Oct 05, 2026
Bisnis

Dinamika Ekonomi di Balik Peran Baru Wamenko Perekonomian

Berdasarkan data BPS, Bank Indonesia, dan OJK per Agustus 2025, perekonomian Indonesia masih menunjukkan tren pemulihan yang terbatas. Pertumbuhan ekonomi tercatat mengalami kenaikan year-on-year sebe...

Dinamika Ekonomi di Balik Peran Baru Wamenko Perekonomian

Berdasarkan data BPS, Bank Indonesia, dan OJK per Agustus 2025, perekonomian Indonesia masih menunjukkan tren pemulihan yang terbatas. Pertumbuhan ekonomi tercatat mengalami kenaikan year-on-year sebesar 4,95%, angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan capaian 5,31% pada periode yang sama di tahun 2023. Di tengah kondisi ini, indeks harga konsumen mengalami kenaikan sebesar 2,37% year-on-year, masih berada dalam kisaran sasaran inflasi Bank Indonesia yaitu 1,5% hingga 3,5%. Namun, fundamental ekonomi domestik masih dihadapkan pada sejumlah tekanan, seperti melemahnya sentimen pasar global, potensi capital outflow (arus keluar modal asing) dari pasar keuangan, serta terbatasnya likuiditas (ketersediaan dana yang mudah diperdagangkan) di sejumlah sektor. Kondisi makro tersebut menjadi latar belakang penting atas dinamika perpolitikan yang turut berdampak terhadap arah kebijakan ekonomi, termasuk dalam pembentukan jajaran pemerintahan terbaru.

Pengalaman Kebijakan yang Berpotensi Memperkuat Arah Ekonomi

Di satu sisi, penunjukan Dradjad Hari Wibowo sebagai Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dapat dilihat sebagai langkah yang berlandaskan pada pengalaman dalam perumusan kebijakan. Sejak beberapa tahun terakhir, peran dalam penyusunan gagasan ekonomi telah menjadi bagian dari proses politik, khususnya dalam merumuskan berbagai program yang berkaitan dengan sektor riil, ketenagakerjaan, serta pembiayaan pembangunan. Pengalaman tersebut berpotensi membantu dalam menjaga konsistensi antara janji politik dengan langkah kebijakan yang terukur. Dari sisi fundamental (kekuatan dasar perekonomian suatu negara), konsistensi arah kebijakan menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan pelaku usaha. Hal ini dapat berpengaruh terhadap valuasi (penilaian atas nilai suatu aset atau sektor ekonomi) dari berbagai instrumen investasi domestik, serta menjaga stabilitas portofolio (kumpulan aset yang dimiliki oleh investor atau lembaga) yang berfokus pada pasar Indonesia. Dengan adanya figur yang telah terbiasa dengan diskusi kebijakan, proses koordinasi antar kementerian dan lembaga terkait bidang ekonomi berpotensi berjalan lebih terarah, terutama dalam merespons tekanan makro yang saat ini masih bersifat global.

Tantangan Politik dan Risiko Sentimen Pasar

Di sisi lain, peran politik yang kuat dari seorang tokoh tidak serta merta menjamin efektivitas pelaksanaan kebijakan di lapangan. Dalam sistem pemerintahan, koordinasi ekonomi membutuhkan kemampuan teknokratis yang mampu menjembatani berbagai kepentingan, tanpa mengesampingkan rasio (perbandingan angka yang digunakan untuk menilai kondisi keuangan atau ekonomi) keberlanjutan fiskal dan moneter. Berdasarkan proyeksi Bank Indonesia, tekanan eksternal masih akan berlanjut hingga akhir tahun 2025, dengan potensi capital outflow yang dapat mencapai kisaran 1,2 miliar dolar AS apabila suku bunga acuan Amerika Serikat tetap tinggi. Tekanan ini dapat memperlemah nilai tukar rupiah dan membatasi likuiditas domestik. Sentimen pasar (persepsi kolektif pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi atau politik) kerap bereaksi cepat terhadap perubahan figur kebijakan, terutama apabila terdapat ekspektasi yang berlebihan terhadap langkah-langkah populis. Oleh karena itu, tantangan terbesar bukan hanya pada perumusan kebijakan, tetapi juga pada kemampuan untuk menjaga ekspektasi publik dan pasar agar tetap realistis dengan kondisi fundamental yang ada.

Menjaga Keseimbangan di Tengah Tekanan Ekonomi

Perpaduan antara pengalaman politik dan kebutuhan teknokratis menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan kebijakan. Di tengah tren perlambatan pertumbuhan global yang diproyeksikan oleh Dana Moneter Internasional sebesar 3,2% pada tahun 2025, Indonesia tidak dapat hanya bergantung pada konsumsi domestik untuk mendorong pertumbuhan. Diperlukan langkah terkoordinasi untuk meningkatkan produktivitas, memperluas basis penerimaan negara, serta menjaga daya saing ekspor. Hal ini menjadi penting mengingat rasio investasi terhadap produk domestik bruto masih berada di angka 30,1% berdasarkan data BPS per kuartal kedua tahun 2025, angka yang perlu terus ditingkatkan untuk mencapai target pertumbuhan jangka menengah. Pada akhirnya, efektivitas peran Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian akan diukur bukan dari latar belakang politik semata, melainkan dari kemampuan untuk merespons tekanan makro secara terukur, menjaga stabilitas, serta memastikan bahwa kebijakan yang diambil tetap berorientasi pada perbaikan fundamental ekonomi untuk jangka panjang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User