuangan

Perubahan lintas sektor tersebut turut tercermin pada pasar keuangan. Berdasarkan data OJK per 30 September 2024, nilai penerbitan obligasi berwawasan lingkungan (obligasi yang dana penggunaannya dialokasikan untuk proyek ramah lingkungan) di Indonesia telah mencapai Rp 56,2 triliun, meningkat sebesar 38,5% year-on-year. Peningkatan ini turut memengaruhi komposisi portofolio investor, dimana sentimen pasar terhadap instrumen berkelanjutan mengalami pergeseran positif. Namun, di sisi lain, tekanan suku bunga global masih berpotensi memicu capital outflow. Bank Indonesia mencatat arus modal keluar bersih dari pasar obligasi domestik sebesar Rp 31,4 triliun pada kuartal ketiga 2024, yang berpotensi membatasi likuiditas domestik dan menekan indeks pasar saham. Kondisi ini menunjukkan bahwa transisi hijau tidak dapat dilepaskan dari dinamika moneter global.

"Transisi menuju ekonomi rendah karbon merupakan keniscayaan struktural, namun kecepatan pelaksanaannya perlu diseimbangkan dengan kapasitas fundamental perekonomian domestik agar tidak menciptakan tekanan berlebihan terhadap likuiditas dan stabilitas makro." - Ekonom Senior, mantan analis bank investasi.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, tren keberlanjutan telah menjadi faktor struktural yang akan terus memengaruhi lima sektor strategis di Indonesia. Di satu sisi, penyesuaian ini membuka peluang untuk meningkatkan daya saing, diversifikasi portofolio, serta perbaikan rasio efisiensi jangka panjang. Di sisi lain, tantangan berupa biaya awal, penurunan produktivitas, serta potensi capital outflow masih menjadi hambatan yang perlu diperhitungkan. Dengan proyeksi PDB yang masih berada di kisaran 4,8% hingga 5,1% untuk tahun 2025 berdasarkan berbagai skenario Bank Indonesia, kecepatan transisi akan menjadi variabel krusial. Yang terpenting, keberhasilan transisi ini tidak akan diukur dari seberapa cepat pergeseran terjadi, melainkan dari seberapa seimbang pergeseran tersebut dapat menjaga stabilitas makro, sentimen pasar, dan daya tahan fundamental perekonomian Indonesia secara berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User